Gubernur Sulsel Tegaskan Pulau Lantigiang Tidak Dijual

Leo Muhammad Nur, iNews · Rabu 03 Februari 2021 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 03 609 2355934 gubernur-sulsel-tegaskan-pulau-lantigiang-tidak-dijual-SWbTHgxkbF.jpg Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. (Foto : iNews/Leo Muhammad Nur)

MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah, meninjau langsung ke Pulau Lantigiang usai menerima laporan bahwa pulau yang berada di Kepulauan Selayar ini diperjual-belikan. Saat meninjau pulau tersebut, Gubernur Sulsel menegaskan Pulau Lantigiang tidak jadi dijual.

Dengan menggunakan helikopter, Gubernur meninjau Pulau Lantigiang didampingi Bupati Selayar, Muhammad Basli Ali, Rabu (3/2/2021).

Pulau ini secara administrasi berada di wilayah Desa Jinato, kawasan Taman Nasional Takabonerate. Pulau ini memiliki luas pulau sekira 5,6 hektare. Nurdin menyebutkan, pulau itu memiliki atol yang menarik.

Pulau didominasi tumbuhan jenis cemara laut, santigi pasir, dan ketapang serta menjadi tempat bertelur satwa luar dilindungi jenis penyu.

"Jadi, saya kira pulaunya sendiri, saya kira tidak akan mungkin untuk dibeli oleh siapapun. Karena sudah menjadi kawasan nasional," kata Nurdin Abdullah.

Ia menjelaskan, warga masyarakat Selayar menikah dengan orang Jerman. Kemudian mencoba melakukan negosiasi pembelian dengan kepala desa.

Baca Juga : Polisi Turun Tangan Usut Kasus Dugaan Jual-Beli Pulau Lantigiang di Selayar

Ia menegaskan, pulau ini telah kembali secara utuh dan sekarang dalam proses hukum. Terdapat rencana bahwa pulau tersebut akan dibangun resort di atas atol.

"Saya kira soal pulau kita, insyaallah itu tidak akan mungkin bisa diperjual-belikan. Kepada seluruh masyarakat, saya berharap Taman Nasional Takabonerate ini adalah kawasan strategis yang tentu kita lindungi," tuturnya.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Belum Dapat Laporan soal Penjualan Pulau Lantigiang Selayar Senilai Rp900 Juta

Ia melanjutkan, Bupati Selayar telah mengambil langkah-langkah dan sekarang kasusnya ditangani pihak kepolisian. Transaksi awal yang dilakukan adalah dengan panjar Rp10 juta dari dugaan penjualan pulau seharga Rp900 juta.

"Pulaunya sendiri tidak jadi (dijual). Karena memang baru panjar Rp10 juta. Dan tidak akan mungkin ada aparatur pemerintah yang bisa membuat transaksi itu. Makanya, saya datang ke sana memastikan," ucapanya.

Nurdin menegaskan, Pulau Lantigiang masih alami. Ia membantah pulau itu dimiliki warga. Warga mengklaim lahan dengan dasar telah menanam pohon kelapa di sana.

"Tadi mengecek itu masih alami, tidak ada sentuhan-sentuhan manusia. Kalau ada yang mengatakan mereka turun temurun, (punya) kelapa dan sebagainya, itu tidak ada," ujarnya.

Selain mengunjungi Pulau Lantigiang, Nurdin juga melakukan kunjungan ke Pulau Kayuadi untuk melihat rencana pembangunan air port. Sebagai infrastruktur pendukung pariwisata.

"Kami juga mengunjungi Kayuadi untuk melihat rencana pembangunan air port karena memang terdapat atol terbesar ketiga dunia, itu ada di Taka Bonerate. Itu akses menuju ke Taman Nasional. Ini luar biasa taman nasional kita. Saya berharap pembangunan air port yang sudah dilakukan sebelumnya. Itu akan rencana kita akan melanjutkan," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini