Cerita Mahasiswi Cantik Jadi Guru Dadakan Digaji Rp1,2 Juta

Taufik Budi, Okezone · Selasa 15 Juni 2021 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 15 65 2425280 cerita-mahasiswi-cantik-jadi-guru-dadakan-digaji-rp1-2-juta-xp2feh2Nh3.jpg Tasya Tsania Anaraki, mahasiswi yang menjadi guru (Foto: Taufik Budi)

SEMARANG – Sejumlah mahasiswa mengikuti program Kampus Mengajar yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Bukan hanya mendapat pengalaman mengajar di sekolah, namun mereka juga mendapatkan uang saku hingga jutaan rupiah.

“Kemarin awalnya kan rencana mendapat uang saku sebesar Rp700.000 per bulan, itu sesuai di buku panduan. Tapi karena kemarin dari LPDP atau dari pemerintah mengalami keterlambatan dalam memberi uang saku, jadi waktu itu ditambahin jadinya dinaikin Rp1,2 juta uang sakunya,” kata Tasya Tsania Anaraki, Senin (14/6/2021).

“Banyak banget, alhamdulillah. Semuanya dapet, kecuali yang Bidikmisi karena kan yang Bidikmisi sudah mendapatkan uang saku sendiri dari beasiswanya. Demi keadilan akhirnya yang Bidikmisi juga juga dapat suang saku tapi tidak sebesar Rp1,2 juta,” imbuhnya.

Baca Juga:  Dear Mahasiswa, Rektor UNS Paparkan Hal Penting Ini untuk Kuliah Daring

Menurutnya, selain uang saku juga mendapatkan potongan UKT (uang kuliah tunggal) sebesar Rp2,4 juta. Namun, dirinya tidak dapat karena sudah mendapatkan beasiswa potongan UKT sendiri.

"Terus dapat sertifikat mengajar juga sama konversi sebanyak 12 SKS,” katanya.

Mahasiswi menjadi guru 

Tasya merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Ilmu Budaya (FBIB) Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang. Memasuki bulan ketiga ini, dia menjadi guru sekolah inklusi SD Suryo Bimo Kresno Semarang. Tentu sambil mengikuti perkuliahan di kampus yang digelar secara daring.

Menurutnya, menjadi guru di sekolah inklusi menjadi pengalaman terbesar dalam hidupnya. Sebab, dia bukan hanya menjadi tenaga pendidik melainkan juga mesti memahami karakter siswa dengan kebutuhan khusus.

“Saya sebelumnya memang pernah menjadi guru tapi ya guru les. Dengan jumlah siswa yang enggak banyak, dan itu siswanya normal anak kebanyakan. Tapi di sekolah inklusi, saya jadi mengerti bagaimana menghadapi anak autis, hiperaktif, dan down syndrome. Itu pengalaman yang luar biasa,” ungkapnya.

Baca Juga:  Masih Dilanda Pandemi, Peserta SBMPTN 2021 Meningkat

Meski demikian, Ketua BEM FBIB Unisbank itu mengaku belum memantapkan hati bakal menjadi guru setelah menyelesaikan studinya nanti. “Saya punya pengalaman jadi guru, cuma ke depannya belum tahu kalau meneruskan jadi guru atau tidak,” tandasnya.

Sementara itu, Dekan FBIB Unisbank, Endang Yuliani Rahayu, S.S, mengatakan, terdapat tiga mahasiswanya yang mengikuti program Kampus Mengajar. Mereka adalah Tasya Tsania Anaraki (SD Suryo Bimo Kresno Semarang), Firlanda Dayu Pramesti (SDN 5 Getas Boja), dan Inge Shafa Sekarningrum (SD Muhammadiyah 07 Semarang ).

“Program Kampus Mengajar ini dilaksanakan sejak Maret sampai Juni 2021. Tugas-tugas mereka di sekolah antara lain mengajar di kelas, membantu guru melakukan koreksi tugas-tugas dan ulangan para siswa, atau membantu guru menyiapkan pemberkasan soal-soal latihan,” pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini