Ganjar Pranowo Sebut Permainan Gobak Sodor Cegah Siswa dari Paham Radikal

Taufik Budi, Okezone · Rabu 14 April 2021 11:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 512 2394403 ganjar-pranowo-sebut-permainan-gobrak-sodor-cegah-siswa-dari-paham-radikal-e5lI96hUCV.jpg Permainan Gobrak Sodor (Foto: Antara)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai, permainan atau dolanan tradisional bisa mencegah siswa sekolah tak berpaham radikal. Siswa akan mampu mengambil nilai keterbukaan satu sama lain, kepemimpinan, kerja sama (teamwork), dan nilai penting lainnya.

"Paling bagus sebenarnya (mencegah paham radikal) dengan seni dan budaya. Pelajar bisa menari, main ketoprak, wayang, dolanan. Itu mengakrabkan, berhubungan, terbuka, ada teamwork, leadership. Gobak sodor ada (nilai) leadership," kata Ganjar pada sambutannya dalam acara 'Pemasyarakatan dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila', dalam rangka puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Provinsi Jawa Tengah ke-49 tahun, Rabu (14/4/2021).

Pada kegiatan yang bertemakan, Penguatan Keluarga untuk Keluarga Berdaya Dalam Mencegah Radikalisme oleh Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Ganjar menekankan pentingnya siswa aktif pada kegiatan seni dan budaya.

Baca juga: 3 Permainan Jadul yang Mulai Dilupakan, Kangen Enggak Sih?

Selain itu pula, Ganjar menekankan, pentingnya rasa kemanusiaan terhadap sesama. Misalnya, membantu siswa lainnya yang tengah membutuhkan. Seperti halnya, ikut membantu saat ada teman yang kesulitan, membantu tetangga yang kesusahan, atau bersikap bijak saat menggunakan media sosial.

Di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau sejenisnya, biasanya bermunculan ujaran yang melenceng. Hendaknya, siswa bisa selektif dan bijak dalam menanggapi. Termasuk juga, bila di medsos terdapat konten yang menyalahkan kebaikan yang selama ini diajarkan orang tua, siswa hendaknya mengabaikan itu semua. "Kalau di medsos ada yang serem, kita beri contoh yang baik," sambungnya.

Baca juga: Ganjar Datangi Tanto Mendut Bahas Pengembangan Wisata Kawasan Borobudur

Paham radikal semacam itu, lanjutnya, biasanya berseliweran di media sosial. Dengan kecenderungan, biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu atau sekelompok kecil yang merasa paling benar sendiri. Sedangkan pihak lain adalah salah.

"Ciri radikal itu fanatik, menganggap diri benar, yang lain salah, intoleran, tidak mau menerima perbedaan dan keyakinan orang lain, revolusioner ingin ada perubahan secara drastis. Tidak jarang ada kekerasan, eksklusif atau memisahkan diri," ujarnya.

Dengan latar belakang radikalisme atau terorisme adalah fanatisme dan fundamentalisme agama yang berlebihan, nasionalisme yang berlebihan, separatisme, dan melakukan aksi kelompok teroris secara profesional.

Dalam kesempatan itu, Ganjar sempat menanyakan beberapa hal kepada siswa se-Jawa Tengah yang hadir secara daring, kaitannya dengan penyikapan mereka bila menemukan perbedaan di sekitarnya. Seperti halnya berbeda suku, beda agama, beda golongan, ternyata siswa seluruhnya menjawab sikap toleransi lah yang dikedepankan.

Bahkan, bila ada bendera yang harus dikibarkan, siswa menjawab paling utama bendera merah putih yang harus dikibarkan.

Ganjar menuturkan upaya menangkal radikalisme di antaranya dengan langkah preventif. Yaitu menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian, dan menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.

Upaya menangkal radikalisme juga secara kuratif, yakni memberikan pemahaman tentang bahaya dan dampak radikalisme, memberikan pemahaman tentang ajaran agama yang benar, serta menguatkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi dan perdamaian. "Perdamaian, perdamaian, ada lagunya, lho," ucap dia.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo mengajak orang tua untuk lebih memerhatikan lingkungan anaknya. Bahkan, ikut juga mendampingi anak saat mengoperasikan gawai (gadget).

 "Orang tua juga mendampingi saat anak memainkan gadget juga. Karena kita tidak tahu, anak kita browsing apa sejak pakai gadget. Supaya, anak-anak bisa memilih yang positif," kata Atikoh.

Menurutnya, orang tua wajib membentengi keluarga dengan mengenalkan ajaran dan sikap yang benar. Selain juga, menjadikan keluarga menjadi tempat yang nyaman. "Sehingga deteksi dini bisa lebih cepat dilakukan," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini