Kesenian Tayub Pati Tetap Lestari di Tengah Pandangan Negatif Masyarakat

Agregasi Solopos, · Jum'at 14 Mei 2021 10:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 512 2410077 kesenian-tayub-pati-tetap-lestari-di-tengah-pandangan-negatif-masyarakat-56KAD9gbOL.jpg Ilustrasi (Foto : Instagram/@desa_srikaton)

PATI - Kesenian Tayub merupakan tradisi yang masih terus dilakukan masyarakat pesisir utara Pulau jawa, khususnya di Kabupaten Pati. Tradisi ini dilakukan minimal setahun sekali dalam acara sedekah bumi. Di salah satu desa di Kabupaten Pati, tradisi tayub ini juga dianggap sebagai pestanya para kaum petani.

Para sesepuh mengartikan nama Tayub sebagai ditoto ben guyub, (Bahasa Jawa: diatur agar tercipta kerukunan), sebuah filosofi yang ditanamkan pada Tayub sebagai kesenian untuk pergaulan. Nilai dasarnya adalah kesamaan kepentingan untuk mengapresiasi jiwa dan bakat seni.

Tayub juga merupakan tradisi yang mengandung unsur keindahan, spiritual dan keserasian gerak. Unsur keindahan berasal dari lenggak lenggok penari, unsur spiritualnya dipercaya jika ada laki-laki yang berani mbeso (menari), dirinya akan awet muda. Sedangkan unsur gerak terlihat pada gerakan penari tersebut.

Berdasarkan pantauan Solopos melalui kanal Youtube, Soma Channel, Selasa (11/5/2021), menjelaskan tradisi Tayub dipercaya sudah ada sejak masa kerajaan Singasari. Pertama kali digelar pada masa pemerintahan Prabu Tunggul Ametung.

Kemudian tradisi ini berkembang di Kerajaan Kediri dan Majapahit. Pada zaman ini, tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari upacara syukuran bagi para pemimpin pemerintahan yang mendapatkan jabatan baru atau sebagai ritual doa bagi prajurit yang akan maju berperang.

Saat agama Islam masuk ke Indonesia, tradisi Tayub jarang dilakukan, khususnya yang berada di dekat dengan pusat kerajaan, seperti yang ada di Demak. Tradisi Tayub pada masa itu hanya dilakukan di daerah pedesaan.

Baca Juga : Penganut Islam Aboge di Banyumas Gelar Sholat Id Hari Ini

Kisah di balik kesenian Tayub ini diawali dari turunnya para dewi kayangan ke bumi dan menari berjejeran dengan gerak yang serasi. Pada masa pengajaran Walisongo, Tayub dipakai sebagai media untuk berdakwah, sehingga unsur-unsur agama Islam dimasukan.

Namun sangat disayangkan, pada masa kolonialisme Belanda, tradisi Tayub ini menjadi negatif karena unsur-unsur budaya barat yang dimasukkan tradisi ini oleh penjajah. Unsur negatif yang diberikan itu berupa tradisi minum-minuman beralkohol serta tindakan asusila.

Karena unsur negatif ini sudah melekat pada tradisi Tayub, hingga pada masa pemerintahan Sunan Pakubowono IV, tradisi ini tidak diperkenankan digelar kembali di kawasan pusat kerajaan dan akhirnya berkembang ke daerah-daerah pesisir utara Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Persepsi negatif dari tradisi Tayub ini semakin kuat karena keterlibatan penari wanita yang menari dengan penonton laki-laki dan ada yang sampai memberikan saweran kepada penari tersebut. Penari itu menerima saweran dan memasukannya ke dalam kemben sehingga muncul anggapan prostitusi dalam tradisi ini.

Baca Juga : Tradisi Lebaran Masyarakat Betawi di Ambang Kepunahan

Fungsi dari tradisi Tayub ini berkali-kali mengalami pergeseran, dari awalnya sebagai ritual hingga sekarang sebagai hiburan semata. Di mana dalam pertunjukan tayub, penari wanita akan mengajak penonton pria menari bersama dengan mengalungkan ledek atau selendang kepada penonton pria. Namun karena sudah melekat secara turun temurun, tradisi ini tetap digelar sebagai tujuan pergaualan atau hiburan saja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini