4 Hari di Pengungsian, Korban Kebakaran Kilang Minyak Balongan Ingin Pulang

Fathnur Rohman, Okezone · Kamis 01 April 2021 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 01 525 2388068 4-hari-di-pengungsian-korban-kebakaran-kilang-minyak-balongan-ingin-pulang-XwXjoIyQae.jpg Pengungsi kebakaran kilang minyak Balongan ingin pulang (Foto : Okezone.com/Fathnur)

INDRAMAYU - Raut wajah lelah nampak dari Surhtini (59), warga Blok Kesambi, Desa Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang mengungsi di Posko Pengungsian Perumahan Bumi Patra, Kamis (1/4/2021). Ia merupakan salah satu korban terdampak kejadian kebakaran tangki kilang minyak PT Pertamina RU VI Balongan.

Sudah hampir empat hari Suhartini beserta keluarganya yang terdiri dari dua orang anak, dan satu orang menantu berada di Posko Pengungsian Perumahan Bumi Patra. Ada keinginan dari Suhartini untuk segera pulang ke rumahmya. Namun, hal itu urung ia lakukan sebab BPBD Kabupaten Indramayu masih melarang pengungsi kembali ke rumah masing-masing.

"Saya dengar sudah padam. Tapi belum boleh pulang. Saya di sini sebenarnya enggak betah. Karena pengen cepat pulang. Fasilitas di sini emang cukup. Tapi lebih enakan di rumah," kata dia kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (1/4/2021).

Ia bercerita, selama di tempat pengungsian ia mengaku sempat merasa pusing dan sesak napas. Ada kemungkinan, kata dia, hal ini dikarenakan oleh efek kejadian kebakaran pada Senin, 29 Maret 2021, dini hari lalu.

Suhartini peristiwa mencekam itu masih terawat dalam kepalanya. Ledakan demi ledakan yang terdengar membuatnya lari ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. Saat kejadian langit Indramayu, tuturnya, bewarna jingga kemerah-merahan. Mengingat kejadian tersebut membuatnya cukup trauma.

"Di sini sempat pusing. Tapi ada tim medis yang periksa. Semoga aja tidak apa-apa. Pengennya cepet balik ke rumah," ujarnya.

Sementara itu, pengungsi lainnya yakni Ahyati (39) mengaku merasakan sesak napas dan muntah-muntah saat peristiwa kebakaran di tangki kilang minyak PT Pertamina RU VI Balongan terjadi.

Lokasi kebakaran tersebut letaknya berdekatan dengan rumahnya, kurang lebih sekitar 50 meter. Ahyati mengungkapkan saat kejadian itu terjadi, ia langsung pergi menjauh dari rumah menggunakan sepeda motor. Ia mengaku lantai rumahnya sempat panas akibat peristiwa itu.

"Sebelumnya ada bau gas dan minyak. Jarak 50 meter dari lokasi kebakaran. Waktu itu langsung naik motor. Panik. Banyak yang muntah-muntah, mual dan sesak," kata Ahyati kepada MNC Portal Indonesia

Baca Juga : Bupati Bandung Barat & Anaknya Diduga Diuntungkan Rp3,7 Miliar dari Korupsi Bansos Covid-19

Menurut Ahyati, bau menyengat yang dicium warga Blok Kesambi sebelum kebakaran itu terjadi, muncul sekitar pukul 23.00 sampai pukul 24.00 WIB. Kemudian pada pukul 01.00 WIB, suara ledakan terdengar dan api langsung membesar membakar tangki kilang minyak PT Pertamina RU VI Balongan.

"Sebelum meledak bau limbah minyak hitam. Saya takut roboh. Saya dan keluarga diungsikan dibawa mobil," ujar Ahyati.

Hingga sekarang, Ahyati masih bertahan di tempat pengungsian. Menurutnya, anak keduanya yang masih berusia delapan tahun masih mengalami trauma. Sebab, kejadian kebakaran itu sangat menyeramkan.

Trauma Healing Terus Dilakukan

Kamis pagi, sejumlah petugas dari Pertamina dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Indramayu, melakukan bimbingan trauma healing, khususnya untuk anak-anak. Hal ini diberikan agar mereka terhibur dan memulihkan trauma yang diderita.

Untuk diketahui, peristiwa terbakarnya tangki Pertamina RU VI Balongan menyebabkan sejumlah pengungsi mengalami trauma mendalam. Perasaan mereka tertekan karena terus teringat suasana mencekam peristiwa itu.

Trauma tidak hanya menimpa orang dewasa, anak-anak juga merasakan hal yang sama. Berangkat dari situ, petugas terus memberikan trauma healing untuk pengungsi.

"Berkat dukungan semua pihak, trauma healing bagi anak-anak pengungsi bisa kita lakukan. Kita berharap anak-anak ini bisa kembali ceria dan melupakan bencana kebakaran yang ada di lingkungannya," ujar Plt Sekretaris BPBD Kabupaten Indramayu, Caya.

Caya menyampaikan, anak-anak mendapatkan kegiatan seperti bermain, mendongeng, membagikan makanan dan kegiatan lainnya, selama trauma healing. Sejumlah petugas dari Pertamina, DPPA, dan juga berbagai relawan ikut membantu dalam proses trauma healing tersebut.

"Sebenarnya sejak masih berada di Pendopo Indramayu para pengungsi telah mendapatkan trauma healing dari berbagai pihak dan relawan," ungkapnya.

Dia menambahkan, kurang lebih sekitar 2.000 warga di Kecamatan Balongan terdampak akibat peristiwa kebakaran tangki Pertamina RU VI Balongan. Meski api telah padam, pihaknya belum memperbolehkan pengungsi kembali ke rumah. Sebelum tempat tinggal mereka bisa dikatakan aman.

"Mereka tidak diperbolehkan pulang dulu sebelum lingkungan tempat tinggal mereka dinyatakan aman," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini