Kesaksian WNI di Gaza: Tak Ada Tempat Berlindung saat Konflik Israel-Palestina Berkecamuk

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 12 Mei 2021 02:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 18 2409303 kesaksian-wni-di-gaza-tak-ada-tempat-berlindung-saat-konflik-israel-palestina-berkecamuk-KCr1VBYYOz.jpg Konflik Israel dan Palestina (Foto: Reuters)

KORBAN semakin bertambah di Gaza dalam bentrokan yang terus meningkat antara kelompok Palestina dan tentara Israel. Dua warga negara Indonesia di Gaza, Abdillah Onim dan Husen mengatakan sasaran serangan acak dan warga tak memiliki tempat berlindung.

Dari ratusan korban luka, terutama yang tinggal di Gaza utara, dilarikan ke rumah sakit Indonesia, menurut Onim. Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 26 orang, termasuk anak-anak, meninggal akibat serangan udara Israel.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan ia telah menyetujui dikerahkannya 5.000 tentara cadangan. Di kota Ashkelon, dua warga Israel meninggal akibat serangan roket di Gaza.

Baca Juga: Konflik Palestina-Israel: Ini Fakta-Fakta Penting di Balik Sengketa Berusia 100 Tahun

Seorang pejabat Palestina mengatakan Mesir, Qatar dan PBB berupaya untuk turun tangan guna menekan kekerasan terparah sejak 2019, yang terjadi pada hari-hari terakhir Ramadhan.

Militer Israel mengatakan mereka menggempur 130 "sasaran teror" semalam di Gaza termasuk pabrik senjata dan tempat penyimpanan. "Kam akan terus menghantam Hamas dan semua komponen militer mereka karena agresi mereka terhadap Israel," kata juru bicara Letnan Kolonel Jonathan Conricus kepada BBC.

Konflik terus berlanjut sejak bentrokan berdarah di Masjid Al-Aqsa, Jumat 7 Mei lalu. Lebih dari 300 orang Palestina terluka Senin 10 Mei, dalam bentrokan dengan polisi Israel yang melepaskan peluru karet, granat kejut dan gas air mata di kompleks Masjid al-Aqsa, menurut Masyarakat Bulan Sabit. Polisi mengatakan 21 personel terluka di lokasi. 

Israel mulai melancarkan serangan udara Senin malam 10 Mei waktu setempat, untuk membalas apa yang mereka sebut tembakan roket dari Hamas dan militan Palestina lainnya.

WNI di Gaza: Tak ada tempat berlindung

Dua WNI yang tinggal di Gaza, Abdillah Onim dan Husen mengatakan mereka tidak berani keluar rumah karena hantaman serangan udara yang dilakukan secara acak, termasuk menyasar rumah penduduk. Dari banyak korban luka di Kota Gaza, menurut Onim, korban dilarikan ke rumah sakit As-Syifa sementara di Gaza utara, korban dibawa ke rumah sakit Indonesia untuk mendapatkan penangan medis.

Onim juga mengatakan blokade yang dilakukan Israel yang menyebabkan kurangnya obat-obatan semakin sulit akibat pandemi Covid-19 dan serangan besar ini

Baca Juga:  Presiden Palestina Batalkan Perayaan Idul Fitri Setelah Pengeboman Israel di Gaza

Sementara Husen, aktivis kemanusiaan dan wartawan di Gaza, mengatakan "serangan sangat masif, sporadis, acak menyasar pemukiman warga dan di Gaza tidak ada fasilitas bungker yang dapat digunakan untuk berlindung. Itu yang menyebabkan banyaknya korban."

Husen mengatakan saat tengah merekam suara untuk BBC News Indonesia, ia "mendengar dentuman bom di kanan dan kiri, sangat mencekam, namun warga Gaza tenang saja, karena terbiasa menghadapi siatuasi seperti ini."

"Masjid, warung dan toko masih buka, kita tak bisa memprediksi sampai kapan kondisi akan berlangsung...Masih terlihat normal, namun saat agresi militer terjadi dengan serangan udara, darat dan laut, akan berbeda kondisinya," tambah Husen mengacu pada persetujuan menteri pertahanan Israel untuk mengerahkan 5.000 tentara cadangan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa Hamas sudah "melewati batas" dengan mengarahkan roket-roketnya ke Yerusalem sehingga pihaknya "merespons dengan kekuatan."

"Kita tidak akan mentolerir serangan atas wilayah kita, ibu kota kita, rakyat kita, dan tentara kita. Mereka yang menyerang kita akan membayar mahal," kata Netanyahu saat memimpin rapat dengan pimpinan militer dan dinas keamanan Shin Bet.

Militer Israel mengungkapkan 150 roket ditembakkan dari Gaza, puluhan di antaranya berhasil ditangkal Sistem Pertahanan Udara Kubah Besi, dan tidak menimbulkan korban jiwa. Tidak lama kemudian Israel menggempur posisi-posisi strategis Hamas di Gaza, yaitu dua peluncur roket, dua pos militer, terowongan dan delapan aparat Hamas.

Sumber-sumber Hamas mengatakan kepada AFP bahwa seorang komandan mereka, Mohammed Fayyad, tewas.

Sebelumnya, Hamas telah mengancam akan melancarkan serangan setelah lebih dari 300 warga Palestina luka-luka setelah kembali bentrok dengan polisi Israel di kompleks suci Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada Senin.

Indonesia mengutuk pengusiran warga Palestina oleh Israel. Sementara itu masyarakat internasional terus bereaksi atas pecahnya lagi konflik Israel dan Palestina di Yerusalem.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan Presiden Joe Biden sangat prihatin atas kekerasan yang terjadi. Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab dalam cuitannya mengatakan serangan roket "harus dihentikan" dan menyerukan agar diakhiri "sasaran warga sipil."

Juru bicara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan kekerasan di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, "harus dihentikan segera."

Juru bicara Kantor PBB untuk Hak Asasi Manusia, Rupert Colville mengatakan "sangat prihatin" dan mengecam "semua yang memicu kekerasan dan provokasi."

Konflik itu berawal saat para warga Palestina memprotes rencana Israel untuk menggusur mereka dari kawasan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur dalam rangka perluasan permukiman Yahudi. Aksi protes usai salat Jumat pada 7 Mei lalu itu berlanjut dengan bentrokan polisi Israel dan sejak itu terus berlangsung.

Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyatakan bahwa pengusiran paksa warga Palestina dari Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Masjid Al-Aqsa tidak boleh diabaikan.

"Indonesia mengutuk tindakan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Israel. Indonesia akan terus berpihak pada rakyat Palestina," demikian keterangan Jokowi dalam bahasa Inggris lewat akunnya di Twitter Senin kemarin.

Sementara itu, AS, Uni Eropa, dan Inggris telah mendesak Israel dan Palestina untuk meredakan ketegangan sesegera mungkin. 

Bentrokan pawai bendera

Bentrokan kembali terjadi di dekat Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, menjelang Pawai Bendera Hari Yerusalem yang digelar oleh kalangan nasionalis Yahudi pada Senin sore 10 Mei waktu setempat.

Kepolisian Israel mengatakan ribuan warga Palestina membarikade diri di dalam masjid pada Minggu malam (09/05), bersenjatakan bom molotov dan batu.

Masih menurut kepolisian Israel, aparatnya menggunakan granat kejut, peluru karet dan gas air mata untuk melawan massa yang melemparkan batu.

Pawai bendera tahunan digelar untuk memperingati perebutan Israel atas Yerusalem Timur - wilayah rumah bagi Kota Tua dan situs-situs suci - dalam perang pada tahun 1967.

Acara itu biasanya diwarnai dengan aksi ratusan pemuda Israel mengibar-ibarkan bendera ketika memasuki bagian yang diperuntukkan bagi Muslim, menuju Tembok Barat, tempat suci orang Yahudi. Mereka berbaris sambil menyuarakan puji-pujian dan lagu-lagu patriotis.

Bentrokan terbaru ini terjadi menyusul peristiwa berdarah antara warga Palestina dan aparat keamanan Israel yang terulang kembali di kawasan Kota Tua, Yerusalem, Sabtu 8 Mei waktu setempat.

Dalam bentrokan itu, para pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah polisi dan menyalakan api di Gerbang Damaskus di Kota Tua Yerusalem, dan aparat menanggapinya dengan menembakkan granat kejut dan meriam air.

Tim kesehatan Palestina mengatakan lebih dari 300 orang Palestina terluka, sementara kepolisian Israel mengatakan setidaknya 20 orang petugas terluka.

Kompleks suci bagi Islam dan Yudaisme

Insiden ini kembali terjadi setelah kerusuhan berhari-hari menyusul ancaman pengusiran terhadap warga Palestina dari wilayah mereka yang diklaim oleh para pemukim Yahudi.

Kompleks masjid Al-Aqsa Yerusalem merupakan salah satu situs Islam yang paling dihormati, tetapi lokasinya juga merupakan situs tersuci dalam Yudaisme, yang dikenal sebagai Temple Mount.

Kompleks ini acap kali menjadi titik nyala kekerasan, tetapi insiden pada hari Jumat termasuk yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan PBB pada hari Sabtu telah menyatakan "keprihatinan mendalam" atas kekerasan yang terus meningkat di wilayah itu.

Dalam perkembangan terpisah pada hari Sabtu, militer Israel mengatakan sebuah roket ditembakkan oleh militan Palestina dari Jalur Gaza yang dikuasai kelompok militan Hamas ke wilayah Israel.

"Sebagai tanggapan, pesawat kami baru saja menyerang pos militer Hamas di wilayah selatan Gaza," demikian cuitan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Twitter.

IDF tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi media Israel melaporkan bahwa roket itu mendarat di kawasan terbuka tanpa menyebabkan cedera atau kerusakan.

Seperti apa kejadian kekerasan terbaru?

Bentrokan pada hari Sabtu terjadi di Gerbang Damaskus setelah puluhan ribu jamaah menggelar salat di masjid Al-Aqsa untuk menyambut Lailatul Qadar, malam paling suci di bulan Ramadan.

Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan setidaknya 90 orang Palestina terluka, dan 14 orang dilarikan ke rumah sakit ketika itu.

Sebelumnya, polisi Israel telah menghentikan puluhan bus yang membawa rombongan jamaah ke masjid, dan sejumlah warga Palestina ditangkap setelah kekerasan pada hari Jumat.

"Mereka tidak ingin kami berdoa. Ada perkelahian setiap hari, setiap hari ada bentrokan. Setiap hari selalu ada masalah," kata Mahmoud al-Marbua, 27 tahun, kepada kantor berita Reuters.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya bertindak secara bertanggung jawab untuk memastikan proses hukum dan ketertiban tetap berjalan, sambil mempertahankan kebebasan beribadah.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas mengutuk apa yang dia katakan sebagai "serangan penuh dosa" Israel.

Apa yang terjadi di kompleks Al-Aqsa pada hari Jumat?

 

Sebelumnya, bentrokan berdarah terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsa Yerusalem pada Jumat malam waktu setempat 7 Mei.

Ini terjadi setelah polisi Israel menembakkan peluru karet dan granat kejut ke arah para warga Palestina yang bersenjatakan batu.

Insiden ini terkait dengan ancaman pengusiran atas warga Palestina dari wilayah mereka yang diklaim oleh para pemukim Yahudi.

Sedikitnya 205 warga Palestina dan 17 aparat keamanan Israel luka-luka akibat bentrokan, ungkap kantor berita Reuters merujuk laporan dari kedua pihak.

Ketegangan kembali muncul di Yerusalem dan wilayah pendudukan Tepi Barat selama bulan suci Ramadan setelah beberapa kali bentrokan terjadi pada malam hari di Sheikh Jarrah - wilayah di mana banyak keluarga Palestina menghadapi pengusiran setelah sekian lama bersengketa secara hukum.

Seruan untuk menahan diri bagi kedua pihak telah dilontarkan Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa Bangsa, sementara Uni Eropa dan Yordania menyatakan keprihatinan atas situasi yang memanas terkait ancaman pengusiran atas warga Palestina.

Mengapa konflik bisa pecah lagi?

Puluhan ribu warga Palestina berdatangan ke Masjid Al-Aqsa, yang merupakan salah satu tempat suci bagi umat Muslim, kemarin untuk salat Jumat. Ini merupakan Jumat terakhir di bulan suci Ramadan tahun ini.

Setelah salat, banyak yang memilih tidak langsung pulang untuk ikut aksi protes menentang pengusiran warga Palestina di wilayah yang diklaim pemukim Yahudi.

Setelah berbuka puasa, pecah bentrokan di Al-Aqsa dan di dekat Sheikh Jarrah, yang terletak tak jauh dari Gerbang Damaskus yang terkenal di kawasan Kota Tua Yerusalem.

Polisi Israel menggunakan meriam air dari kendaraan lapis baja untuk membubarkan ratusan pemrotes yang berkumpul di dekat rumah-rumah keluarga yang terancam diusir.

Para pemrotes juga berasal dari kawasan lain. "Kami sudah terbiasa menghadapi pendudukan ini, mereka mulanya mengambil beberapa rumah di sini secara ilegal, lalu mengeklaim bahwa rumah-rumah ini punya mereka," kata pemrotes bernama Bashar Mahmoud, pemuda 23 tahun yang tinggal di kawasan Issawiya yang dekat dengan Sheikh Jarrah.

"Bila tidak mendukung kelompok warga di sini, [pengusiran] akan terjadi di rumah saya, rumah dia, rumah mereka, dan semua warga Palestina yang tinggal di sini," lanjutnya.

Pengurus masjid Al-Aqsa berupaya menenangkan situasi lewat pengeras suara. "Polisi harus berhenti tembakkan granat kejut ke jemaah, anak-anak muda harus tenang dan diam!"

Namun, bentrokan berdarah tak terelakkan. Dinas ambulans Bulan Sabit Merah Palestina mengungkapkan 108 dari warga Palestina yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit, banyak dari mereka yang kena tembak peluru logam berlapis karet.

Seorang yang terluka harus kehilangan salah satu matanya, dan dua lainnya luka parah di kepala. Dua lagi retak tulang rahang. Sedangkan sebagian besar korban cedera rata-rata luka ringan, ungkap pernyataan Bulan Sabit Merah Palestina.

Seorang juru bicara polisi Israel menyatakan bahwa para pemrotes melemparkan bebatuan, petasan dan benda-benda lain ke arah para petugas, sekitar setengah dari 17 yang luka-luka harus dirawat di rumah sakit.

"Kami akan memberi tindakan tegas atas setiap kekerasan, kerusuhan, atau penyerangan atas petugas kami dan akan mencari siapa yang bertanggungjawab serta membawanya ke muka hukum," kata juru bicara itu.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengatakan bahwa Israel harus bertanggungjawab atas situasi yang membahayakan itu dan atas serangan yang terjadi di kota suci tersebut. Dia pun menyerukan Dewan Keamanan PBB segera menggelar rapat khusus menanggapi kekerasan itu.

Kekerasan yang meningkat di wilayah pendudukan Tepi Barat, saat dua warga bersenjata Palestina tewas dan seorang lagi luka parah pada Jumat kemarin setelah mereka menembaki basis militer Israel. Setelah insiden itu, militer Israel menyatakan akan menambah pasukan tempur ke Tepi Barat.

Mengapa Sheikh Jarrah jadi konflik?

Sebagian besar warga Sheikh Jarrah adalah orang Palestina. Namun, bagi Israel, wilayah itu merupakan lokasi suatu tempat suci karena terdapat makam seorang imam agung Yahudi.

Warga Palestina khawatir mereka akan diusir dari lingkungan itu, apalagi saat Mahkamah Agung Israel akan menggelar sidang soal sengketa hukum wilayah tersebut pada Senin pekan depan.

Juru bicara Komisi PBB urusan Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa pengusiran, bila diputuskan dan dilaksanakan, akan melanggar kewajiban Israel di muka hukum internasional atas wilayah Yerusalem Timur yang direbut dan didudukinya, bersama dengan Tepi Barat, dari Yordania pada 1967.

"Kami menyerukan Israel untuk segera menghentikan semua pengusiran paksa, termasuk mereka yang tinggal di Sheikh Jarrah, dan menghentikan setiap kegiatan yang akan menimbulkan suasana yang koersif dan mengarah kepada alih kepemilikan paksa," kata juru bicara Komisi HAM PBB, Rupert Colville pada Jumat.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa Palestina sedang "menghadirkan perselisihan real-estat antarpihak swasta untuk kepentingan nasionalis, dalam rangka menghasut kekerasan di Yerusalem." Palestina membantah klaim tersebut.

Israel menduduki Yerusalem Timur sejak Perang Timur Tengah 1967 dan mengeklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya,, walau itu tidak diakui sebagian besar masyarakat internasional.

Sedangkan Palestina menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya masa depan sebagai negara yang independen.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini