Inspiratif, Nur Fitri Alumnus UNS Jadi Kepala Sekolah di Usia 26 Tahun

Neneng Zubaidah, Koran SI · Kamis 04 Februari 2021 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 65 2356446 inspiratif-nur-fitri-alumnus-uns-jadi-kepala-sekolah-di-usia-26-tahun-LfdBFWfHtO.jpg Nur Fitri Fatimah menjadi kepala sekolah dasar termuda di usianya 26 tahun. (Foto:Humas UNS)

JAKARTA- Luar biasa, lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi kepala sekolah dasar  termuda di usia 26 tahun.

Dia adalah Nur Fitri Fatimah. Lulusan prodi Pendidikan Kimia FKIP yang lulus pada tahun 2016 lalu ini menjadi kepala sekolah dasar di usia muda. Nur kini berusia 26 tahun dan menjadi kepala sekolah di SD Muhammadiyah Baitul Fallah (MBF) yang terletak di Bancak 1, RT 1/RW 2, Bancak 2, Gebyog, Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.

Perempuan asal Karanganyar ini menuturkan, cikal bakal berdirinya MBF adalah terbentuknya Sekolah Tani Organik Intan Pari (STOIP) yang digagas oleh Forum Mahasiswa Islam Karangayar (Formaiska) pada tahun 2016 silam.

Baca Juga: Pengembangan Vaksin Merah Putih Terkendala Kesiapan Industri

Setelah berjalan beberapa saat, terdapat tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi yang dipercayakan untuk kebermanfaatan sosial oleh seseorang. Tanah ini pun, kemudian dimanfaatkan oleh Pipit, panggilan akrabnya, beserta teman-temannya untuk memulai pembangunan SD MBF.

Pipit dan tim mulai merintis SD MBF sejak awal dengan semangat perbaikan pendidikan yang ada di Indonesia. “Saya ingin turut serta memperbaiki pendidikan di Indonesia,” katanya seperti dikutip dari laman resmi UNS, Kamis (4/2/2021)

Baca Juga: Sekelompok Mahasiswa Ini Jual Nasi Bungkus Cuma Rp1.000 di TPA Sampah

Setelah pembangunan sekolah usai, dengan persetujuan bersama, Pipit diangkat menjadi kepsek pertama di SD MBF di usianya yang masih belia yakni 24 tahun. Selama menjadi kepsek, telah terdapat capaian yang membanggakan bagi SD MBF.

Pada Desember tahun lalu, salah satu siswa mereka yang duduk di bangku kelas 1 SD berhasil menyabet penghargaan pada ajang Thailand International Math Olimpiade. Dengan usia sekolah yang masih muda, tentu hal tersebut menjadi kebanggaan sendiri.

Pipit juga mengaku, pengalaman paling berkesan selama menjadi kepsek adalah ketika mengelola SDM di dalam timnya. Ia harus mempelajari banyak karakter manusia dan bagaimana cara menghadapinya. Di situ, terdapat tantangan dalam harmonisasi SDM yang harus ia selesaikan.

Untuk mengatasi itu semua, Pipit selalu berusaha menjaga dirinya sendiri agar dalam keadaan yang teratur, terus menjaga diri agar selalu berpikir dan bertindak positif. Dengan SDM yang kompak, Pipit merasa keberjalanan program-program di SD MBF pun akan lebih lancar. Dalam bekerja, Pipit selalu juga menekankan untuk bekerja dengan ikhlas.

Kegigihan Pipit juga tercermin dengan semangatnya menempuh perjalanan dari rumah menuju SD MBF yang memakan waktu 90 menit. Pipit juga harus berjuang untuk melakukan manajerial keuangan yang baik. Juga, perlu upaya lebih untuk membumikan pendidikan yang terletak di desa, bukan kota.

Untuk meningkatkan keterampilan pengajar di SD MBF, Pipit melakukan beberapa kegiatan yang bermanfaat. Seperti workshop, ikut serta dalam suatu lomba, bahkan, Pipit juga mengajak para pengajar untuk menulis buku dan membuat target paling tidak setahun harus sudah merilis 2 buku yang dikerjakan bersama-sama.

Saat diwawancara, Pipit juga mengenang masa kecilnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar. Selama itu pula, orangtua Pipit setia menemani di sampingnya. Bahkan, ia pernah tidur larut pada pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Pipit mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan baiknya selama ini dapat terbentuk karena dimulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu.

Perempuan yang sekarang menempuh pendidikan pada program Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini, memiliki motto hidup “man jadda wa jada” yang berarti barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Ia menanamkan kalimat tersebut pada dirinya sendiri.

Sementara, untuk lecutan motivasi pada kehidupan sosialnya, Pipit memegang kalimat “khoirunnas anfa’uhum linnas” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dari situ, ia semakin gigih dalam menyebarkan hal baik di masyarakat baik dalam bidang pendidikan maupun pengabdian sosial.

Pada akhir sesi wawancara, Pipit mengaku bangga sebagai alumnus UNS dan mengajak generasi muda UNS untuk bersemangat menggapai mimpi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini