Pesisir Wonogiri Diklaim Aman dari Tsunami, tapi Harus Waspada Gempa

Agregasi Solopos, · Senin 07 Juni 2021 17:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 512 2421479 pesisir-wonogiri-diklaim-aman-dari-tsunami-tapi-harus-waspada-gempa-9IZowd3Xpl.jpeg Pantai di Wonogiri. (Foto: Solopos)

WONOGIRI – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan, wilayah pesisir Kabupaten Wonogiri diklaim aman ketika terjadi bencana tsunami karena mempunyai tebing tinggi di sekitar pantai. 

Meski begitu, masyarakat Wonogiri tetap harus mewaspadai potensi kerusakan akibat bencana gempa bumi. 

Bambang menjelaskan jika terjadi tsunami di wilayah Wonogiri, permukiman warga dipastikan aman. Sebab di sekitar pantai kawasan Paranggupito terdapat tebing dengan ketinggian sekitar 20-30 meter.

"Permukiman aman itu dalam arti air tsunaminya. Kalau dampak gempa berupa bangunan rusak dan sejenisnya tidak bisa diprediksi. Karena tsunami itu diawali dengan gempa. Bahkan juga ada gempa susulannya," kata dia saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/6/2021). 

Baca juga: Jangan Panik Sikapi Isu Potensi Gempa Magnitudo 8,7 dan Tsunami 29 Meter

Maka dari itu, kata Bambang, hal yang sangat perlu diantisipasi dari tsunami adalah dampak ikutan lainnya. Salah satu di antaranya adalah kerusakan bangunan warga atau fasilitas umum yang tidak memenuhi persyaratan teknis.

Gempa, menurut dia, juga bisa mengakibatkan tanah, tebing dan bebatuan di wilayah Wonogiri longsor. Terlebih di Wonogiri bagian selatan kontur tanahnya dari batuan karst. 

Bukan hanya kerusakan, gempa juga mengakibatkan kemiskinan dan disabilitas. Maka kesiapsiagaan seseorang wajib dilakukan untuk pengurangan risiko korban dan dampak lain.

"Setiap tahun kami adakan simulasi bencana di pantai. Ketika terjadi gempa, orang di sekitar pantai harus meninggalkan pantai. Pengelolan objek wisata sudah kami beri edukasi agar memberitahu pengunjung sesuai jalur evakuasi," ujarnya.

Baca juga: Wonogiri Berpotensi Disapu Tsunami 29 Meter, Begini Kondisi Alam dan Upaya Antisipasinya

Kesiapan

Menurut Bambang, upaya membangun kesiapsiagaan diri sendiri dalam menghadapi bencana sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian dan survei di Jepang Great Hansin Erthquake 1995 tentang sebab-sebab korban tsunami selama dari durasi "golden time" menyebutkan kesiapsiagaan diri sendiri menjadi peran utama dalam menyelamatkan diri.

Presentase kesiapsiagaan diri sendiri dalam menghadapi bencana di Wonogiri saat ini mencapai 34,9 persen. Kemudian disusul dukungan keluarga 31,9%, dukungan teman atau tetangga 28,1%, dukungan orang sekitar 2,6%, dukungan tim penolong 1,7% dan lain-lain 0,9%. 

"Bantuan dari kami [petugas] itu hanya 1,7 persen. Maka menghadapi bencana dari kesiapsiagaan diri sendiri sangat penting. Maka kami selalu memberi edukasi kepada warga di sekitar pantai agar membiasakan diri melakukan kesiapsiagaan," kata dia. 

Ia mengatakan, sejak 2016, setiap tahun BPBD Wonogiri mengadakan gladi lapangan atau simulasi bencana dengan cara menggambarkan kejadian sesungguhnya. Yang sangat perlu diberi penekanan adalah wisatawan. Untuk warga sekitar sudah berulangkali mengikuti simulasi. Selain itu sudah hafal dengan jalur evakuasi.

"Upaya meningkatkan kewaspadaan dan menyelamatkan diri wajib dilakukan setiap warga. Yang bisa menyelamatkan nyawa bencana hanya warga itu sendiri. Maka harus memberdayakan diri kita sendiri," kata Bambang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini