Awas Penipuan Jual Beli GeNose Via e-Commerce

Vitriada Hilba Siregar, Okezone · Selasa 09 Februari 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 65 2358709 awas-penipuan-jual-beli-genose-via-e-commerce-6dkEihkyP6.jpg GeNose karya anak bangsa, banyak dijualbelikan dengan harga yang tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi. (Foto: UGM)

JAKARTA - Alat skrining Covid-19 karya UGM, GeNose C19, tengah menjadi sorotan masyarakat. Namun, ada saja yang jahil mengambil keuntungan di tengah Pandemi.

Banyak dari mereka yang mengapresiasi GeNose C19 karena lebih praktis, tidak sakit dan murah dibanding alat skrining Covid-19 lainnya. Sayangnya, usai memperoleh izin edar dan dipasarkan, beberapa pihak justru mengambil keuntungan dari GeNose terutama tentang penetapan harga jual di pasaran yang beragam. Salah satunya seperti yang dijual di salah satu situs belanja online tanah air baru-baru.

Baca Juga : GeNose Bisa Lakukan 100 Ribu Tes Skrining Covid-19

“Di sana terlihat GeNose dijual dengan harga beragam. Ada yang Rp75 juta, Rp80 juta bahkan Rp90 juta,” papar Direktur Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM Dr Hargo Utomo, MBA, seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (9/2/2021).

Baca Juga : GeNose Mulai Diterapkan, Penumpang Kereta Tak Perlu Rapid Antigen

Hargo menegaskan distribusi GeNose sudah dikelola oleh PT Swayasa Prakarsa. Saat ini telah ada 3 distributor resmi GeNose C19 dan menyusul 3 distributor lainnya. Hargo juga menjelaskan Harga Eceran Tertinggi (HET) GeNose sebesar Rp 62 juta per unit (sebelum dikenakan pajak).

“Harganya sudah ditentukan dan tidak diperbolehkan menjual di atas harga tersebut,” tegas Hargo.

Untuk itu Hargo berharap agar masyarakat berhati-hati dan waspada dengan tawaran untuk membeli GeNose selain melalui distributor resmi yang ditunjuk. Saat ini, GeNose juga belum ditawarkan melalui situs belanja online.


Hargo yang juga mewakili UGM Science Techno Park menambahkan pemasaran GeNose C19 saat ini diprioritaskan untuk penanggulangan Covid-19 pada layanan kesehatan, rumah sakit, layanan publik, pemerintahan, sekolah, pesantren, kampus dan perusahaan/industri.

“Dalam tahap ini belum diprioritaskan untuk skala rumah tangga atau perseorangan,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini