UI Buka-bukaan Soal Uji Klinis Perawatan Covid-19 Terbesar di Dunia

Neneng Zubaidah, Koran SI · Jum'at 19 Februari 2021 19:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 65 2365104 ui-buka-bukaan-soal-uji-klinis-perawatan-covid-19-terbesar-di-dunia-yDSQq1agIl.jpg Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Foto: Okezone/Dok)

JAKARTA - Fakultas Kedokteran UI ikut andil dalam klinis perawatan Covid-19 terbesar di dunia. Uji Acak Evaluasi Terapi COVID-19 (The Randomised Evaluation of COVID-19 Therapy) atau yang disebut studi RECOVERY.

Sebuah uji klinis terbesar di dunia untuk mengevaluasi pengobatan Covid-19 akan segera dilaksanakan di Indonesia.

Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD-KPTI, FACP, FINASIM, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) selaku peneliti utama yang juga mengepalai studi RECOVERY di Indonesia mengatakan, studi ini dilaksanakan di Inggris sebelumnya telah membantu Indonesia untuk merencanakan sumber dayanya lebih efektif.

Baca Juga: Mau Kuliah di Fakultas Kedokteran UI? Peluang Diterima Hanya 3% Saja

“Misalnya, klorokuin/hidroksiklorokuin tidak lagi direkomendasikan untuk mengobati COVID-19 dan obat deksametason telah masuk dalam rekomendasi pengobatan COVID-19 di RS di Indonesia,” katanya melalui siaran pers, Jumat (19/2/2021).

Studi ini pertama kali dilaksanakan di Inggris pada Maret 2020 untuk mengevaluasi pengobatan mana yang paling efektif untuk melawan COVID-19. Studi ini telah memberikan rekomendasi yang sudah mengubah perawatan klinis.

Baca Juga: Pilih Jurusan Kedokteran, Dekan FKUI: Harus Siap Mental

Termasuk temuan bahwa steroid dengan harga terjangkau, deksametason, dan pengobatan anti-inflamasi, tocilizumab, secara signifikan mengurangi risiko kematian ketika diberikan kepada pasien rawat inap dengan COVID-19 berat.

Pelaksanaan studi ini di Indonesia merupakan salah satu hasil dari kemitraan yang sudah terjalin lama antara FKUI dan Oxford University, serta dukungan dari berbagai mitra penelitian dan rumah sakit di Indonesia.

Universities of Indonesia and Oxford Clinical Research Laboratory (IOCRL), sebuah fasilitas pendukung uji klinik bersama di Jakarta yang juga merupakan hasil dari kemitraan dua lembaga tersebut, akan membantu proses pelaksanaan dan koordinasi studi ini di Indonesia.

Sementara itu, rumah sakit pertama yang bergabung dengan studi RECOVERY di Indonesia adalah RS Metropolitan Medical Centre (MMC) Jakarta, RS Martha Friska Medan, dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan beberapa rumah sakit lainnya akan segera bergabung.

Di Indonesia, studi akan diawali dengan mengevaluasi penggunaan aspirin dan kolkisin, karena obat ini sudah tersedia dan terjangkau, namun seperti pelaksanaan studi RECOVERY di Inggris, uji coba ini bersifat adaptif dan obat baru akan ditambahkan seiring waktu.

Menteri Kesehatan, dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, dr. Slamet, MHP mengatakan, uji klinis RECOVERY sangat penting untuk menemukan pengobatan COVID-19 yang efektif dan dapat digunakan di seluruh dunia.

“Meneliti obat terjangkau dan mudah diakses, hasilnya dapat dimanfaatkan dengan cepat di Indonesia dan negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya. Kami sangat bangga bahwa para peneliti Indonesia berperan serta dan menjadi bagian dari sebuah uji klinis penting di dunia,” ujarnya.

Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, S. E., M. A., PhD. memberikan apresiasi keterlibatan para peneliti dari FKUI dalam uji klinis RECOVERY di Indonesia. Sejak awal COVID-19 muncul di Indonesia, UI secara aktif terlibat dalam berbagai penelitian, medis, dan sosial. UI juga berkolaborasi dengan banyak pihak, di dalam maupun di luar negeri, termasuk dengan University of Oxford.

“Kami berharap melalui kontribusi ini dan dukungan dari masyarakat Indonesia, UI bisa mendukung percepatan pemulihan kondisi Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan RI atas dukungan dan kepercayaannya kepada kami,” katanya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini