Ganjar Sebut Konsumsi Media di Jateng Dikuasai Televisi

Bramantyo, Okezone · Senin 29 Maret 2021 17:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 29 512 2386011 ganjar-sebut-konsumsi-media-di-jateng-dikuasai-televisi-Av3yzJuL89.jpg Foto: Okezone

SOLO - Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara resmi membuka Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa bertajuk “Cerdas Bermedia di Era Penyiaran Digital”di Pendapi Gede, Balaikota Solo, Senin (29/3/2021).

(Baca juga: Saat Sintong 'Disemprot' Benny Murdani soal Senjata Operasi Woyla)

Dalam sambutannya, Ganjar yang tampil sekaligus sebagai pembicara mengajak masyarakat untuk cerdas dan bijak bermedia dengan literasi atau pemahaman mendalam dalam memilah dan memilih siaran yang mengandung beraneka ragam informasi.

"Saya meyakini perkembangan teknologi informasi lewat siaran itu melompat lompat. Jadi ada potensi informasi yang disajikan bisa mengadung hoax dan disinformasi. Oleh karenanya, gerakan literasi yang masif harus terus di-sounding-kan," ujar Ganjar, Senin (29/3/2021).

(Baca juga: Dramatis! Husein Terduga Teroris di Condet Sempat Melawan Anggota Densus 88)

Menurut Ganjar, masyarakat harus secepatnya punya liiterasi dan edukasi untuk menyadari informasi yang beredar dimana - mana khususnya lewat media siaran. "Jempolmu harimaumu, kita harus cerdas sikapi informasi," tandasnya.

Ganjar mengatakan, bahwa konsumsi media masyarakat Jawa Tengah didominasi media televisi sebesar 91,3 % ( survey komunikasi publik Diskominfo Jateng 2020 ).

Senada, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak positif dan negatif.

"Dampak positifnya informasi mudah murah cepat dimanapun. Negatifnya, muncul hoax atau penyalahgunaan informasi. Dengan Literasi kita dapat memilah dan memilih informasi yang beredar khususnya melalui siaran televisi dan radio," jelasnya.

Diharapkannya, literasi dapat menambah sikap kritis masyarakat khususnya terhadap siaran TV dan radio.

Gibran mengajak masyarakat untuk kritis terhadap siaran sehingga siaran menjadi cerdas dan martabat. "Harus digaungkan secara masif gerakan literasi untuk menghindari hoax, hate speech dan kekerasan," ucapnya.

Sementara itu Direktur Program MNC Uut Endah Hari Utari menanggapi adanya anggapan bila televisi akan ditinggalkan para penontonnya.

Menurut Uut, kekuatan televisi ada didalam pembuatan konten atau tayangan itu sendiri. Selama konten yang diproduksi digemari masyarakat, maka televisi tidak akan ditinggalkan para penontonnya.

Uut mencontohkan sinetron Ikatan Cinta yang tayangan RCTI. Sinetron ini dalam ratingnya mampu memecahkan rekor dalam jumlah penonton. Dengan kata lain, ungkap Uut, selama televisi itu mampu membuat konten yang digemari, maka televisi tidak akan ditinggalkan para penontonnya.

"Selama televisi itu mampu membuat konten yang digemari, maka televisi tidak akan ditinggalkan para penontonnya. Contohnya Ikatan Cinta, yang mampu meraih rating tertinggi dalam jumlah penonton,"ungkap Uut usai menjadi Keynote Speaker.

Hal serupa juga diungkapkan Ketua KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ) Pusat Agung Supriyo. Menurut Agung, KPI dibuat atas dasar UU No 32 Tahun 2002 bertugas menciptakan generasi yg beriman, taqwa dan cerdas karena TV dan radio dianggap berpengaruh besar pada masyarakat.

"Tugas KPI sangat berat maha berat. TV punya pengaruh sangat kuat. Tidak hanya info yang disajikan namun juga tontonan lainnya. Siaran bisa berdampak buruk jika tidak diawasi. KPI bertugas mengawasi siaran TV dan radio selama 24 jam. KPI juga membuat literasi namanya Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa. Karena kita ingin bentuk penonton yang cerdas," ungkapnya.

"Dan semoga kehadiran Bapak Ganjar dan Bapak Gibran bisa berpengaruh meningkatkan literasi masyarakat terhadap dampak siaran media elektronik televisi dan radio," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini