Kisah Anggota Bakorlak SAR UNS Kuburkan Jenazah Covid-19 : Hampir Dilempari Batu

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 28 Mei 2021 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 65 2416816 kisah-anggota-bakorlak-sar-uns-kuburkan-jenazah-covid-19-hampir-dilempari-batu-extVbJBlPB.jpg Anggota Bakorlak SAR UNS jadi relawan pengubur jenazah Covid-19. (Dok UNS)

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret tahun 2020 menyisakan kisah pilu untuk sejumlah pihak, baik bagi penyintas maupun dokter, tenaga kesehatan dan relawan, yang bersama-sama berjibaku menangani krisis kesehatan ini.

Walau ancaman Covid-19 jelas-jelas ada di depan mata, faktanya tidak semua orang percaya terhadap virus tersebut.

Lebih parahnya lagi, sebagian kalangan menganggap Covid-19 sebagai konspirasi dan berperilaku tak terpuji kepada para dokter, tenaga kesehatan, dan relawan yang membantu penanganan pasien/jenazah Covid-19.

Hal ini pernah dialami salah satu anggota Badan Koordinasi Pelaksana (Bakorlak) Search and Rescue (SAR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Supriyanto Nugroho, yang saat ini tengah menjadi relawan pengubur jenazah pasien Covid-19 di Sragen.

Supriyanto yang sudah bergabung dengan Bakorlak SAR UNS sejak 2010 lalu menceritakan alasannya tergerak untuk menjadi relawan dan tantangan yang dihadapinya selama menguburkan jenazah pasien Covid-19.

Ia mengungkapkan panggilan untuk mau menjadi relawan pengubur jenazah Covid-19 bermula ketika relawan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Moewardi (RSDM) berkeluh kesah soal sulitnya memakamkan jenazah pasien Covid-19 di Sragen.

“Lalu, saya dan teman-teman Bakorlak SAR UNS yang ada di satu daerah dengan saya berembuk bersama anggota SAR MTA. Setelah oke, lalu kami memulai giat yang pertama dan terbentuklah relawan gabungan volunteer Covid-19,” terang Supriyanto saat dihubungi melalui pesan singkat, Rabu (19/5/2021).

Supriyanto mengatakan, niat mulianya membantu menguburkan jenazah pasien Covid-19 sempat dilarang oleh ibunya. Namun, setelah memberikan pemahaman kepada ibunya, Supriyanto mendapatkan izin dan mulai aktif membantu.

“Karena saya tidak bisa membantu dengan harta benda, cuma dengan tenaga yang saya bisa. Dari Bakorlak SAR UNS ada empat personel yang ikut giat. Ada saya, Panji, Imam Muhlisin, dan Witanto,” tambah Supriyanto.

Dalam proses penguburan jenazah pasien Covid-19, Supriyanto dan relawan dari Bakorlak SAR UNS telah dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD) dan alat kubur, seperti helm, kacamata google, sepatu boot, masker, bambu, dan tali plastik/ tambang.

Tidak Mau Dibayar

Selama menjadi relawan pengubur jenazah pasien Covid-19, Supriyanto enggan dibayar sepeser rupiah pun. Sebab, ia sedari awal sudah berkomitmen membantu sesama yang memerlukan.

Komitmen Supriyanto lantas diikuti oleh rekan-rekan lainnya sesama relawan, baik dari Bakorlak SAR UNS maupun tim SAR lainnya. Sampai-sampai Wakil Ketua I PMI Sragen Soewarno menyebut Supriyanto, dkk merupakan relawan yang sangat “istimewa”.

Baca Juga : Belum Ada Resep 100% Bisa Atasi Pandemi Covid-19

Walau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen telah menganggarkan insentif bagi relawan pengubur jenazah pasien Covid-19, Supriyanto tetap kokoh pada pendiriannya. Ia tidak mau dibayar dan tidak mencairkan insentif tersebut.

“Membantu mereka (red: korban) dengan catatan tidak mengajukan SPJ yang disediakan Pemkab Sragen dan untuk operasional dari kantong sendiri-sendiri. Biar dana itu untuk keperluan yang lain, karena banyak yang lebih penting dan membutuhkan,” ujarnya.

Supriyanto menambahkan untuk kepentingan operasional dan konsumsi berasal dari biaya pribadi. Sesekali para relawan pengubur jenazah pasien Covid-19 juga patungan.

“Giat kami tidak mengenal waktu. Seperti malam takbir kita selesai giat jam lima pagi,” ceritanya.

Diancam saat Hendak Menguburkan Jenazah

Walau Supriyanto memiliki niat mulia untuk membantu sesama, nyatanya niat baik tidak selalu diterima baik oleh orang lain, termasuk dari warga di sekitar lokasi pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Supriyanto menceritakan ia bersama para relawan pengubur jenazah pasien Covid-19 pernah mendapat perlakuan tak terpuji. Mulai dari dicemooh sampai diancam warga.

Lebih parahnya lagi, mereka juga nyaris dilempari batu oleh warga di Kecamatan Gondang, Sragen saat hendak memakamkan jenazah pasien Covid-19 dari Madiun.

Walau sempat mendapatkan perlakuan tak mengenakan, Supriyanto tetap mengapresiasi pihak-pihak yang memberikan perhatian, baik kepadanya maupun relawan pengubur jenazah pasien Covid-19 lainnya.

“Kami relawan gabungan dapat kaos untuk seragam dari salah satu dokter di Puskesmas Sragen Kota dan saya sangat berterima kasih pada Pak Wafir beserta ibu senior SAR UNS yang selalu membantu logistik dalam giat pemakaman di Sragen Kota,” ungkap Supriyanto.

Menutup sesi wawancaranya bersama uns.ac.id, Supriyanto mengatakan jika masih ada orang yang tidak percaya terhadap Covid-19, hal itu boleh-boleh saja. Namun, ia mengingatkan jika kelak mereka sudah terjangkit virus tersebut, barulah mereka akan percaya.

Baca Juga : Soal Penanganan Covid-19, Menkes: Masih Banyak Kesempatan untuk Memperbaiki

“Tapi, ingat jika kalian udah merasakan dan keluarga kalian meninggal positif (red: Covid-19) maka tidak ada yang melayat dan tidak ada yang membantu. Cuma kami relawan. Saya sangat kasihan melihat pemandangan itu. Marilah kita patuhi protokol kesehatan agar mengurangi penyebaran virus ini,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini