Covid-19 Hancurkan Mimpi Jamaah Haji Lansia

Susi Susanti, Koran SI · Minggu 18 Juli 2021 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 18 18 2442474 covid-19-hancurkan-mimpi-jamaah-haji-yang-sudah-tua-psNTLXYw1z.jpg Ibadah haji (Foto: Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi via AFP)

MAKKAH - Samia Ahmed menabung selama 16 tahun, tetapi seperti banyak Muslim yang lebih tua, dia khawatir jika pembatasan Covid-19 yang diperbarui akan mencegahnya melakukan ibadah haji.

Arab Saudi untuk tahun kedua berturut-turut membatasi haji tahunan untuk sejumlah penduduk, termasuk untuk kalangan lanjut usia (lansia). Tahun ini, hanya 60.000 penduduk domestik yang diizinkan untuk menunaikan ibadah haji. Mereka dipilih dari seleksi online yang diikuti lebih dari 550.000 pelamar.

Jamaah calon haji harus sudah divaksin Covid-19 lengkap dan berusia antara 18 dan 65 tahun tanpa penyakit kronis agar memenuhi syarat.

Dengan bertambahnya usia dan kesehatan yang menurun, Ahmed, seorang Mesir berusia 68 tahun, menangis selama berhari-hari ketika pembatasan diumumkan tahun lalu, beberapa bulan setelah pandemi virus corona melanda.

"Saya sudah membayar biro perjalanan dan sudah benar-benar mulai mempersiapkan segalanya," kata pensiunan PNS itu.

Ahmed diketahui sudah membayar 100.000 pound Mesir (USD6.400 atau Rp93 juta)) agar bisa naik haji.

(Baca juga: Akomodasi Tambahan dan Portal Elektronik untuk Mudahkan Jamaah Haji)

“Peluang saya sekarang tipis, karena mereka akan memilih jamaah yang lebih muda dan lebih sehat di masa depan,” kata nenek yang menderita diabetes dan tekanan darah tinggi.

"Saya sangat ingin menunaikan haji sebelum saya meninggal. Saya tidak tahu apakah saya akan hidup tahun depan," isaknya sambil memegang tasbih biru.

Sementara orang kaya dapat melakukan haji dengan gaya, menginap di hotel-hotel mewah di Mekah, di negara-negara miskin umat beriman menunggu selama bertahun-tahun dan membuat pengorbanan berat untuk menjadi salah satu dari sekitar 2,5 juta jamaah haji yang ambil bagian dalam ibadah haji tahunan.

Namun pada 2020, hanya beberapa bulan setelah pandemi membuat peristiwa berskala besar tidak mungkin terjadi, hanya 10.000 penduduk Arab Saudi yang dapat melakukan perjalanan ke kota paling suci Islam.

(Baca juga: Jamaah: Haji Tahun Ini Mahal, Pengalaman Mewah)

Amina Gaafar, seorang pensiunan pekerja sosial Mesir berusia 58 tahun, telah menabung selama 30 tahun untuk menunaikan ibadha haji. Namun dengan operasi penggantian lutut yang membayangi, dia tidak bisa menunaikan ibadah haji.

"Saya akhirnya siap secara finansial, dan sekarang virus corona yang menghentikan saya," katanya. Dia pun khawatir dana yang diperoleh dengan susah payah akan dihamburkan untuk pengeluaran sehari-hari.

"Saya khawatir suatu hari nanti saya tidak bisa menunaikan haji sama sekali, karena kesehatan saya yang buruk," katanya sambil menangis, terbungkus gaun abaya panjang, dengan tongkat penyangga disandarkan ke dinding.

Jemaah dari negara-negara Asia berpenduduk padat seperti Indonesia, Malaysia dan Pakistan merupakan sebagian besar peserta haji, dan banyak yang menunggu bertahun-tahun untuk sampai ke barisan depan untuk mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan.

Hal senada dirasakan Muhammad Saleem Butt dari kota Rawalpindi Pakistan. Dia merasa putus asa untuk melakukan perjalanan ke Makkah. Dia sempat menunda pengobatan untuk penyakit hati agar bisa menunaikan ibadah haji, namun pandemi membatalkan rencananya.

"Dulu dalam hidup saya, saya tidak punya uang," kata penjaga toko berusia 73 tahun itu.

"Tetapi selama beberapa tahun terakhir, saya memiliki sumber daya dan anak-anak saya sudah menikah."

“Sekarang kesehatan saya semakin menurun, dokter menyarankan untuk dioperasi,” katanya sambil tetap berharap tahun depan bisa menunaikan ibadah haji.

Hal itu juga dirasakan Jumina, seorang wanita Indonesia berusia 65 tahun. Dia telah menabung untuk haji selama satu dekade dengan menjalankan sebuah toko kecil di rumahnya, dan keluarganya bersiap untuk merayakan kepergiannya.

"Saya sangat kecewa karena saya telah mempersiapkan segalanya untuk perjalanan itu," katanya kepada AFP, termasuk mengambil dua dosis vaksin.

"Jika saya masih cukup sehat untuk pergi lain kali, saya akan pergi. Kami bersandar pada Tuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, pemilik biro perjalanan Kairo Mohammed Essam mengatakan dua pertiga dari mereka yang memesan tiket haji berusia di atas 60 tahun.

Dia menjelaskan tahun ini banyak yang mengungkapkan kesedihan, frustrasi dan kemarahan.

“Secara umum, sebagian besar jamaah haji dari seluruh dunia adalah orang tua. Orang-orang mulai berpikir tentang haji ketika mereka memiliki uang yang ditabung,” katanya kepada AFP di kantornya yang dihiasi dengan gambar Masjidil Haram di Mekkah.

Seperti diketahui, haji secara luas dipandang sebagai titik tertinggi dalam kehidupan beragama Muslim, menyatukan umat beriman bersama jutaan umat beriman untuk memenuhi kewajiban spiritual di tempat-tempat suci Islam.

Jamaah haji akan akan berjalan mengelilingi Kakbah - titik fokus Islam - tujuh kali, menghabiskan malam di dataran antara Mina dan Arafat, dan secara simbolis melempari setan dengan melemparkan batu ke tiga pilar, di antara ritual lainnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini