Populasi Hiu Terancam Punah, Dari Faktor Pengangguran, Pengeboran Minyak, hingga Penangkapan Masif

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 18 Februari 2021 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 18 2364191 populasi-hiu-terancam-punah-dari-faktor-pengangguran-pengeboran-minyak-hingga-penangkapan-masif-Xu0NQZnwAl.jpg Populasi hiu terancam punah (Foto: Shaun Swingler)

REPUBLIK KONGO - Nelayan pemburu ikan hiu di Republik Kongo mengaku jumlah tangkapan mereka semakin sedikit. Semakin banyaknya ikan hiu remaja yang ditangkap menjadi pertanda stok ikan mengalami tekanan atau terancam.

Praktik penangkapan ikan hiu ini sebagian besar tidak diatur di negara Afrika tengah itu, namun bertentangan dengan serangkaian rekomendasi internasional, dan kelompok lingkungan mulai memberikan peringatan.

Pada 1980-an dan 1990-an, penangkapan hiu didorong oleh meningkatnya permintaan siripnya dari Asia, di mana sup sirip hiu merupakan hidangan yang populer.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, menipisnya stok ikan pokok yang diambil secara masif oleh kapal pukat industri asing telah menyebabkan nelayan dan masyarakat pesisir Kongo semakin bergantung pada daging hiu sebagai sumber makanan.

(Baca juga: NATO: Penarikan Pasukan Asing dari Afghanistan Tergantung pada Taliban)

Di kota pelabuhan Pointe-Noire, laporan pada tahun 2019 oleh kelompok pemantau satwa liar Traffic menunjukkan bahwa nelayan lokal atau artisanal sering kali mendaratkan 400 hingga 1.000 hiu dan pari per hari di musim puncak.

Namun para nelayan mengatakan jumlah itu menunjukkan terjadinya penurunan substansial dari kejayaan industri pada 1990-an dan awal 2000-an.

Mereka juga mengatakan bahwa kini tangkapan ikan hiu dewasa jauh menurun, dan didominasi oleh ikan remaja. Ini sebuah tanda bahwa praktik tersebut memunculkan ancaman akan kelestarian hiu.

"Dulu, satu perahu bisa menangkap hingga 100 ikan hiu dalam sehari," kata Alain Pangou, seorang kapten kapal yang telah menangkap ikan hiu selama hampir 20 tahun,” terangnya.

"Tapi sekarang ini lebih rumit,” tambahnya.

Konflik dan perubahan iklim sekarang menjadi ancaman tambahan bagi garis kehidupan yang sudah berbahaya di Kongo.

(Baca juga: Siapkan Anggaran Rp252 Miliar, PM Selandia Baru Sediakan Produk Menstruasi Gratis)

Akibatnya, semakin banyak orang ke pantai, menjadi nelayan tradisional dan membuat populasi hiu Kongo makin terancam.

Nelayan juga harus berlayar lebih jauh dari daratan untuk waktu yang lebih lama di perairan yang lebih dalam untuk menangkap ikan, menghadapi risiko yang meningkat dalam proses mendapatkan ikan.

"Anda tidak boleh takut," kata Pangou.

"Pilihan apa yang Anda miliki?,” tambahnya.

Kondisi sulit nelayan itu diperparah dengan meningkatnya zona eksklusif di sekitar daerah pemboran minyak, yang memasok sebagian besar kekayaan bagi Kongo. Akibatnya, dalam beberapa tahun terakhir kawasan penangkapan ikan tradisional telah berkurang hampir dua pertiganya.

Saat ini, 11 kilometer pertama (tujuh mil) dari pantai Pointe-Noire, yang dianggap sebagai tempat utama perkembangbiakan hiu, seharusnya dicadangkan secara eksklusif untuk penangkapan ikan artisanal atau tradisional.

Tetapi, berdasarkan pemantau perikanan lokal Jean-Michel Dziengue, perambahan ilegal oleh kapal pukat industri sudah jadi pemandangan rutin.

Dziengue sering kali menerima video yang direkam oleh nelayan melalui telepon genggam, yang menunjukkan pelanggaran semacam itu, yang kemudian ia sampaikan kepada pejabat sebagai bukti.

"Tapi meski kami menangkap mereka, mereka jarang dihukum," katanya.

Terancamnya bisnis hiu di Kongo, dan penangkapan ikan tradisional secara lebih luas memiliki dampak ekonomi, tidak hanya bagi para nelayan dan keluarganya, tetapi juga bagi banyak orang lain yang terkait dengan industri tersebut, termasuk pengolah ikan, yang sebagian besar adalah perempuan.

"Penangkapan ikan tradisional dulu menguntungkan, tetapi sekarang tidak lagi," kata Justine Tinou, penjual ikan yang diawetkan, termasuk hiu, setiap akhir pekan di pasar yang ramai di Pointe-Noire.

"Harganya naik karena ikannya langka. Hiu, tuna - keduanya lebih langka sekarang. Bahkan sardinella, yang dulunya berlimpah, Anda tidak melihatnya lagi."

Krisis ekonomi Kongo saat ini yang didorong oleh jatuhnya harga minyak dan diperburuk oleh Covid-19 menyebabkan perempuan seperti Tinou menghadapi ancaman ganda, yaitu menurunnya jumlah pelanggan di tengah meningkatnya persaingan karena lebih banyak perempuan bekerja sebagai pengolah ikan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Kurangnya lapangan kerja formal juga akan berdampak pada meningkatnya jumlah kapal ikan artisanal - yang saat ini sekitar 700 perahu - sehingga semakin menekan populasi hiu lokal yang sedang terancam.

Hiu berada di bawah ancaman hebat di seluruh dunia.

Sebuah survei lautan global yang diterbitkan tahun lalu di jurnal Nature menemukan bahwa hiu "punah secara fungsional" di seperlima dari 371 terumbu pesisir yang dipantau sejak 2015.

Tetapi para nelayan miskin seperti Alain Pangou, pernah bekerja sebagai insinyur di sebuah grup minyak Angola sebelum kehilangan pekerjaannya ketika perusahaan tersebut keluar dari Kongo pada awal perang saudara pada 1993, tidak memiliki alternatif lain.

Ia berharap agar anak-anaknya mendapat kesempatan yang lebih baik.

"Memancing benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Saya tidak ingin ini menjadi masa depan mereka," katanya.

"Bagi saya, adalah kewajiban untuk terus melaut. Tapi setelah bertahun-tahun, saya juga merasa paling nyaman di sana,” lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini