Mengintip Ritual Adat Mombang Boru Sipitu Suddut di Simalungun agar Dijauhkan dari Covid-19

Dharma Setiawan, iNews · Kamis 27 Mei 2021 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 27 608 2415999 mengintip-ritual-adat-mombang-boru-sipitu-suddut-di-simalungun-agar-dijauhkan-dari-covid-19-LPhbD53SJ1.jpg Tradisi adat mombang boru sipitu suddut di Simalungun, Sumut. (Foto : iNews/Dharma Setiawan)

SIMALUNGUN – Masyarakat adat di Desa Sihaporas, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, memiliki banyak tradisi dan budaya. Salah satunya tradisi adat mombang boru sipitu suddut. Tradisi ini berisi ritual adat untuk tolak bala dan dijauhkan dari virus corona (Covid-19) serta permohonan untuk kesuburan tanah dan keberhasilan pertanian.

Masyarakat dari lembaga adat keturunan ompu mamontang laut ambarita sihaporas atau lamtoras melakukan tradisi dan ritual bernama mombang boru sipitu suddut. Ritual ini dilakukan tepat di depan gerbang masuk Desa Sihapora.

Ritual ini dilakukan untuk menghormati leluhur mereka saat awal mula datang ke desa. Ritual ini merupakan salah satu dari 7 tradisi batak warisan ompu mamontang laut ambarita.

Tradisi adat ini merupakan ritual atau doa kepada tuhan yang maha esa untuk memohon kesehatan, terutama agar terhindar dari virus corona yang tengah menjadi pandemi.

“Tujuannya supaya kamu tetap mendapat kesuburan tanaman panen melimpah. Kedua tolak bala adapun corona (Covid-19) semoga dijauhkan,” kata tokoh adat Sihaporas Mangitua Ambarita, Kamis (27/5/2021).

Selain itu, ritual ini dilakukan untuk bermohon agar lahan pertanian mereka diberikan kesuburan dan hasil yang baik.

Sebelum melakukan ritual persembahan kepada raja, para tokoh adat mempersiapkan berbagai persembahan mulai dari kambing putih, ayam putih, ikan jurung, serta makanan khas batak berupa itak.

Baca Juga : Pesan Berantai Orang Akan Meninggal 2 Tahun Usai Suntik Vaksin Covid-19, IDI: Ya Jelas Hoaks!

Dedaunan dari alam seperti daun sirih, daun pisang, bebungaan, bambu, jeruk purut, tebu, serta buah-buahan hasil pertanian dipersembahkan dalam ritual yang berlangsung selama satu jam.

Lalu janur enau atau aren diikatkan di pagar seputar lokasi di tepi jalan ketibaan di kampung. Wadah anyaman berhias janur dan dedaunan sirih yang digunakan warga sebagai perlengkapan doa disematkan pada pilinan ijuk.

Sementara itu, perwakilan Kementerian Desa, Royani Harahap menyambut baik dengan diadakannya ritual adat yang rutin dilakukan masyarakat sihaporas.

Bahkan tradisi ini sudah masuk dalam kalender event Badan Otoritas Danau Toba sehingga bisa tetap lestari dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Baca Juga : Pasca-Lebaran, RSDC Wisma Atlet Catat 100 Kasus Positif Setiap Hari

Usai ritual, warga dan para tamu kemudian mengikuti makan bersama sebagai ucapan syukur kepada pencipta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini