Polda Jabar Gerebek Gudang Produksi Obat-obatan Ilegal di Lembang

Adi Haryanto, Koran SI · Kamis 08 Juli 2021 02:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 525 2437182 polda-jabar-gerebek-gudang-produksi-obat-obatan-ilegal-di-lembang-wA40CjYXgx.jpg Petugas Ditresnarkoba Polda Jabar gerebek gudang tempat produksi obat-obatan ilegal di Lembang. (Foto : Sindo/Adi Haryanto)

BANDUNG BARAT - Ditresnarkoba Polda Jabar menggerebek gudang yang menjadi tempat produksi obat yang diduga tidak memiliki izin edar, Rabu (7/7/2021). Diketahui gudang yang berada di Kampung Barunagri RT 03/04, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), itu adalah milik SS.

Di tempat ini pelaku SS memproduksi obat berupa pil putih bertuliskan LL lalu diedarkan ke sejumlah tempat. Petugas juga menemukan sejumlah barang bukti, seperti 15 dus besar berisi obat sudah jadi 100 paket, dan 1/2 ember obat bertuliskan LL siap kemas di gudang tersebut.

"Terbongkarnya praktik pembuatan obat di gudang ini setelah kami melakukan pengembangan kasus yang sama di daerah Kota Tasikmalaya," ucap Direktur Reserse Narkoba Polda Jabar, Kombes Rudy Ahmad Sudrajat kepada wartawan di lokasi penggerebekan.

Rudy menuturkan, awalnya di TKP Kota Tasik ditemukan mesin pencetak obat G dan mengamankan lima tersangka. Dari keterangan para tersangka itu kemudian didapat informasi pemasok bahan-bahannya. Pemasok itu adalah perempuan berinisial L dan suaminya berinisial C.

Berdasarkan keterangan pasangan suami istri tersebut akhirnya diketahui jika mereka bekerjasama dalam jual beli bahan tersebut dengan SS. Sehingga pihaknya langsung mendatangi gudang miliknya, dan benar ditemukan bahan obat LL beserta alat cetak untuk memproduksi obat tersebut.

Baca Juga : 100 Pos PPKM Darurat di Jabar Beroperasi 24 Jam Selama 2 Pekan

"Tersangka sudah empat bulan memproduksi obat tanpa izin edar di gudang ini. Omzetnya per hari bisa mencetak sekitar 100.000 butir obat yang dikemas ke dalam satu dus, dibagi ke dalam 100 plastik dengan jumlah 1.000 butir per plastiknya," kata Rudy.

Menurutnya, obat tersebut diedarkan ke luar Jawa seperti ke daerah Kalimantan dan Sulawesi dengan omzet penjualan Rp12 juta dari satu dus yang berisi 100.000 butir obat. Bahayanya obat yang diproduksi oleh tersangka, memiliki efek samping halusinasi bagi yang mengonsumsinya karena peruntukan obat tersebut hanya untuk penenang.

"Kebanyakan yang mengonsumsinya anak-anak muda, karena ada efek halusinasi. Kami juga terus kembangkan kasus ini untuk mengejar pelaku lain," tegasnya.

Sementara pada penggerebekkan ini petugas mengamankan alat-alat produksi di antaranya dua mesin cetak tablet, oven, mixer, tabung gas LPG 12 kilogram, mesin ayak, rak almunium, tiga ayakan, tiga drum warna biru, dua buah jolang, timbangan duduk digital, alat pres plastik, genset, timbangan digital kecil, dan dua buah fakum cleaner.

Sedangkan untuk bahan baku yang diamankan yakni, enam sak tepung magnesium streate, empat sak tepung sodium strach glycolate, seperempat sak tepung tapioka, dua sak tepung talc powder haichen, 11 sak tepung microcrlystalline cellulose, satu drum berisikan alkohol, dan 11 sak laktolse.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini