Hardiknas dan Tanggung Jawab Kaum Intelektual Bangsa

Tim Okezone, Okezone · Minggu 02 Mei 2021 07:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 65 2404157 hardiknas-dan-tanggung-jawab-kaum-intelektual-bangsa-NKpsbHa5Ai.jpg Hari Pendidikan Nasional, Hardiknas 2 Mei

HARDIKNAS atau Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pada 2 Mei diambil dari hari kelahiran tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara (1889 - 1959). Sosok aktivis dan tokoh pergerakan kemerdekaan asal Yogyakarta itu meninggalkan banyak legacy bagi dunia pendidikan nasional, di antaranya lembaga pendidikan Taman Siswa di Jogja. 

Salah satu semboyan yang berasal dari Ki Hadjar Dewantara ialah: "Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani", artinya "Di depan harus memberi contoh yang baik, di tengah-tengah harus menciptakan ide dan prakarsa, di belakang harus bisa memberi dorongan dan arahan. Semboyan tersebut, misalnya tut wuri handayani menjadi motto dan logo Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Bangsa Indonesia perlu melestarikan jiwa dan semangat Hari Pendidikan Nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan berkaitan dengan penanaman watak, karakter dan penghayatan sistem nilai, bukan sekadar transmisi pengetahuan dan keterampilan semata. Dunia pendidikan harus dikelola dengan baik, bukan sekadar untuk melayani kebutuhan pasar, melainkan untuk masa depan bangsa, negara dan kemanusiaan dalam pengertian luas.

Sejalan dengan amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, negara melalui peran pemerintah punya tanggungjawab memfasilitasi dan mengelola kebijakan publik di bidang pendidikan. Dunia pendidikan memiliki ruh, filosofi dan nilai-nilai yang inheren dengan tujuan bernegara dn ideologi nasional. Pemerintah dan segenap unsur masyarakat harus membangun pendidikan Indonesia yang berbeda dari sekadar pendidikan di Indonesia

Kemajuan bangsa tidak terlepas dari peran dunia pendidikan. Generasi terpelajar adalah produk dari pendidikan yang terbentang sejak dari rahim ibu, pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah dan di tengah masyarakat.

Dalam perspektif Islam, tujuan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tujuan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Allah dan khalifah-Nya di bumi.

Untuk itu pendidikan manusia seutuhnya mensenyawakan dimensi jasmani, rohani, akal, dan akhlak dalam diri manusia. Pendidikan dianggap gagal jika keluaran (ouput) yang dihasilkan ialah sumber daya manusia yang sekadar pintar dan menguasai teknologi, tetapi tuna moral, tidak memiliki rasa peduli dan tidak memiliki empati terhadap sesama. Dalam istilah yang sering diucapkan oleh Prof. Dr. B.J. Habibie, perlu keseimbangan antara penguasaan “Iptek dan Imtak”, ilmu pengetahuan-teknologi dan iman-takwa.

Saya terkesan dengan motto pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor yang merefleksikan konsepsi pendidikan manusia seutuhnya seperti dikehendaki dalam Islam, yaitu: "Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, Berpikiran Bebas. Kata berbudi tinggi sengaja disebut di depan. Bahwa fisik yang sehat dan kuat, ilmu pengatahuan yang luas dan kebebasan berpikir, akan memberi manfaat jika berada di atas pangkuan budi pekerti yang tinggi atau akhlakul karimah.

Sejarah mencatat betapa dunia pendidikan terus mengalami perkembangan, evolusi bahkan disrupsi seiring dengan perubahan masyarakat. Dunia pendidikan harus tanggap terhadap perubahan zaman, namun tidak boleh terjebak dalam pragmatisme pasar sehingga meninggalkan dasar-dasar fundamental pendidikan itu sendiri.

Sistem pendidikan nasional dibangun di atas landasan ideologi Pancasila dan way of life sebagai bangsa religius. Dengan demikian, misi pendidikan untuk melahirkan manusia dan warga negara merdeka dengan tanggungjawab kemanusiaan yang disandangnya harus terjaga selamanya. Bangsa ini harus memiliki budaya dan perilaku menghargai ilmu dan tanggungjawab intelektual. Sistem pendidikan nasional tidak boleh mengabaikan Pendidikan Agama dalam peta jalan maupun standar kurikulumnya.

Dalam kaitan ini, mari kita renungkan pesan bapak bangsa Dr. Mohammad Hatta pada Hari Alumni I Universitas Indonesia tanggal 11 Juni 1957 berjudul Tanggung Jawab Moril Kaum Inteligensia, sebagai berikut: Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar.

Kurang kecerdasan dapat diisi, kurang karakter sukar memenuhinya, seperti ternyata dengan berbagai bukti di dalam sejarah. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh dengan begitu saja. Saya ingin melihat kaum inteligensia Indonesia menunjukkan tanggungjawab morilnya terhadap usaha-usaha pembangunan negara dan masyarakat kita, dengan berpedoman kepada cinta akan kebenaran, yang menjadi sifat bagi orang berilmu.

Seorang intelektual sejati tetap konsisten mengamalkan ilmunya dan bekerja demi bangsa, bukan sekadar mengatas-namakan bangsa. Seorang intelektual sejati yang mencintai bangsa dan bertakwa kepada Tuhan menurut ajaran agamanya takkan sudi mengkhianati ilmunya dan mengkhianati bangsanya.

Sejalan dengan itu, dalam ucapan selamat kepada keluarga, saudara, sahabat dan sejawat yang menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi selalu kita ucapkan doa, semoga ilmunya bermanfaat. Bermanfaat bagi siapa, ialah bermanfaat untuk sesama manusia.

Oleh: Sekretaris Ditjen Bimas Islam,

Muhammad Fuad Nasar

(Vitri)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini