PM Inggris: Dunia Perlu Traktat Transparansi Pandemi

Antara, · Selasa 16 Februari 2021 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 16 18 2362818 pm-inggris-dunia-perlu-traktat-transparansi-pandemi-KO9rdf2QFV.jpg Perdana Menteri Inggris, Boris Johson. (Foto: Reuters)

LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Senin (15/2/2021), mengatakan kekuatan dunia harus membuat traktat soal pandemi untuk memastikan penerapan transparansi setelah kemunculan wabah virus corona jenis baru, yang ia sebut berasal dari China.

Johnson mengatakan akan sangat tertarik untuk menyetujui perjanjian global itu, yang mengharuskan negara-negara anggota setuju untuk berbagi data.

Pernyataan itu disampaikan Johnson di tengah kekhawatiran Inggris dan Amerika Serikat (AS) soal akses yang diberikan bagi misi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ke China.

BACA JUGA: WHO Setujui Vaksin Covid-19 AstraZeneca, Akan Didistribusikan ke Negara Miskin

"Menurut saya, apa yang dunia perlu punya adalah perjanjian umum tentang bagaimana kita melacak data seputar pandemi zoonosis... dan kami menginginkan ada kesepakatan bersama tentang transparansi." Ia menjawab pertanyaan Reuters soal apakah ada tindakan yang ingin ia ambil untuk meningkatkan transparansi.

"Salah satu ide menarik yang muncul dalam beberapa bulan terakhir adalah usulan soal pembuatan perjanjian global tentang pandemi, sehingga negara-negara penandatangan memastikan bahwa mereka menyumbangkan semua data yang mereka miliki dan kita bisa tahu apa yang mendasari sesuatu terjadi dan bagaimana menghentikannya agar tidak terjadi lagi," katanya pada konferensi pers.

Sebagai bagian dari langkah Inggris, yang saat ini menjabat sebagai ketua negara-negara kaya Kelompok Tujuh (G7), Johnson ingin memimpin upaya-upaya pendekatan global terhadap pandemi, termasuk dengan sistem peringatan dini.

BACA JUGA: Palestina Tuduh Israel Hentikan Pengiriman 2.000 Dosis Vaksin Sputnik V

Namun, pernyataan akhir pekan lalu yang dikeluarkan menjelang konferensi para pemimpin G7 pada Jumat (19/2/2021) tidak menjelaskan secara rinci tentang perjanjian menyangkut transparansi pandemi.

Wabah COVID-19, yang pertama kali terdeteksi di China pada akhir 2019, telah menewaskan 2,4 juta orang. Pandemi COVID juga membuat ekonomi global mengalami kemerosotan terburuk --pada masa damai-- sejak Depresi Hebat terjadi, serta merusak kehidupan normal miliaran orang di dunia.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab pada Minggu (14/2/2021) mengatakan sama-sama khawatir dengan AS tentang sejauh mana akses yang didapat misi pencari fakta COVID-19 Organisasi Kesehatan Dunia di China. Sementara itu, Boris Johnson mengatakan ia mendukung Presiden AS Joe Biden soal lebih banyak data dibutuhkan dari penyelidikan oleh misi tersebut.

Ketika ditanya oleh Reuters siapa yang dianggapnya bertanggung jawab atas kurangnya transparansi tentang asal-usul pandemi COVID-19, Johnson mengatakan," Saya pikir cukup jelas bahwa sebagian besar bukti tampaknya mengarah pada penyakit yang berasal dari Wuhan."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini