Mitos "Buto Ijo" Tak Ada Kaitan dengan Gerhana Bulan Total, Ini Penjelasannya

Ali Masduki, Koran SI · Kamis 27 Mei 2021 05:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 27 519 2415969 mitos-buto-ijo-tak-ada-kaitan-dengan-gerhana-bulan-total-ini-penjelasannya-qtlB8grKkw.jpg Gerhana Bulan Total (Foto: Carlos Fajarta)

SURABAYA - Gerhana bulan total kerap kali dihubung-hubungkan dengan mitos. Fenomena alam yang menarik dan terbilang langka ini juga membuat orang-orang berspekulasi hingga menjadikannya sebagai mitos yang mewarnai gerhana bulan. Tak hanya di zaman kuno, mitos gerhana bulan juga muncul di zaman modern.

Ketua Prodi Hukum Keluarga Islam UMSurabaya, Mohammad Ikhwanuddin, menegaskan bahwa proses terjadinya gerhana merupakan sebuah fenomena alam yang tidak berkaitan dengan mitos apapun.

“Gerhana adalah sunnatullah. Tidak ada hubungannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang, bencana alam, maupun mitos yang diyakini masyarakat seperti ditelannya bulan oleh raksasa atau buto ijo," katanya di sela-sela pengamatan gerhana bulan total, di UMSurabaya, Rabu (26/5/2021).

Baca Juga:  Gerhana Bulan Total, Pelabuhan Sunda Kelapa Diterjang Banjir Rob

Ikhwanuddin menjelaskan, gerhana bulan kali ini disebut sebagai “Super Blood Moon”, yakni gabungan antara Supermoon dan Bloodmoon. Supermoon adalah istilah ketika bulan purnama berada pada titik terdekatnya dengan bumi atau titik perigee, yakni berjarak sekitar 357.462 kilometer dari bumi. Sementara saat berada pada titik terjauh atau apogee, bulan berjarak 407.000 kilometer dari bumi.

"Karenanya bulan pada saat supermoon akan terlihat 14% lebih besar dan 30% lebih cerah daripada purnama saat jarak terjauhnya," terangnya.

Istilah bloodmoon menunjukkan tampilan bulan yang berwarna merah saat gerhana akibat pembiasan cahaya matahari oleh lapisan atmosfer bumi. Saat puncak gerhana berlangsung, bulan tidak sepenuhnya berwarna gelap namun akan berwarna kemerahan.

Sedangkan rangkaian gerhana bulan berada pada tujuh fase. Yakni awal penumbra pada pukul 15.46, awal umbra pukul 16.44, awal gerhana total pukul 18.09, puncak gerhana pukul 18.18, akhir gerhana total pukul 18.28, akhir umbra pukul 19.52, dan akhir penumbra pukul 20.51. Total proses gerhana memiliki durasi waktu 5 jam lebih 5 menit. Sementara itu, matahari tenggelam untuk wilayah surabaya pada pukul 17.18.

Pengajar Astronomi UMSurabaya, Andi Sitti Mariyam, mengatakan bahwa secara astronomis proses terjadinya gerhana mematahkan isu yang menyatakan bahwa bumi itu datar. “Pada saat bayangan bulan masuk maupun mulai keluar dari bagian umbra, terlihat bayangan bumi membentuk lengkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa bumi itu tidak datar," ungkapnya.

Baca Juga:  Sholat Gerhana Bulan, Imam Masjid Istiqlal Ajak Jamaah Contoh Alam Semesta

Menanggapi berita yang beredar tentang kemungkinan banjir rob saat gerhana saat malam hari, Andi Sitti Mariyam berpendapat bahwa pada dasarnya peredaran bulan mengelilingi bumi menimbulkan efek pasang surut.

"Di setiap purnama memang akan terjadi pasang dan mungkin banjir rob untuk wilayah yang rendah atau pesisir. Jadi peristiwa banjir rob tidak secara khusus diwaspadai akan terjadi pada saat gerhana saja, namun setiap purnama,” tegasnya.

Fenomena Super Blood Moon terjadi di langit Indonesia pada Rabu (26/5/2021) ini sekaligus dimanfaatkan oleh Prodi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) sebagai Pekan Astronomi. UMSurabaya melakukan pengamatan gerhana bulan hingga pengukuran arah kiblat dengan menggunakan matahari.

Pengamatan gerhana bulan dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2021 pukul 17.30 sampai selesai di Rooftop Gedung At-Tauhid Tower lantai 4 UMSurabaya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan bantuan teleskop. Meskipun dapat dilihat dengan mata, namun alat bantu berupa teleskop disiapkan agar dapat melihat bentuk bulan dengan lebih jelas.

Dalam agenda tersebut, selain melakukan pengamatan gerhana dengan menggunakan peralatan seperti teleskop, kamera DSLR, juga dilakukan rangkaian shalat gerhana serta edukasi astronomi. Materi yang didapatkan antara lain berupa pembelajaran fase gerhana serta seni memotret keindahan langit.

Dosen dan mahasiswa hadir ke kampus dengan protokol kesehatan yang ketat, sedangkan sisanya wajib mengikuti dari rumah melalui berbagai channel yang disediakan baik melalui Zoom, Youtube maupun Live Instagram @umsurabaya.

Pengukuran dilakukan tanggal 27 dan 28 Mei pukul 16.18 WIB. Pada jam tersebut, matahari berada tepat di atas ka’bah. Karenanya, bayangan dari benda di seluruh permukaan bumi yang tersinari cahya matahari akan membelakangi arah kiblat. Untuk mengukurnya hanya memerlukan alat sederhana, yakni benda yang berdiri tegak lurus, serta spidol sebagai penanda arah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini