Cerita Nelayan Mudik Lewat Laut Lantaran Hindari Penyekatan di Jalur Darat

Fathnur Rohman, Okezone · Rabu 28 April 2021 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 28 525 2402303 cerita-nelayan-mudik-lewat-laut-lantaran-hindari-penyekatan-di-jalur-darat-x4B697YFNy.jpg Nelayan Cirebon mudik lewat laut (Foto : MPI/Fathnur)

CIREBON - Sejumlah nelayan asal Kecamatan Mundu, terpaksa menempuh perjalanan laut selama dua hari dari Jakarta ke Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Hal ini disebabkan, lantaran mereka tak punya biaya lebih untuk mudik dan menghidari adanya penyekatan di jalur darat setelah adanya keputusan larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu.

Sehingga, mereka memilih mengarungi laut, ketimbang mudik menggunakan angkutan umum atau semacamnya. Perjalanan yang ditempuh nelayan pun tidaklah mudah. Ganasnya cuaca buruk dan berbagai kendala lainnya, harus mereka hadapi ketika melintasi laut utara Jawa.

Kepada MNC Portal Indonesia, salah satu nelayan asal Kecamatan Mundu bernama Hasan Basri menceritakan, perjalanan mudik lewat jalur laut ini sangat beresiko bila dilakukan oleh warga biasa. Sebab, ia dan nelayan lainnya hanya menggunakan perahu tradisional dari perairan Jakarta menuju perairan Kabupaten Cirebon.

Perahu tradisional ini, kata dia, memiliki panjang sekitar tujuh meter dengan lebar dua meter. Menurutnya, kapal tersebut hanya bisa ditumpangi tiga atau lima orang saja. Perjalanan laut tersebut dilakukan para nelayan pada Sabtu, 24 Arpil 2021.

"Kita sampai di Cirebon, Sabtu malam kemarin perjalanan dari Jakarta. Sampai di Indramayu itu ada badai dan hujan. Jadi kita berhenti dulu. Ini kita memang Nelayan semua yang pulang. Tidak ada warga biasa. Kalau mereka naik kapal ini dan mudik lewat laut, itu nekat namanya," ujar Hasan, Rabu (28/4/2021).

Nelayan Cirebon mudik lewat laut (Foto : MPI/Fathnur)

Baca Juga : Mudik Dilarang, Puluhan Ribu Angkutan Umum Bakal Nganggur

Menurut Hasan, nelayan asal Kecamatan Mundu selalu mencari rajungan di sekitar perairan Jakarta. Paling dekat, kata dia, berada di area perairan Pelabuhan Cirebon. Bila sedang musimnya, dalam kurun waktu 20 hari mereka bisa menangkap rajungan mulai dari 80 kilogram sampai 1,5 kuintal.

Kalau hasil tangkapan rajungan sedikit, lanjutnya, para nelayan akan memilih kembali ke Cirebon. Untuk pulang, biasanya Hasan dan nelayan lain akan menggunakan bus dan melewati jalur darat. Akan tetapi, karena tak punya biaya serta adanya larangan mudik, mereka akhirnya pulang menggunakan perahu.

"Sebenarnya pulang pergi lewat laut udah biasa. Kita kan nelayan. Cuman karena viral ada berita warga mudik lewat laut saja jadi ramai. Saya 20 hari di Jakarta. Sampai dapatnya 5 hingga 10 kg. Uang cuman dapat Rp1 juta," ujar Hasan.

"Kalau pakai bus itu hari biasa tiketnya murah. Kalau sekarang mahal. Pulangnya pakai bus Rp60 ribu. Soalnya sekarang kan larangan mudik jadi lewat jalan tikus Rp300 ribu per orang. Itu mahal," tambah Hasan.

Masih kata Hasan, saat ini masih ada 20 kapal nelayan asal Mundu yang berada di Jakarta. Ia mengaku, sejumlah petugas dari kepolisian sempat melakukan patroli di perairan Mundu, setelah kabar para nelayan melakukan mudik mencuat.

Dia memastikan, tidak ada satu orang pun warga biasa yang ikut dalam perjalanan tersebut. Ia mengaku, pulang dari Jakarta ke Cirebon dengan mengarungi laut utara Jawa hanya dilakukan oleh para nelayan saja.

"Masih ada 20 perahu di sana. Nanti saya takut gak bisa ke laut karena di sekat. Rencananya habis lebaran ke Jakarta lagi cari rajungan," ucap Hasan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini