Dilema Membangun Gaza Tanpa Mempersenjatai Hamas

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 12 Juni 2021 18:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 12 18 2424191 dilema-membangun-gaza-tanpa-mempersenjatai-hamas-k8PLNRLWTW.jpg Banyak bangunan di Gaza hancur oleh serangan Israel. (Foto: Reuters)

DENGAN roket jarak jauh, peluncur misil, dan pesawat nirawak (drone), pasukan Hamas telah mengadakan parade di Jalur Gaza sejak pertempuran mematikan dengan Israel baru-baru ini.

Pesan yang disampaikan adalah tidak mudah bagi para donor internasional yang ingin membantu membangun kembali Gaza tanpa mempersenjatai kelompok yang dipandang oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Israel, dan negara-negara lainnya sebagai kelompok teroris.

BACA JUGA: Hamas Berjanji Tak Sentuh "Satu Sen Pun" Bantuan untuk Gaza

Pada kunjungannya ke Yerusalem dan Tepi Barat baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, berkata kepada saya bahwa "sangat penting" untuk memastikan bahwa dana mengalir ke "rakyat Palestina, untuk meringankan penderitaan mereka, dan tidak mengalir ke dompet Hamas".

Organisasi Islamis yang menguasai Gaza itu tidak mengakui hak Israel untuk eksis.

Hamas merupakan organisasi yang menguasai Jalur Gaza, menyusul kemenangan mereka dalam pemilu legislatif pada 2006.

Menurut PBB, konflik di Gaza telah menghancurkan atau merusak lebih dari 16.000 rumah, juga 58 sekolah dan pusat pelatihan, sembilan rumah sakit, 19 klinik dan infrastruktur vital.

Militer Israel mengatakan mereka telah menyerang lebih dari 1.000 target militan.

Di antara ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal adalah keluarga Khalidi di Kota Gaza.

BACA JUGA: Tidak Ada Permusuhan, Hamas dan Fatah Bersatu untuk Kemerdekaan Palestina

Ketika pesawat perang Israel menyasar bangunan tetangga mereka, apartemen mereka turut hancur oleh ledakan.

"Saya menemukan kaca di seluruh mainan anak saya. Saya menangis ketika melihat kerusakannya," kata Waad al-Khalidi, yang sekarang tinggal di rumah salah seorang kerabatnya bersama suami dan anaknya yang masih bayi.

"Perang sudah berakhir tapi kami tidak punya uang untuk memperbaiki rumah. Saya hanya ingin rumah kami yang indah kembali."

Sedikitnya 256 orang tewas di Gaza, menurut PBB, dan 13 orang tewas di Israel selama pertempuran.

PBB mengatakan sedikitnya 128 dari mereka yang tewas di Gaza adalah warga sipil.

Militer Israel mengatakan 200-nya adalah milisi; pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, menyebut pasukannya yang tewas sebanyak 80 orang.

Blokade darat dan laut terhadap Gaza, yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir, tampaknya akan membuat proses rekonstruksi berjalan lambat dan rumit.

Blokade mulai diberlakukan setelah Hamas merebut kendali penuh atas wilayah kecil itu dari Otoritas Palestina (Palestine Authority, PA) dalam pertempuran internal pada 2007, setahun setelah memenangkan pemilihan umum.

Langkah ini telah melumpuhkan ekonomi namun belum sepenuhnya berhasil dalam tujuan yang dinyatakannya: menghentikan senjata dan suplai lainnya mencapai militan.

Selama 11 hari kekerasan di bulan Mei, militer Israel mengatakan bahwa lebih dari 4.300 roket ditembakkan dari Gaza ke kota-kota di Israel, merusak atau menghancurkan rumah dan infrastruktur lainnya.

Intensitas dan jangkauan tembakan mereka lebih besar daripada saat pecahnya pertempuran serius terakhir pada tahun 2014.

"Mereka telah menstok ulang dan menambahkan beberapa roket jarak jauh dengan muatan yang lebih berat ke gudang senjata mereka, jadi jelas mereka telah meningkatkan kemampuan," kata Michael Herzog, pensiunan brigadir jenderal tentara Israel di Washington Institute for Near East Policy.

Pada 2014, Mesir merampungkan penghancuran terowongan di bawah perbatasannya dengan Gaza untuk menghentikan penyelundupan rudal yang dibawa dari Iran.

Meski begitu, militan dari Hamas dan Jihad Islam, kelompok yang lebih kecil, semakin sering menggunakan keahlian yang mereka dapat dari Iran untuk membuat roket mereka sendiri di bengkel-bengkel rahasia.

Tahun lalu, film dokumenter yang dibuat Al Jazeera menunjukkan beberapa komandan Hamas mengklaim bahwa mereka telah membuat rudal dari pipa air yang mereka dapatkan di permukiman Israel yang ditinggalkan penghuninya, amunisi yang belum meledak dari serangan udara Israel, dan kapal perang Inggris era Perang Dunia I yang tenggelam di laut.

"Seperti kata pepatah, kebutuhan adalah ibu segala penemuan," komentar Michael Herzog yang melihat laporan itu, "tetapi di atas itu, saya pikir apa yang tidak diungkapkan, adalah bahwa Hamas mendapatkan banyak material 'penggunaan ganda' dan menggunakannya untuk tujuan militernya sendiri."

Israel sangat membatasi impor barang-barang "penggunaan ganda" - termasuk pipa, semen dan besi - yang dapat digunakan untuk tujuan militer atau sipil. Mesir telah mengizinkan pasokan bahan bangunan untuk masuk secara terbatas.

Namun demikian, militer Israel mengatakan bahwa dalam pengeboman baru-baru ini di Gaza, mereka menghancurkan lebih dari jejaring terowongan bawah tanah sepanjang 100 kilometer yang dibangun oleh Hamas dengan biaya jutaan dolar.

PBB sedang di bawah tekanan untuk mereformasi mekanisme rumit yang dibentuknya untuk mengawasi masuknya bahan bangunan ke Gaza setelah konflik 2014.

"Kami sedang membahasnya dengan Otoritas Palestina dan pihak Israel untuk menentukan bagaimana membuatnya lebih cepat," kata Lynne Hastings, Koordinator Residen PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa pemeriksaan juga sedang dilakukan "untuk melihat apakah ada kesalahan oleh salah satu pihak yang terlibat dalam beberapa tahun terakhir, untuk memastikan bahwa bantuan tidak dialihkan".

Semua suplai yang masuk ke Gaza seharusnya disimpan dengan hati-hati oleh importir yang diberi izin khusus dan dipantau dengan kamera sementara petugas PBB mengawasi supaya mereka hanya digunakan untuk perbaikan yang sah.

Data mereka dibagikan dengan intelijen Israel.

AS dan donor asing lainnya bersikeras bahwa Otoritas Palestina, yang diakui secara internasional, harus terus menjadi mitra mereka dalam membangun kembali Gaza.

Ada juga desakan agar bantuan dari Qatar - yang sebelumnya langsung masuk ke wilayah Palestina - untuk disalurkan melalui Otoritas Palestina - hal yang ditentang keras oleh Hamas.

Beberapa pengamat mengungkapkan keprihatinan atas bagaimana bantuan digunakan sebagai alat diplomatik untuk mendorong dan melegitimasi Otoritas Palestina (PA).

Tepat sebelum pertempuran di Gaza, Presiden PA Mahmoud Abbas menunda pemilihan parlemen pertama dalam 15 tahun. Dia mengatakan penundaan itu dikarenakan Israel memblokir pemungutan suara di Yerusalem, tetapi banyak yang percaya bahwa itu sebenarnya karena faksi Fatah tampaknya akan kalah dari Hamas.

"Ini sangat problematik," kata pengacara Palestina terkemuka, Diana Butto.

"Ini secara efektif berusaha memaksakan hasil suatu pemilu tanpa mengadakan pemilu itu sendiri. Mereka mengatakan kepada rakyat di Gaza: jika Anda ingin wilayah Anda dibangun kembali, kami tidak akan memaksakan pemilu, tetapi kami akan memaksakan orang-orang ini yang kami inginkan supaya memimpin kalian."

Kairo terus memediasi perundingan tentang bantuan antara faksi-faksi di Palestina dan dengan Israel, dalam upaya memperkuat gencatan senjata yang rapuh di Gaza.

Menambah kerumitan perkara yang sudah rumit, ada tuntutan dari Israel agar dua warga sipil Israel yang hilang dan mayat dua tentara Israel yang ditahan oleh Hamas dikembalikan.

Di tengah kehancuran, para pemimpin Hamas telah berusaha meyakinkan rakyat Palestina bahwa semua rumah yang rusak akan diperbaiki.

Tapi di Kota Gaza, Khalidi tahu dia akan menunggu lama.

"Saya tidak terlalu peduli dengan politik dan saya tidak peduli siapa yang membayar," katanya, "tetapi saya ingin Hamas menepati janjinya."

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini