BPIP Tetapkan Pasar Bahulak sebagai Pasar Gotong Royong

Tim Okezone, Okezone · Minggu 07 Maret 2021 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 07 512 2373727 bpip-tetapkan-pasar-bahulak-sebagai-pasar-gotong-royong-wJJ23ltvIA.jpg Desa Karungan dan Pasar Bahulak (Foto: istimewa)

SRAGEN - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi meresmikan Desa Karungan dan Pasar Bahulak, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagai Desa Pancasila dan Pasar Gotong Royong. Hal ini karena masyarakat desa telah menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam mengembangkan sektor perekonomian.

"Apa yang dilakukan desa karungan menjadi uswah hasanah (teladan) dan akan membangkitkan ekonomi Indonesia jika diikuti secara besar-besaran (oleh daerah lain)," kata Yudian dalam sambutannya, Minggu (7/3/2021).

Baca juga: BPIP Minta Pers Berperan Aktif Membumikan Pancasila

Mengutip pesan Bung Karno, Yudian mengatakan pengamalan nilai Pancasila kuncinya ada di gotong royong di semua kehidupan. Menurut dia, masyarakat Desa Karungan telah bergotong royong untuk membangkitkan sektor ekonomi desa.

Baca juga: BPIP Dorong Pelajaran Pancasila Masuk Kurikulum

Dia mengatakan, perekonomian masyarakat terguncang saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Namun, berdasarkan Badan Pusat Statistik, pertanian merupakan satu-satunya bidang yang tumbuh positif.

"Ini menunjukkan desa dan pertanian penting. Karakter ekonomi desa yang cenderung padat karya, menjadi jaring penyelamat warga dari goncangan ekonomi," kata Yudian.

Yudian menerangkan, undang-undang memberi ruang gerak yang luar biasa untuk masyarakat desa untuk mendorong produksi dan konsumsi lokal dan menciptakan ikon wisata seperti Pasar Bahula. Hal ini memiliki karakter yang berbeda dengan ekonomi yang ditopang pemodal besar.

Kata dia, pemodal besar kerap membawa tenaga kerja dari mana-mana, dan keuntungannya dibawa lari pemilik modal untuk ditanam di tempat lain.

"Komponen lokal memiliki keunggulan, kemampuan bertahan lebih tinggi saat terjadi krisis ekonomi global menjadi katalisator pegentasan kemiskinan, terutama ketika modal ditanam kembali di tingkat desa," kata Yudian.

"Ini aktualisasi nilai ekonomi Pancasila. Pengembangan ini tak bisa dilaksanakan tanpa gotong royong," sambung dia.

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno menungkapkan bahwa bergembira dengan apresiasi warga yang mendatangi Pasar Bahulak. Warga yang datang ke pasar tidak hanya dari Sragen, tetapi juga dari Solo dan Semarang.

Dia menambahkan, penetapan Desa Karungan sebagai Desa Pancasila dan Pasar Bahulak sebagai Pasar Gotong Royong oleh BPIP, membuat pemerintah kabupaten mendapat kehormatan besar.

"Semoga deklarasi ini menjadi pemberi motivasi bagi masyarakat Desa Karungan untuk terus mengembangkan nilai-nilai Pancasila di sektor ekonomi," kata Dedy.

Kepala Desa Karungan Joko Sunarso menceritakan soal peran masyarakat Desa Karungan dalam mendirikan Pasar Bahulak. Hal itu bermula dengan kondisi tanah kas Desa seluas empat hektare yang tak maksimal dalam pengelolaanya.

Kemudian, lanjut dia, dengan semangat gotong royong dan ketulusan masyarakat desa yang ingin menciptakan pasar untuk mengenang kuliner masa lalu. Di mana, kuliner itu sudah tidak ditemukan di pasar modern.

"Maka dari itu, dengan keikhlasan warga dan paguyuban terciptalah pasar ini, dan alhamdulillah selama kegiatan pasar mulai September 2020 hingga saat ini berjalan lancar dan ramai yang sangat bermanfaat untuk desa kami," kata Joko.

Dengan adanya Pasar Bahulak ini, maka ada 74 pedagang yang semuanya warga desa untuk berjualan di pasar. Dan, setiap kegiatan pasar yang dilaksanakan dua pekan sekali, mengerahkan 292 tenaga kerja.

"Mereka sangat senang, rukun, dan guyub, untuk mencintai desanya sebagai rasa nasionalisme," kata Joko.

Selain itu, selama operasional Pasar Bahulak, ada 63 Satgas Covid yang dikerahkan. Mereka disebar di seluruh pasar agar memastikan pengunjung menerapkan protokol kesehatan.

Soal penetapan sebagai Desa Pancasial dan Pasar Gotong Royong, Joko mengucapkan terima kasihnya. Dia berharap warga menjadi semangat untuk melebarkan sayap.

"Cita-cita kami membangun jiwa baru membangun raga. Terbukti setelah kesadaran terbangun, warga mudah untuk diajak," kata Joko.

Sejumlah jajanan yang dijual pedagang di antaranya, soto bathok, sego menir, nasi jagung, tiwul, wedang gemblung, wedang secang, jamu gendhong, hingga kaos bahulak. Kemudian semua transaksi dilakukan dengan pembayaran memakai koin dari tempurung kelapa.

Setiap pengunjung yang datang bisa menukar koin di pintu masuk dengan harga Rp2 ribu satu koin. Jika koin yang ditukar tidak habis, maka sisanya bisa ditukarkan kembali ke loket awal dan uang akan dikembalikan sejumlah koin yang tersisa.

Kemasan atau wadah tempat barang yang dijual umumnya menggunakan bahan-bahan alami. Di antaranya, daun sebagai pengganti plastik dan gelas dan mangkuk yang terbuat dari tanah liat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini