Dunia Kampus Saat Pandemi, Ketika Dosen dan Mahasiswa Terpisah Layar Monitor

Tim Okezone, Okezone · Selasa 02 Februari 2021 16:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 02 65 2355243 dunia-kampus-saat-pandemi-ketika-dosen-dan-mahasiswa-terpisah-layar-monitor-s8JRPVszyr.jpg Kuliah semasa pandemi Covid-19. (Foto:Ilustrasi/Freepik)

SEPERTI yang diketahui, Covid-19 telah membuat kita beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah di bidang pendidikan.

Tercatat per 15 Juni 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran yang menyatakan bahwa pembelajaran pada daerah zona kuning, oranye, dan merah tidak diperbolehkan untuk dilakukan secara tatap muka.

Baca Juga: Danang Giri Sadewa Ungkap Hal-Hal yang Bikin Enggak Lolos SNMPTN

Sistem Pembelajaran pada Perguruan Tinggi wajib dilakukan secara online untuk mata kuliah teori, dan untuk mata kuliah praktik jika tidak dapat dilakukan secara online maka sebisa mungkin dapat dijadwalkan untuk akhir semester.

Perguruan tinggi juga hanya dapat membuka aktivitas kampusnya apabila mahasiswa dan semua pihak yang bersangkutan sudah menerapkan protokol kesehatan.

Tentu, hal yang mendadak seperti ini membuat kedua belah pihak memiliki persiapan minim yang membuat pelaksanaannya juga tidak bisa semaksimal kuliah tatap muka. Misalnya, koneksi internet, sistem penilaian, sistem absen, dan kompatibilitas gawai. Menjadi faktor eksternal yang menghambat sistem pembelajaran.

Baca Juga: Jangan Lupa, Penutupan Registrasi Akun LTMPT Hari Ini Pukul 15.00 WIB

Semua yang mendadak serba online tentu mempunyai banyak kekurangan, baik dari pihak pengajar maupun pihak pelajar. Dosen yang tidak familiar dengan teknologi tentu akan sangat kesusahan walaupun hanya sekedar melakukan video call.

Sistem penilaian dan tugas-tugas juga akan terasa memberatkan para mahasiswa dikarenakan sudah tidak ada lagi cara untuk dosen untuk menilai keaktifan para mahasiswanya kecuali dengan tugas.

Sistem belajar dengan video conference (seperti Zoom dan Google Meet) tidaklah seefektif kuliah secara tatap muka, interaksi antara dosen dan mahasiswa pun dibatasi oleh layar teknologi.

Kondisi ini yang membuat rasa pembelajaran itu hilang. Mungkin ini adalah bukti nyata bahwa teknologi tidak dapat menggantikan interaksi sosial, persis seperti kutipan dari Einstein yang menyatakan “I fear the day technology will surpass human interaction. The world will have a generation of idiots.”

Walaupun terlihat mudah dan praktis, justru itulah yang membuatnya tidak efektif. Dengan iming-iming mudah dan praktis itulah yang membuat beberapa oknum menyepelekan pembelajaran online tersebut, dari misalkan dosen yang hanya asal memberikan tugas sementara mahasiswa hanya menghadiri Video conference, tapi disambi dengan aktivitas lain.

Brandon M Wijaya (23), seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta pun angkat bicara mengenai pembelajaran online.

“Tidak efektif. Saya pribadi kurang niat belajar karena berasa libur terus karena dilakukan di rumah. Kedisiplinan dosen saat online terlalu lebay dan tidak berguna, sistem tugas ribet dan menyusahkan mahasiswa,” ucapnya.

Sementara seorang mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi Tangerang Selatan berpendapat, “Karena kita belajar di rumah esensi dari kuliah atau belajar dikelas sudah hilang. Masalah koneksi, interaksi efektif, kurangnya visualisasi materi dosen yang diajarkan ke kita,” ujar Fajar Fadhil A Putranto (19) mengisahkan tentang keluh kesah pembelajaran online.

Situasi seperti ini memang meresahkan, namun seperti itulah kondisi yang harus dijalani dikarenakan tidak ada pilihan lain selain mengikuti protokol dari pemerintah dan dengan penuh harapan bahwa pandemi ini segera usai.

Oleh:

Diko Anand Prasetyomo, Mahasiswa Jurusan Marketing Communication Semester 3,

Binus Alam Sutera

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini