Polisi Tangkap Bandar Ratusan Ribu Pil Koplo di Blitar, Dikendalikan dari Lapas Madiun

Solichan Arif, Koran SI · Jum'at 30 April 2021 13:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 519 2403441 polisi-tangkap-bandar-ratusan-ribu-pil-koplo-di-blitar-dikendalikan-dari-lapas-madiun-5B9mwgJogP.jpg Ilustrasi. (Foto: Antara)

BLITAR - Peredaran pil koplo jenis dobel L yang diduga dikendalikan narapidana dari dalam Lapas Madiun, dibongkar di Blitar. Dari tangan FW (27) warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar yang diringkus di rumahnya, petugas menyita 229 ribu butir dobel L. 

"Dari hasil penyidikan diduga berasal dari jaringan LP Madiun," ujar Staf Humas Polres Blitar Kota Aipda Supriyadi kepada wartawan Jumat (30/4/2021).

Baca juga: Petugas Temukan Ratusan Pil Koplo yang Diselundupkan ke Lapas Kedungpane Semarang

Ratusan ribu dobel L itu ditempatkan di dalam botol. Ada sebanyak 229 botol yang berada dalam tiga kardus. Selain dobel L, petugas juga menemukan satu strip obat yang diduga pil koplo jenis lain.  

Satu strip berisi 10 butir riklona dan 2 butir clonazepam. Satu unit perangkat sablon, satu kaleng berisi tinta sablon, satu buku tabungan atas nama FW dan satu unit ponsel, juga ikut diamankan sebagai barang bukti. Menurut Supriyadi, FW kategori pengedar besar atau bandar, yang mana mengaku baru berjalan setahun. 

Baca juga: Pil Koplo Dibungkus Serupa Permen Warna-Warni Hebohkan Blitar

Semua barang haram tersebut diduga berasal dari kiriman BD, yakni napi Lapas Madiun yang saat ini masih diselidiki. Agar bisnis haramnya berjalan aman, FW menerapkan sistem ranjau, yakni meninggalkan barang di suatu tempat yang disepakati, lalu pembeli mengambilnya sendiri. 

"Pelanggan pelaku ada di wilayah Blitar dan Tulungagung," terang Supriyadi. 

Kapolres Blitar Kota AKBP Yudhi Heri Setiawan menegaskan, penyelidikan kasus pil koplo yang diduga melibatkan jaringan napi lapas tersebut masih terus dikembangkan.

Dalam kasus ini pelaku FW dijerat dengan UU Kesehatan dengan ancaman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 10 tahun penjara. "Saat ini penyelidikan masih kita kembangkan," pungkas Yudhi.  

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini