Foto Terakhir Lettu Laut Sona Perwira KRI Nanggala 402 Asal Blitar: Pak Aku Berangkat

Solichan Arif, Koran SI · Sabtu 24 April 2021 23:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 24 519 2400254 foto-terakhir-lettu-laut-sona-perwira-kri-nanggala-402-asal-blitar-pak-aku-berangkat-dwPT7r3WJF.jpg Lettu Laut Sona. (Foto: Istimewa)

BLITAR - Lettu Laut (P) Ady Sonata (29) baru tiga tahun bertugas di kapal selam Nanggala 402 yang hilang kontak di perairan  Bali. Ady Sonata sebelumnya berdinas di KRI nonkapal selam. Menurut Widya Ayu Retno Wulan, anggota TNI Kodim Blitar yang juga sepupu Lettu Sona, banyak yang diceritakan Sona sebelum mengambil pilihan sebagai pasukan kapal selam.  

"Seingat saya, Sona bertugas di kapal selam baru tiga tahun," ujar Widya saat ditemui di rumahnya Dusun Glondong, Kelurahan Satriyan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar Sabtu (24/4/2021).

Sona begitu biasa disapa, lahir dan tumbuh dari keluarga militer. Lettu Toha, ayah Sona anggota TNI AD yang saat ini berdinas di Depo Pendidikan (Depo) Malang. 

Juwairi, kakak kandung ibu Sona adalah pensiunan TNI AD dengan pangkat terakhir Serma. Juwairi merupakan ayah Widya. Tidak terkecuali adik Sona yang bernama Surya, juga berkarir di militer. Surya anggota TNI AU yang berdinas di Jakarta. Begitu juga dengan adik kandung Widya, juga berkarir sebagai anggota TNI AD.

Baca juga: Keluarga Letkol Laut Irfan Suri Awak KRI Nanggala 402 Berharap Keajaiban

Widya masih ingat saat Sona pertama kali berniat ikut seleksi pasukan kapal selam.  

"Saat itu telefon ibu saya, meminta doa restu kalau mau ikut seleksi kapal selam," tutur Widya. Melalui saluran telefon, ibu Widya yang juga bude Sona, mendoakan keponakannya.

Sejak ibunya meninggal, Sona menganggap ibu Widya sebagai pengganti orang tua. Setiap hendak memulai segala sesuatu, Sona selalu tidak lupa meminta doa restu. 

"Sudah seperti ibu sendiri. Saya sendiri kalau manggil Sona juga Le. Karena memang sudah seperti adik sendiri," ucap Widya.

Terkait karir di kapal selam itu Widya sempat bertanya ke sepupunya. Ia melihat resiko yang akan dijalani Sona jauh lebih besar. Yakni menyangkut nyawa. Apa jawabannya? Sona, kata Widya menegaskan bahwa menjadi anggota TNI sudah menjadi cita-citanya. 

Ia siap menghadapi segala resiko yang terjadi. "Sona menyatakan menjadi TNI sudah menjadi jalan hidupnya. Ia siap dengan segala risikonya," kata Widya.

Sona juga mengatakan pasukan di kapal selam merupakan pasukan khusus. Baginya masuk ke sana tidak mudah. Karirnya ke depan juga akan lebih baik. 

Baca juga: Pastikan Nasib Awak KRI Nanggala 402, TNI Upayakan Evakuasi Bangkai Kapal

"Sona memang begitu memperhatikan jenjang karir. Ia sudah siap dengan risiko di kapal selam," tambah Widya. 

Sona lolos seleksi tiga tahun lalu. Perwira AL asal Blitar tersebut resmi menjadi pasukan khusus kapal selam. Seingat Widya, latihan menembak torpedo bukan pertama kalinya dilakukan. Pada tahun 2020, Sona pernah melakukan latihan serupa dan baik-baik saja

Juwairi, ayah Widya menambahkan. Di matanya, keponakannya tersebut memiliki kepribadian yang baik. Sedari remaja hingga menjadi orang alias suksek, Sona tidak pernah lepas tirakat dan rajin berpuasa sunah.

"Puasa Senin-Kamis tidak pernah putus. Termasuk rajin sholat tahajud," kata Juwairi.

Secara sosial, terutama di lingkungan Dusun Glondong, sosok Sona dikenal rendah hati.  Meski sudah menjadi perwira TNI, gaya komunikasi Sona tidak pernah berubah. Terhadap setiap orang yang dikenal, ia selalu menyapa dulu tanpa pandang bulu.

"Tidak pernah memperlihatkan dirinya sebagai perwira. Saat pulang ke Blitar, tetap biasa ngobrol dengan orang-orang di sawah," tutur Juwairi. 

Sona yang bertempat tinggal di Surabaya terakhir silaturahmi ke Blitar pada Desember 2020. Ia datang bersama istri dan anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Rumah Juwairi dianggap Sona sudah seperti rumahnya sendiri. 

Sebelum datang, ia juga lebih dulu mengontak istri Juwairi. Dengan komunikasi manja seorang anak kepada ibunya, Sona minta dibuatkan soto ayam yang merupakan kuliner favoritnya. 

"Usai makan, piring yang ia pakai juga dicucinya sendiri. Sudah menjadi kebiasaanya dari dulu," kenang Juwairi dengan mata berkaca-kaca.

Sementara komunikasi terakhir Sona dengan keluarga Blitar tanggal 10 April. Melalui saluran telefon, ia meminta didoakan selamat dan lancar saat latihan menembak torpedo di perairan Bali. 

Juwairi tidak menyangka jika kapal selam Nanggala 402 dengan 53 personel, termasuk keponakannya tersebut, pada 21 April dinyatakan hilang (submiss) dan kini telah dinyatakan tenggelam (subsunk). Meski batas akhir oksigen kapal selam telah habis pada Sabtu (24/4) pukul 03.00 Wib dini hari, keluarga tetap berdoa semua ditemukan selamat. 

Juwairi juga memperlihatkan foto terakhir Sona yang dikirimkan ke Lettu Toha, ayahnya. Foto yang ia beri kalimat pamitan "Pak Aku Budal (berangkat)” diduga diambil di atas KRI Nanggala 402.

"Sejak Jumat (23/4) kami dan warga di lingkungan menggelar doa bersama. Begitu juga dengan malam ini. Kami tetap berharap datangnya mukjizat," pungkas Juwairi. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini