Oei Tiong Ham Konglomerat Pertama dan Bandar Candu yang Dikubur dalam Posisi Duduk

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 13 Februari 2021 10:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 13 512 2361344 oei-tiong-ham-konglomerat-pertama-dan-bandar-candu-yang-dikubur-dalam-posisi-duduk-n71QxfUKjJ.jpg Oei Tiong Ham si Raja Gula Asia. (Foto: ist)

DI KOTA Semarang pernah muncul konglomerat pertama di Asia Tenggara bernama Oei Tiong Ham (1866-1924), yang dikenal sebagai Raja Gula Asia. Ia mendapat gelar sebagai raja gula sekaligus bandar candu.

Sampai kini, kuburan Oei Tiong Ham masih misterius. Ia diduga dikubur di Semarang, ada yang menyebut dikubur di Singapura dan di Ambarawa.

Menurut budayawan Semarang, Djawahir Muhammad, letak kuburan Oei ini diduga disengaja dikaburkan oleh pihak keluarga untuk mengelabui posisi makam sebenarnya. Apa alasannya? ditakutkan, makam Oei akan dibongkar pencuri.

BACA JUGA: Kisah Tambahsia Playboy Batavis yang Tewas Digantung

Dalam sesuai tradisi Tionghoa, seseorang jika meninggal dikuburkan pula barang–barang berharga miliknya, atau barang kesayangannya.

“Oei orang kaya raya, emas, berlian, dan benda berharga lainnya ikut dikuburkan,” ucapnya.

Ditambahkannya, "Dari cerita ibu saya, kabarnya Oei dikubur dalam posisi didudukkan pada kursi, jadi tidak berbaring. Jenazahnya diberi pakaian kesukaan Oei semasa hidup," katanya.

Oei digelari sebagai Manusia 200 Juta Gulden, seperti ditulis di buku Konglomerat Oei Tiong Ham, Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara, disunting Yoshihara Kunio, 1991, PT Pustaka Utama Grafiti.

Dalam buku itu juga diceritakan istana Oei yang megah dengan halaman luas.Istana Gergaji, Kebon Rojo atau Bale Kambang (kini jalan Raden Saleh). Nama terakhir ini hingga kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lokasi tersebut.

BACA JUGA: Kisah Pembunuhan PSK Penghuni Rumah Bordil Era Hindia Belanda

Istana Oei Tiong Ham mempunyai luas areal sekitar 200 acre atau sekitar 81 hektar. Tanah-tanah yang dimiliki berbatasan dengan kompleks istananya yang membentang sepanjang Oei Tiong Ham Weg (Jalan Pahlawan Sekarang) sampai ke daerah Pandanaran dan daerah Randusari.

Bangunan terdiri dari satu rumah induk, dua rumah berukuran lebih kecil di kiri kanan gedung utama yang dihubungkan dengan satu lorong beratap untuk menghindari panas dan hujan, yang biasa disebut Pavillion.

Sesudah menaiki beberapa anak tangga maka terbentanglah sebuah beranda luas dengan beberapa perlengkapan meja kursi serta patung-patung Eropa yang menempel di kiri kanan dinding, pot-pot bunga yang ditaruh di atas kaki yang semua terbuat dari porselin Eropa dan Tiongkok.

Di belakang bangunan utama yang kontur tanahnya terdapat perbukitan dan lembah, terdapat beberapa bangunan rumah yang mengelilingi kolam.

Istana mewah itu didapat Oei dari hasil dari lima perkebunan tebu. Tak ada satu perusahaan pun di Malaysia, Singapura, dan Hong Kong di bawah pemerintahan Inggris, atau di Thailand dan Filipina, yang mampu menyaingi Kiam Gwan Company, nama perusahaan itu.

Oei juga dikenal sebagai bandar opium atau candu terakhir yang terbesar.

Ayahnya, Oei Tjie Sien, tiba di Semarang pada 1858. Lima tahun kemudian, Oei Tjie Sien mendirikan kongsi dagang Kian Gwan, yang bergerak di bidang perdagangan gula. Pada 1886, Oie Tiong Ham, yang baru berumur 20 tahun, diangkat sebagai ”letnan” Cina.

Keluarga Oei masuk ke bisnis candu pada 1880, ketika sebagian besar bandar opium bangkrut. Ia membeli lima kebandaran opium yang menguasai Semarang, Solo, Yogyakarta, Rembang, dan Surabaya. Dari bisnis opium ini, Oei Tiong Ham berhasil mengeruk keuntungan sekitar 18 juta gulden.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini