Presiden Baru Iran Dukung Pembicaraan Nuklir, Tolak Bertemu Biden

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 22 Juni 2021 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 18 2428910 presiden-baru-iran-dukung-pembicaraan-nuklir-tolak-bertemu-biden-4tMnUN2qL4.jpg Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi berbicara pada konferensi pers di Teheran, Iran, 21 Juni 2021. (Foto: Reuters)

TEHERAN - Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi pada Senin (21/6/2021) mendukung pembicaraan antara Iran dan enam kekuatan dunia untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015. Namun, dia dengan tegas menolak bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, bankkan jika Washington menghapus semua sanksi terhadap Iran.

Dalam konferensi pers pertamanya sejak memenangkan pemilihan presiden Jumat (18/6/2021), Raisi, seorang tokoh garis keras, mengatakan prioritas kebijakan luar negerinya adalah meningkatkan hubungan dengan tetangga-tetangga Iran di Teluk Arab, sambil menyerukan saingan regional Iran, Arab Saudi, untuk segera menghentikan intervensinya di Yaman.

BACA JUGA: Ebrahim Raisi Menangi Pilpres Iran

Raisi, (60 tahun), seorang kritikus Barat yang keras, akan mengambil alih pemerintahan Iran dari Presiden Hassan Rouhani pada 3 Agustus. Dia akan menjabat di saat Iran berusaha untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir yang compang-camping dan menyingkirkan sanksi AS yang telah melumpuhkan ekonomi negara itu.

"Kami mendukung negosiasi yang menjamin kepentingan nasional kami. ...Amerika harus segera kembali ke kesepakatan dan memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan itu," kata Raisi sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA: Siapakah Ebrahim Raisi, Tokoh Garis Keras yang Akan Menjadi Presiden Baru Iran

Negosiasi telah berlangsung di Wina sejak April untuk mencari tahu bagaimana Iran dan Amerika Serikat dapat kembali mematuhi pakta nuklir, yang ditinggalkan Washington pada 2018. Presiden AS Donald Trump menarik Washington keluar dari perjanjian itu dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran.

Iran kemudian melanggar batas kesepakatan pengayaan uranium, yang dirancang untuk meminimalkan risiko mengembangkan potensi senjata nuklir. Teheran telah lama membantah memiliki ambisi semacam itu.

Raisi mengatakan kebijakan luar negeri Iran tidak akan terbatas pada kesepakatan nuklir, menambahkan bahwa "semua sanksi AS harus dicabut dan diverifikasi oleh Teheran".

Saat ditanya apakah dia akan bertemu Biden jika sanksi AS dicabut, Raisi menjawab singkat: “Tidak”.

Terpilihnya Raisi sempat dikhawatirkan akan berpengaruh pada sikap Iran terhadap perjanjian nuklir

Pejabat Iran dan Barat sama-sama mengatakan kenaikan Raisi tidak mungkin mengubah sikap negosiasi Iran dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.

Gedung Putih menganggap pernyataan Raisi bukanlah sesuatu yang signifikan, karena keputusan akhir mengenai semua kebijakan penting Iran berada pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

"Saat ini kami tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran atau rencana untuk bertemu di tingkat pemimpin," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki kepada wartawan. "Pandangan kami adalah bahwa pengambil keputusan di sini adalah pemimpin tertinggi."

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pembicaraan di Wina, Austria untuk merundingkan perjanjian nuklir akan dilanjutkan kembali dalam beberapa hari mendatang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini