Dilema Pendidikan Tatap Muka vs Jarak Jauh, Bagaimana Solusinya?

Vitrianda Hilba Siregar, · Jum'at 09 April 2021 14:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 65 2392006 dilema-pendidikan-tatap-muka-vs-jarak-jauh-bagaimana-solusinya-Yp0i2JZlS5.jpeg Uji coba pembelajaran tatap muka di saat pandemi Covid-19. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pandemi menimbulkan dilema di dunia pendidikan. Metode pembelajaran tatap muka yang selama ini dilakukan, terpaksa dihentikan seketika saat Covid-19 ditetapkan sebagai pademi global.

Walhasil, pendidikan dilakukan dengan jarak jauh. Menurut Praktisi Media Pendidikan Hary Candra, pendidikan jarak jauh akibat pandemi merupakan sebuah tantangan. Dia mengungkapkan, berdasarkan riset United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan di bawah naungan PBB menunjukkan, sekitar 124 juta anak di seluruh dunia gagal menguasai kecakapan minimum membaca akibat pandemi ini.

Baca Juga: LTMPT Kasih Bocoran Suskes Menghadapi UTBK SBMPTN 2021

"Ini angka yang mengerikan. Indonesia sebagai negara dengan tingkat populasi yang tinggi, maka secara tidak langsung memberikan kontribusi besar pada angka tersebut," ujarnya kepada Okezone, Jumat (9/4/2021).

Seperti diketahui, sejak awal tahun 2000 pendidikan dilakukan secara jarak jauh. Namun kini pemerintah telah menetapkan bahwa kegiatan belajar tatap muka akan dilakukan mulai Juli 2021. Ujicoba pun telah dilakukan. Apabila sekolah sudah mampu menjalankan pendidikan tatap muka, maka tidak perlu menunggu Juli 2021. Pendidikan pun bisa dilakukan 50% tatap muka dan secara bergantian 50% sisanya dilakukan jarak jauh. Kemudian akan diterapkan tatap muka secara 100%.

Baca Juga: Indonesia Mau Gelar PTM Saat 4 Negara Gagal, Kemendikbud: Persiapan Dirancang Lebih maksimal

Mengomentari hal tersebut Hary Candra menyatakan, jika akan dilakukan pilot project pendidikan tatap muka merupakan hal yang lumrah agar segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik. Namun perlu digarisbawahi, jika peserta didik dan pendidik dalam keadaan sehat maka anak baru akan bisa melakukan kegiatan belajar. "Saya memahami ini sangat dilematis. Secara teori pendidikan, kesehatan adalah nomor satu," imbuhnya.

Kendati demikian, lanjutnya dilematis pendidikan harus disikapi dengan bijak. Menurutnya, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan bagi para pendidik agar kegiatan belajar jauh tetap bisa berjalan efektif.

Salah satunya adalah dengan menggunakan bahan ajar yang atraktif, sehingga peserta didik untuk usia dini tetap terserap. Apalagi ke depannya, digitalisasi pendidikan terus berkembang. Manakala unsur digital sudah masuk dalam pendidikan, lanjutnya, maka harus memenuhi tiga hal, yakni bunyi, verbal, dan atraktif. Sehingga anak tidak mudah bosan.

"Guru perlu disosialisasikan untuk memperbanyak konten belajar animasi yang menyenangkan. Agar tetap semangat belajar," ujarnya.

(rhs)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini