BMKG Siapkan Skenario Terburuk dalam Mitigasi Tsunami di Pesisir Selatan Jatim

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 08 Juni 2021 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 519 2422118 bmkg-siapkan-skenario-terburuk-dalam-mitigasi-tsunami-di-pesisir-selatan-jatim-Vdj7JbkT22.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

MALANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan peta ketinggian ancaman gelombang tsunami yang ada di Jawa Timur, sebagaimana dikeluarkan beberapa hari lalu bukan untuk menakut-nakuti warga.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa peta tersebut diterbitkan untuk menjelaskan potensi bahaya dan mitigasi yang dilakukan, agar bisa disimulasikan dari sisi terburuk demi menyelamatkan warga.

"Yang penting ada peta, zona yang akan terkena, yang berpotensi terdampak itu di mana, untuk berjaga-jaga," kata Dwikorita di sela-sela Sekolah Lapang Gempa bumi di Desa Tambakrejo, Malang, pada Selasa siang (8/6/2021).

Baca juga: Waduh! Jalur Evakuasi Tsunami di Sejumlah Daerah Rusak Tertutup Sungai

Ia menambahkan, pada peta yang dibuat BMKG juga dijelaskan genangan tsunami sampai ke daratan berapa lama, dan berapa meter kegiatan. Namun, ia menegaskan hal itu bukan prediksi, melainkan skenario.

"Tapi itu bukan ramalan, bukan prediksi. Itu skenario, itu alat sarana untuk berjaga-jaga dan terburuk, artinya kalau buruk terjadi seperti itu, kemungkinan terbesar lebih ringan dari itu," ungkap Dwikorita.

"Kenapa kita bersiapnya yang terburuk, Kalau terburuk sudah siap terampil, yang ringan itu menjadi cekatan," tambahnya.

Baca juga: Pesisir Wonogiri Diklaim Aman dari Tsunami, tapi Harus Waspada Gempa

Dwikorita menerangkan bahwa BMKG tak bisa memprediksi seberapa kuat dan tinggi kekuatan dari gempa dan gelombang tsunami. "Itu sulit (kalau memprediksi kekuatan gempa dan tinggi tsunami), nggak seperti itu, yang penting ada peta. Kita tidak mengukur satu sampai 10 (kekuatan gempa)," kata dia.

Sementara itu, Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, bila peta mitigasi bencana tsunami dan kegempaan yang dibuat BMKG dibuat berdasarkan kajian terburuk, karena banyak pertanyaan terkait jalur evakuasi dan kerawanan potensi tsunami dari BPBD di daerah.

Namun ia menegaskan hal itu bukan memprediksi, artinya bisa saja tidak terjadi dengan kekuatan sebagaimana yang ada di peta mitigasi tersebut.

"Mau tidak mau BMKG membuat peta modelling itu, nah peta itu dibuat dengan sklala terburuk supaya apa, kita punya persiapannya, padahal belum tentu terjadi seperti itu, contohnya dimodelkan tsunami di Banyuwangi itu 20 meter lebih, nyatanya tsunami 1994 hanya 13 meter," jelas Daryono.

Namun pihaknya menyayangkan peta mitigasi bencana tsunami dan kegempaan yang dibuat BMKG justru di salah artikan oleh sebagian besar masyarakat, sehingga menyebabkan kepanikan.

"Itu dibuat dengan modelling, dibuat tingginya berapa di situ, supaya kita bisa menyiapkan bangunan yang tahan tsunami di atas itu, dibuat untuk menyiapkan skenario itu, tapi responnya kepanikan, tidak nyambung, disalah tafsirkan oleh masyarakat," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini