Etika Berkomunikasi Melalui WhatsApp dengan Dosen, Begini Kata Psikolog Unair

Aan Haryono (Koran Sindo), Koran SI · Rabu 10 Februari 2021 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 10 65 2359926 etika-berkomunikasi-melalui-whatsapp-dengan-dosen-begini-kata-psikolog-unair-OfAj4AASvf.jpg Psikolog Unair Dr. Dewi Retno Suminar M.Si. (Foto:Unair)

SURABAYA - Etika berkomunikasi melalui WhatsApp dengan dosen di saat kuliah online ada hal yang perlu diperhatikan mahasiswa.

Pandemi Covid-19 membuat semua aktivitas perkuliahan dilakukan secara daring. Perkuliahan yang dilakukan secara daring mengakibatkan komunikasi antara mahasiswa dan dosen intens dilakukan melalui sosial media seperti WhatsApp.

Namun, perlu dipahami etika dan sopan santun dalam berkomunikasi dengan dosen melalui WhatsApp yang bisa melancarkan komunikasi dan mendukung nilai.

Baca Juga: SNMPTN 2021, Pilih Sesuai Minat dan Kemampuan

Psikolog Universitas Airlangga Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si menuturkan, etika yang baik saat berkomunikasi melalui WhatsApp diawali dengan memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan penutup. Tidak lupa pesan ditulis menggunakan bahasa baku dan pemilihan kata yang tepat.

“Formnya seperti ini, salam pembuka perkenalkan diri. Lalu maksud tujuan dan penutup atau salam, itu isinya. Kemudian gunakan bahasa baku, tidak boleh menyebukan ‘aku’ maksudnya harus ‘saya’ ketika menyampaikan pesan kepada dosen,” kata Dewi, Rabu (10/2/2021).

Baca Juga: Daftar KIP Kuliah Terkendala, Segera Cek Link Kemendikbud

Ia melanjutkan, pemilihan waktu menjadi salah satu hal yang juga perlu diperhatikan. Pagi hari menjadi waktu yang baik untuk menghubungi dosen. Hal itu karena pagi hari masih ada waktu luang sebelum dosen sibuk dengan persoalan kantor.

“Karena biasanya pagi itu pikiran masih bersih, ada energi positif dalam diri. Contohnya habis salat Subuh langsung mengirimkan pesan pagi. Karena sebelum dosen bekerja dengan kegiatan rutin, akan membuka pesan di pagi itu, yaitu saat beliau belum disibukkan dengan pekerjaan lainnya,” ungkapnya.

Perlu disadari, katanya, di masa pandemi WhatsApp grup lebih cepat direspon daripada WhatsApp personal. Itu disebabkan karena waktu yang ada lebih aktif dibandingkan dengan WhatsApp personal. Sehingga terkadang mahasiswa harus berpikir positif apabila dosen baru bisa membalas malam atau keesokan harinya.

Selain itu, berkomunikasi secara online sangat berbeda dengan cara berkomunikasi tatap muka. Harus disadari bila dosen menjawab singkat bukan berarti tidak mau diganggu melainkan mungkin sedang ada aktivitas yang lain. Demikian juga apabila tidak segera dijawab juga mungkin baru membaca, tiba-tiba ada pekerjaan yang membutuhkan respon langsung, sehingga belum dijawab namun agar tersampaikan bisa saja hanya menjawab ‘ya’.

Baca Juga: Meski Tuli, Grace Kunardi Toreh Sejarah dengan Lulus S2 Psikologi

“Jadi nggak perlu sampai merasa tersinggung. Bahasa komunikasi tertulis itu kan bisa jadi ketika dibalas dengan ‘ya’, ‘oke’ bukan berarti marah. Coba bayangkan kalau bertemu langsung, jawaban ‘ya’ dan ‘oke’ tersebut dapat bermakna menjawab ‘oh begitu ya’, ‘oke kalau gitu’, ‘kita ketemu nanti’, ‘hmmm iya” dan lain-lain,” jelasnya.

Dewi juga menekankan bahwa dalam mengakhiri pesan tidak perlu panjang lebar, cukup yang penting-penting saja. “Cukup dengan ‘terima kasih Bu atas masukannya’, atau ‘terima kasih untuk waktunya’,” jelasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini