Kisah Kandang Buaya dan Terowongan Sunan Kalijaga di Tepi Bengawan Solo

Agregasi Solopos, · Minggu 11 Juli 2021 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 11 512 2438867 kisah-kandang-buaya-dan-terowongan-sunan-kalijaga-di-tepi-bengawan-solo-B1xzHrTo9J.jpg Punden Butuh. (Foto: Solopos)

SRAGEN — Sebatang pohon trembesi berdiameter 1,5 meter berdiri di tepi Bengawan Solo di Dukuh Butuh, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Pohon berumur ratusan tahun itu memiliki akar besar-besar dan menjalar ke mana-mana. 

Di bawah pohon itu terdapat kedung yang dikenal dengan sebutan Kedung Tingkir. Pohon itu dipercara warga setempat sebagai punden dan menjadi tempat untuk upacara bersih desa setiap habis panen raya.

BACA JUGA: Banjir di Aceh Besar Berangsur Surut, Sebagian Warga Telah Kembali ke Rumah 

Dukuh Butuh dihuni sekitar 25 keluarga. Dukuh itu hanya merupakan wilayah satu RT, yakni RT 005/RW 002 Butuh. Lokasi dukuh itu cukup unik karena berada di perlintasan Sungai Bengawan Solo yang membentuk huruf U. 

Dukuh Butuh tersebut dipercaya ada kaitannya dengan Dukuh Butuh di desa lain lantaran di Sragen ditemukan lima Dukuh Butuh yang lokasinya sama-sama berada di sekitar aliran Bengawan Solo, yaitu: Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Plupuh; Dukuh Butuh, Desa Karangudi, Ngrampal; Dukuh Butuh, Desa Cemeng, Sambungmacan; Dukuh Butuh, Desa Dawung, Jenar; dan Dukuh Butuh, Desa Banaran, Sambungmacan.

BACA JUGA: Toilet di Korea Selatan Olah Tinja Jadi Listrik dan Mata Uang Digital

Ketua RT 005/RW 002, Dukuh Butuh, Cemeng, Sudarmanto, (58 tahun), menyampaikan nama Butuh ini berkaitan dengan nama Butuh di desa lain. Dia menduga nama Butuh itu berkaitan dengan kisah perjalanan Joko Tingkir sebelum menjadi Sultan Pajang. 

Kandang Buaya

Dugaan Sudarmanto itu diperkuat adanya kandang buaya di dekat wilayah Butuh yang juga berada di Bengawan Solo. Sudarmanto merupakan generasi kelima dari tokoh masyarakat setempat bernama Eyang Cokro yang dikenal sebagai cikal bakal di Dukuh Butuh itu.

“Eyang saya dulu Eyang Cokro. Kemudian turun Mbah Kertoijoyo, kemudian turun Mbah Soijoyo. Lalu ke ibu saya yang melahirkan saya. Kalau di bawah pohon trembesi itu ada kedung tetapi tidak dalam. Yang agak dalam di Kedung Jawa. Nah, kandang buaya itu ada di dekat Kedung Jawa itu,” papar Sudarmanto saat berbincang dengan Solopos , Sabtu (10/7/2021).

“Sekilas air yang mengalir itu tenang dan dalam, tetapi saat dijajaki ternyata dangkal dan kalau dilewati seperti ada pasirnya. Tetapi kadang-kadang juga dalam karena aslinya dalam,” sambungnya.

Seorang warga di Butuh, Banaran, Sambungmacan, Sragen, Priyanto, menyampaikan Joko Tingkir pernah singgah di Butuh Cemeng karena di sana ada budhenya. Perjalanan Joko Tingkir itu terus ke atas hingga bertemu bapaknya Kebo Kenanga di Butuh, Gedongan, Plupuh.

Bayan Kajungan, Cemeng, Suyono, (52 tahun), menyebut banyak tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dari cerita-cerita simbah-simbah dahulu. Di antarnya seperti makam Mbah Pangeran di Dukuh Bangunrejo, Punden Kiai Srenggi, Punden Kedung Bagong, punden Kedung Kendang, Kedung Seret, dan seterusnya.

Terowongan Sunan Kalijaga

Di Kedung Seret itu dulunya ada terowongan bawah tanah yang dibangun Sunan Kalijaga yang tembus sampai punden Kiai Srenggi. 

“Terowongan itu tidak kelihatan karena di dalam tanah. Saat air Bengawan Solo banjir maka seperti ada pusaran air yang kemungkinan masuk ke terowongan bawah tanah itu. Dulu jalan masuk ke Punden Kiai Srenggi itu ada batu-batuan berbentuk seperti katak berjajar tetapi sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Dia menerangkan Kiai Srenggi itu berwujud buaya besar yang baik hati karena bisa menjadi jembatan bagi warga yang menyeberangi Bengawan Solo.

Bayan Suyono tidak memahami apakah Kiai Srenggi di Cemeng itu ada kaitannya dengan Kiai Srenggi di Sragen karena ada kesamaan nama.

Lebih lanjut Ia menjelaskan cerita tentang Mbah Pangeran itu terjadi pada masa penjajahan Belanda dan dipercaya sebagai cikal bakal warga Dukuh Bangunrejo. Dia mengatakan pada zaman penjajahan Belanda, Mbah Pangeran terluka saat pelarian dan akhirnya meninggal dimakamkan di situ.

“Kisahnya berbeda dengan Kedung Bagong yang dulu terdapat seperangkat gamelan yang bisa dipinjam warga. Suatu ketika ada warga yang pinjam dan gamelan hilang satu, kemudian salah satu pengantin warga itu pun tenggelam di Bengawan Solo. Sejak itu gamelan tidak terlihat lagi. Dari seperangkat gamelan itu, khusus kendangnya ada di Kedung Kendang,” jelasnya.

Dia mengatakan kisah-kisah di sepanjang aliran Bengawan Solo itu kemungkinan besar masih berkaitan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini