Share

Setelah Berminggu-minggu Menghilang, Presiden Tanzania Dinyatakan Meninggal Dunia

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 18 Maret 2021 07:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 18 18 2379646 setelah-berminggu-minggu-menghilang-presiden-tanzania-dinyatakan-meninggal-dunia-WxRmPHOjJv.jpg Presiden Tanzania John Magufuli meninggal dunia (Foto: CNN)

TANZANIAPresiden Tanzania John Magufuli dinyatakan meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Dar es Salaam, setelah sempat menghilang selama berminggu-minggu.

Hal ini diumumkan Wakil Presiden (Wapres) dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (17/3). Presiden meninggal dalam usia 61 tahun.

"Presiden John Magufuli meninggal karena penyakit jantung yang telah dia perjuangkan selama lebih dari 10 tahun," kata Samia Suluhu Hassan. Dia menambahkan Presiden telah menerima perawatan di rumah sakit Mzena sejak Minggu (14/3).

Wapres juga mengumumkan 14 hari berkabung nasional.

Saat ini Hassan menjadi penjabat Presiden Tanzania. Meskipun tanggal pelantikannya belum diumumkan, dia akan menjadi Presiden wanita pertama Tanzania.

Magufuli, yang biasanya tampil di depan umum mingguan pada kebaktian gereja hari Minggu, tidak terlihat sejak 27 Februari lalu. Hal ini memicu spekulasi bahwa dia sakit dan dirawat di luar negeri.

(Baca juga: Naskah Kuno Ayat-ayat Alkitab Ditemukan di Gua Horor)

Ketika berita kematian Presiden muncul, pemimpin oposisi Zitto Kabwe menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Magufuli.

"Ini adalah momen yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Republik Bersatu Tanzania, dan tidak diragukan lagi akan menggerakkan kita semua dengan cara yang sangat pribadi," kata pemimpin partai ACT-Wazalendo itu dalam sebuah pernyataan.

"Pikiran langsung saya tertuju pada Mama Janeth, dan seluruh keluarga Presiden kita yang telah meninggal,” terangnya.

Dia juga mendoakan "berkah, keberanian dan kesabaran" untuk Hassan.

“Teman-teman Tanzania, marilah kita terus berdoa untuk kesabaran dan pengertian. Ini momen untuk menunjukkan kedewasaan dan integritas kita sebagai bangsa,” tambahnya.

(Baca juga: Perusahaan-perusahaan Inggris Diduga Terlibat dalam Praktik Kerja Paksa Muslim Uighur)

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson adalah salah satu pemimpin dunia pertama yang mengungkapkan simpati mereka atas meninggalnya Magufuli.

"Pikiran saya bersama orang yang dicintainya dan orang-orang Tanzania," cuitnya di Twitter.

Dikenal sebagai "The Bulldozer" karena sikap kerasnya melawan korupsi dan kebijakan garis kerasnya, Magufuli meraih kemenangan pada Oktober 2015 sebagai presiden kelima Tanzania.

Tapi kegembiraan atas intoleransi Magufuli terhadap korupsi berumur pendek ketika dia memulai tindakan keras terhadap demokrasi dan suara-suara kritis.

Magufuli mengawasi penutupan dan penangguhan sejumlah media. Pemerintahnya juga dinilai merusak independensi yudisial dan parlemen, menerapkan larangan parsial pada rapat umum, melecehkan anggota parlemen, menutup ruang politik online, dan menuntut para kritikus berdasarkan undang-undang pencemaran nama baik dan penghasutan.

Pada awal pandemi, Magufuli menepis keseriusan virus corona di Tanzania. Dia sempat mendesak warganya untuk "menyingkirkan virus corona," dan percaya jika "virus setan tidak dapat hidup di dalam tubuh Yesus Kristus”. Dia juga menyalahkan meningkatnya jumlah kasus positif pada alat uji yang salah.

Pada bulan Juni tahun lalu, dia mengklaim negaranya telah memberantas virus corona "dengan rahmat Tuhan," mempertanyakan keamanan vaksin Covid-19 asing dan tidak membuat rencana untuk melakukan suntikan vaksin untuk negaranya, malah mendorong penggunaan jamu tradisional dan perawatan uap.

Tanzania belum melaporkan angka Covid-19 sejak April 2020. Hal ini mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Tanzania menerbitkan data tentang virus corona dan meningkatkan langkah-langkah kesehatan masyarakat.

Bulan lalu, Kedutaan Besar AS di Dar es Salaam memperingatkan bahwa kasus Covid-19 telah melonjak sejak Januari lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini