2.000 Anak di Sumut Terjangkit Covid-19 Sepanjang Tahun 2021

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Jum'at 02 Juli 2021 16:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 608 2434547 2-000-anak-di-sumut-terjangkit-covid-19-sepanjang-tahun-2021-pIUfp3ePvD.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

MEDAN - Sepanjang tahun 2021 ini tercatat sekira 2 ribu anak di Sumatera Utara yang terjangkit Covid-19. Namun sejauh ini belum ada anak yang meninggal dunia akibat virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China itu.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Satuan Tugas Covid-19 Sumateta Utara, dr Inke Nadia Lubis, Jumat (2/7/2021).

Menurut Inke, peningkatan signifikan kasus Covid-19 pada anak terjadi bulan April 2021 lalu. Setiap minggunya selalu ada anak terpapar virus Covid-19.

“Yang tinggi itu bulan April, tiga kali lipat dari yang dilaporkan setiap minggunya. Kalau enam bulan terakhir ada 2.000 kasus. Secara total sejak pandemi hingga hari ini ada 3.861 kasus,” sebut Inke.

Inke lebih lanjut mengatakan, peningkatan jumlah kasus di kabupaten/kota sejak awal pandemi di Sumut terjadi di tiga wilayah. Yang paling tinggi terjadi di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang dengan persentase 72 persen.

“Lalu ketiga Simalungun, Pematangsiantar dan Tebingtinggi digabung jadi satu. Sisanya (daerah lain) dengan presentase di bawah satu persen,” ujarnya.

Baca Juga : Breaking News: Pemerintah Tiadakan Sholat Idul Adha Berjamaah di Wilayah PPKM Darurat

Lebih lanjut, Inke menyebutkan untuk gejala pada anak biasanya lebih ringan, sehingga berpotensi untuk menularkan. Metode screening yang selama ini digunakan kepada orang dewasa untuk mengecek suhu tubuh, atau gejala yang jelas seperti batuk dan pilek, itu justru tidak ditemukan pada anak.

“Makanya kalau hanya mengandalkan pemeriksaan itu dan tidak dilakukan swab, lalu kita biarkan anak sekolah, ini kan risiko menularkan masih ada. Justru itu yang mudah terlewatkan, karena tidak ada gejala,” jelasnya.

Meski dampaknya tidak terlalu besar, Inke mengungkapkan dengan tidak bergejala anak menularkan kepada guru di sekolah atau saat pulang ke rumah menularkan kepada orang tua. Dengan demikian, nantinya akan menyebabkan risiko yang lebih tinggi.

“Tapi belakangan dilaporkan ada dampak panjang akibat terpapar Covid-19 yang bisa mengganggu aktivitasnya. Anak bisa kurang aktif selama 3-6 bulan setelah terpapar,” ungkapnya.

Sebab itu, menurut Inke, vaksinasi terhadap anak menjadi penting dan saat ini sudah diperbolehkan, tidak saja pada Covid-19 tapi juga pada penyakit lainnya. Sebab, anak yang rentan terpapar Covid-19 adalah usia Sekolah Dasar (SD) dengan 35 persen.

“Itu tadi sebenarnya kalau buka sekolah, kita itu mempertimbangkan juga dengan data yang ada, bahwa paling banyak kasus di SD dan kematian paling banyak di usia tingkat itu kalau kena Covid-19,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini