Seorang Pria Meninggal Setelah Dihukum Squat 300 Kali karena Langgar Aturan Covid-19

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 06 April 2021 17:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 18 2390380 seorang-pria-meninggal-setelah-dihukum-squat-300-kali-karena-langgar-aturan-covid-19-MTBgEmTXmC.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

MANILA - Seorang pria Filipina meninggal dunia sehari setelah diperintahkan oleh polisi untuk melakukan ratusan latihan sebagai hukuman karena melanggar pembatasan virus corona. Kamatian pria itu memunculkan kekhawatiran pihak berwenang telah menyalahgunakan kewenangan dan menyiksa pelanggar aturan pembatasan Covid-19.

Darren Manaog Penaredondo dilaporkan dihentikan oleh personel keamanan setempat di Kota General Trias, di Pulau Luzon, ketika mencoba membeli air setelah jam malam. Wilayah tersebut saat ini dikunci ketat untuk membatasi penyebaran virus corona.

BACA JUGA: Undang-Undang Baru Kamboja, Langgar Aturan Covid-19 Bisa Dipenjara 20 Tahun

Menurut laporan media lokal, mengutip keluarga dan pasangannya, pria itu kemudian dibawa ke lapangan terdekat, di mana bersama dengan pelanggar aturan lainnya dia diperintahkan untuk melakukan 100 latihan squat. Polisi diduga mengumumkan bahwa kelompok tersebut harus melakukan lebih banyak latihan jika mereka gagal melakukannya secara sinkron.

Secara total, Penaredondo diperintahkan untuk melakukan gerakan tersebut sebanyak 300 kali, sebuah tugas yang melelahkan secara fisik yang katanya telah dilakukan dengan susah payah, demikian dilaporkan RT.

Dengan bantuan sesama pelanggar aturan, dia berhasil berjalan pincang kembali ke rumah. Pacarnya awalnya mengira dia telah dipukuli. Dia mengatakan keesokan harinya dia mengeluh sakit parah di lutut dan pahanya. Dia berjuang untuk berjalan dan harus merangkak di lantai untuk bergerak. Beberapa jam kemudian, dia menderita kejang dan pingsan. Seorang tetangga dapat melakukan CPR dan memulihkannya sebentar. Penaredondo dikabarkan meninggal tak lama kemudian.

BACA JUGA: Jubir Presiden Filipina: Perintah "Bunuh, Bunuh, Bunuh" Duterte Terhadap Pemberontak Sesuai Hukum

Wali Kota General Trias telah memerintahkan pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, menggambarkan dugaan hukuman itu sebagai "penyiksaan."

Kapolres setempat telah menegaskan kepada media bahwa pelanggar jam malam hanya boleh menerima ceramah. Dia mengatakan hukuman fisik tidak diperbolehkan dan tidak akan ada toleransi untuk kasus-kasus seperti itu.

Ini bukan pertama kalinya polisi Filipina dituduh melakukan perlakuan tidak manusiawi terhadap pelanggar aturan Covid. Human Rights Watch (HRW) merilis laporan bulan lalu yang menuduh bahwa polisi dan otoritas lokal menempatkan pelanggar jam malam di kandang anjing dan memaksa mereka untuk duduk di bawah sinar matahari sebagai hukuman.

Pekan lalu, Presiden Rodrigo Duterte memperingatkan bahwa siapa pun yang mengabaikan langkah-langkah kesehatan masyarakat dapat ditembak. Kepala polisi nasional kemudian mengklarifikasi bahwa Duterte berusaha menyampaikan keseriusan krisis kesehatan, dan menekankan bahwa tidak ada yang akan ditembak mati.

Filipina telah mencatat lebih dari 803.000 kasus Covid, serta 13.435 kematian terkait dengan penyakit tersebut, sejak dimulainya pandemi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini