Pemberitaan Israel-Palestina Tiada Habisnya, Dosen HI UNS Ungkap Bias Media di Amerika Serikat

Tim Okezone, Okezone · Kamis 03 Juni 2021 18:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 65 2419721 pemberitaan-israel-palestina-tiada-habisnya-dosen-hi-uns-ungkap-bias-media-di-amerika-serikat-4flHH91T4W.jpg Foto: Humas UNS

JAKARTA - Konflik Palestina dan Israel tidak luput dari peran media yang senantiasa memberitakan perkembangan perseteruan kedua negara tersebut. Bahkan, saat ini ketersediaan informasi semakin mudah dengan adanya kemajuan teknologi.

Untuk mengetahui update terkini dari suatu peristiwa, siapapun dapat mengakses situs-situs media online melalui gawai (ponsel). Kemudahan akses tersebut menjadi hal yang mengkhawatirkan apabila informasi yang diperoleh tidak bisa dipertanggungajawabkan reliabilitasnya.

Salieg Luki Munestri, dosen Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS sekaligus pengamat media mengatakan, terdapat etika jurnalisme profesional yang harus dipenuhi agar suatu berita atau informasi dapat dipertanggungajawabkan reliabilitasnya.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa itu tidak pernah netral. Artinya ketika kita berbicara tentang kekejaman yang terjadi di Gaza, bahasa atau pilihan kata yang kita pakai itu menunjukkan ada di posisi mana kita berdiri,” ungkap Salieg, beberapa waktu lalu.

Baca juga: PBB Akan Selidiki Dugaan Pelanggaran dan Kekejaman Selama Konflik Hamas-Israel

Hal serupa juga berlaku bagi sebuah media massa, lanjut Salieg, bahasa dan pilihan kata yang digunakan oleh sebuah media dapat menimbulkan adanya bias media. Begitu juga dengan pemberitaan mengenai konflik Israel-Palestina yang dilakukan oleh media di Amerika Serikat.

“Bias media sering kali menggiring kita pada pemahaman yang salah tanpa mengetahui sisi kecenderungan media tertentu, kita tidak akan sadar bahwa kita sebenarnya telah timpang dalam mendapatkan informasi,” ujarnya.

Salieg memaparkan Media Bias Chart di Amerika Serikat. Media Bias Chart tersebut terdiri dari 5 kategori, yakni Left, Lean Left, Center, Lean Right, dan Right. Dua spektrum Left dan Right merepresentasikan polarisasi politik Amerika Serikat, yakni antara Partai Demokrat dengan Partai Republik.

Baca juga: Gencatan Senjata Disepakati, Hizbullah: Selamat Atas Kemenangan Bersejarah Rakyat Palestina

“Center ini tidak berarti unbias atau netral bahkan kredibel. Jadi center di sini lebih bermakna bahwa sebenarnya berita tersebut tidak predictable arahnya ke mana. Jadi tidak ke kiri, tidak ke kanan, atau bisa ke kiri, dan bisa ke kanan,” ungkap Salieg.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemahaman informasi yang berimbang, Salieg Luki Munestri mengimbau supaya netizen mengkonsumsi berita dari kedua spektrum.

“Itu adalah pola diet konsumsi media yang cerdas,” imbuhnya.

Peran Media Amerika

Terkait dengan dukungan kedua partai politik Amerika Serikat terhadap Israel dan Palestina, kata Salieg, media massa berperan dalam membentuk identitas politik generasi-generasi Amerika. Hal tersebut dapat berdampak pada ketimpangan informasi yang diperoleh sehingga polarisasi ideologi politik akan terbentuk dengan kuat.

Salah satu contoh berita yang dipaparkan oleh Salieg adalah berita dari Media MSNBC yang tayang pada 11 Mei 2021. Berita tersebut berjudul ‘The Latest Israel-Palestina Crisis isn’t a ‘real estate dispute,’ it’s ethnic cleansing’. Informasi pada berita tersebut tidak hanya memaparkan tentang pergeseran enam rumah warga Palestina di Yerusalem Timur, tapi juga memberitakan adanya dugaan pembantaian etnis.

“Dari statement tersebut, kita bisa lihat bahwa media ini sangat anti-Israel dan mendukung Palestina. Sebagai media Left mereka liberal yakni Democratic yang pro dengan Palestina,” jelas Salieg.

Berita lainnya juga disampaikan oleh Media NBC di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan dukungan oleh masyarakat Amerika Serikat kepada Palestina. Bahkan selama konflik terjadi, beberapa aksi protes telah dilakukan di kota besar di negara bagian Amerika, seperti New York, Miami, dan Los Angeles. Demonstrasi tersebut lebih sering diikuti oleh generasi muda.

“Generasi muda ini lebih terbuka terhadap berbagai media informasi karena perkembangan teknologi. Mereka juga sangat terbuka terhadap media sosial, seperti facebook, twitter, snapchat, tiktok dan blog sehingga mereka lebih banyak menerima narasi dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya,” imbuhnya

Sebaliknya, Media Fox memberitakan tentang pendapat Dennis Prager terkait meningkatnya dukungan masyarakat Amerika terhadap Palestina sebagai anti-semiotik, yakni dengan membawa isu agama sebagai penyebab konflik.

“Ini sangat terlihat bahwa berita di Amerika sangat bias. Bias antara dua sisi, bukan ke berbagai arah tetapi hanya ke kedua sisi yang merefleksikan kedua spektrum politik di sini,” pungkas Salieg. Humas UNS

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini