Penyebab Longsor di Nganjuk karena Intensitas Hujan yang Tinggi

Antara, · Senin 15 Februari 2021 08:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 15 519 2362058 penyebab-longsor-di-nganjuk-karena-intensitas-hujan-yang-tinggi-w83as2a2ya.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyatakan bahwa tanah longsor di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang terjadi pada Minggu 14 Februari 2021 malam sekitar pukul 18.30 WIB, dikarenakan guyuran hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

"Tanah longsor di Kabupaten Nganjuk dipicu hujan intensitas sedang hingga tinggi yang terjadi pada Minggu malam sekitar pukul 18.30 WIB," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangannya, Senin (15/2/2021).

Baca juga:  Longsor di Nganjuk, 20 Warga Hilang

Tanah longsor di Nganjuk melanda sejumlah rumah warga di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk melaporkan kejadian itu mengakibatkan 20 warga setempat hilang dan 14 orang lainnya luka-luka.

"Warga yang mengalami luka-luka telah mendapatkan perawatan di puskesmas. Tanah longsor juga mengakibatkan delapan unit rumah warga rusak berat," katanya.

 Baca juga: Fenomena Bencana Alam Marak Terjadi, Ini Saran Mitigasi Guru Besar IPB University

BPBD Nganjuk dengan dukungan pihak terkait lainnya melakukan upaya penanganan darurat, seperti pencarian dan evakuasi korban hilang. Selain itu, tim gabungan juga melakukan evakuasi warga terdampak di sekitar lokasi.

"BPBD setempat terus melakukan pemantauan pascabencana dan kaji cepat di lapangan," katanya.

Sementara itu terkait bencana di Kabupaten Pasuruan, BPBD setempat melaporkan banjir dipicu salah satunya hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berdampak debit air Sungai Kedunglarangan di Kecamatan Bangli, Sungai Rejoso di Kecamatan Winongan dan Kecamatan Grati meluap.

"Beberapa desa terdampak di tiga kecamatan yaitu Desa Satak, Tambaka, Kalianyar, Kalirejo dan Masangan (Kecamatan Bangli), Desa Bandaran dan Prodo (Kecamatan Winongan) dan Desa Kebrukan (Kecamatan Grati)," katanya.

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 357 jiwa mengungsi di masjid dan bangunan sekolah TK setempat.

"Ratusan rumah warga terdampak dengan tinggi muka air banjir sekitar 70 centimeter. BPBD dan unsur-unsur terkait lain telah melakukan upaya penanganan darurat kepada masyarakat terdampak," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini