Mendirikan Rintisan Start Up, Mahasiswa Perlu Perhatikan Hal Ini

Aan haryono, Koran SI · Selasa 09 Februari 2021 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 09 65 2359180 mendirikan-rintisan-start-up-mahasiswa-perlu-perhatikan-hal-ini-GpZncAcnPm.jpg Mahasiwa mendirikan rintisan start up. (Foto:Freepik)

SURABAYA – Mendirikan rintasan start up banyak dilakukan mahasiwa. Namun ada beberapa hal yang luput diperhatikan.

Ketua Bidang Inkubator Bisnis dan Teknologi di Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inovasi (BPBRIN) Universitas Airlangga (Unair) Dr. Achsania Hendratmi pun memberikan sejumlah saran.

Dia mengatakan, ketika membangun start up tidak hanya bermodalkan ide bisnis yang telah tervalidasi saja. Ada juga upaya memecahkan permasalahan masyarakat, atau niat dan mental tahan banting yang kuat. Selain itu, masih terdapat banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh seseorang yang ingin mendirikan start up.

Baca Juga: Tiga Mahasiswi IPB University Gagas Resilient Ecotone untuk Keberlanjutan Hutan

Para pendiri start up perlu mempersiapkan berbagai hal. Salah satunya adalah anggota tim yang baik, model bisnis, proyeksi finansial, intellectual property, hingga link kepada mentor, inkubator, dan akselerasor bisnis.

Memilih tim menjadi hal krusial dalam membangun start up. Anggota tim yang baik adalah anggota dengan kompetensi yang sesuai dengan fungsi dan bidang kerjanya, memiliki visi yang sama, dapat membangun komunikasi dan koordinasi yang baik, dan memastikan bisnis rintisan atau start up dijalankan dengan kerja tim yang baik.

Baca Juga: LTMPT Perpanjang Waktu Finalisasi PDSS

“Hal yang umum terjadi dalam business matching dengan investor atau angel capital seringkali adalah komposisi tim menjadi perhatian penting,” kata Achsania, Selasa (9/2/2021).

Ia melanjutkan, model bisnis atau business model juga mnejadi faktor penting. Kegiatan ini berupa penyusunan suatu tahapan atau kerangka bagaimana suatu bisnis menciptakan revenue. Business model seringkali digunakan untuk penyederhanaan business plan.

Menurut Achsania, tren start up saat ini adalah menyusun business model dengan menggunakan metode BMC (Business Model Canvas). “Business model bukanlah suatu kerangka yang permanen. Pebisnis harus terus memperbaiki model bisnisnya seiring dengan perubahan-perubahan eksternal yang cepat,” ucapnya.

Selanjutnya, katanya, permasalahan yang sering terjadi pada mahasiswa yang merintis start up adalah paradigma jalan dulu saja, kalau sudah besar baru buat proyeksi keuangan.

Paradigma tersebut kurang tepat karena memulai start up di tahap awal juga perlu mempersiapkan financial projection atau proyeksi keuangan.

Financial projection biasanya terdiri dari forecast neraca, laporan rugi-laba, dan forecast arus kas. Selain itu, hal yang paling penting adalah analisa investasi untuk mengetahui break event point (BEP), payback period, dan perhitungan yang lain.

Baca Juga:  Farid Hendro Ciptakan Ban Tanpa Udara dan Anti Kempes, Berminat?

Ia juga membeberkan, persiapan intellectual property seringkali dilupakan atau bahkan tidak terpikirkan oleh para pendiri start up khususnya mahasiswa. Hal tersebut karena menurut mereka, bisnisnya masih kecil sehingga tidak perlu ada badan hukum dan tidak perlu memikirkan paten untuk formula atau temuan tertentu.

Bagi Aschania, persepsi tersebut adalah hal salah. Menurunya, jika memang serius membangun start up maka intellectual property atau HAKI harus diperhatikan. “Sederhananya, bagaimana badan hukum perusahaan. Termasuk apakah merek produk sudah didaftarkan,” lanjutnya.

Hal tersebut penting diperhatikan terlebih oleh CEO start up. CEO perusahaan pemula harus berpandangan jauh ke depan terkait melindungi bisnisnya.

Intellectual property itu sendiri biasanya meliputi copyrights, trademark, patent, trade secret dan lain sebagainya. Intellectual property merupakan business tools yang penting terutama untuk memperkuat keunggulan kompetitif dan melindungi bisnis ke depan.

Selain itu, tambahnya, perusahaan rintisan atau pemula membutuhkan mentoring dari mentor-mentor yang tepat. Hal tersebut karena karena pada umumnya perusahaan pemula sangat rentan terhadap kegagalan atau kebangkrutan terutama di fase awal pendirian. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini