Sarah Gilbert, Penemu Vaksin Covid-19, Rela Lepaskan Hak Paten untuk Masyarakat

Susi Susanti, Koran SI · Senin 19 Juli 2021 10:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 18 2442749 sarah-gilbert-penemu-vaksin-covid-19-rela-lepaskan-hak-paten-untuk-masyarakat-banyak-YvoV1VsZYz.jpg Profesor Sarah Gilbert (Foto: Universitas Oxford)

INGGRISPandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh negara di dunia. Di tengah-tengah kesulitan dan kecemasan yang mencengkam, nama Profesor Sarah Gilbert muncul sebagai pemberi ‘angin segar’.

Ilmuwan dari Universitas Oxford ini menemukan vaksin Covid-19 yang bisa digunakan untuk melawan virus tersebut. Sarah mengatakan dirinya harus berkejaran dengan waktu.

Dia mencoba mengembangkan vaksin untuk menghentikan virus corona. "Kami harus bekerja dengan sangat, sangat, cepat," katanya kepada BBC.

Tetapi dengan 300 anggota tim di Universitas Oxford, mereka telah berhasil "melewati banyak tahapan dalam pengembangan vaksin, yang biasanya akan memakan waktu sekitar lima tahun".

"Dan kami sudah melakukannya dalam empat bulan," kata sang ahli vaksin.

Hasil pertamanya menggembirakan. Uji coba pada manusia menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan bahwa vaksin dapat bekerja dengan aman dan memicu respons kekebalan terhadap virus.

(Baca juga: Perbedaan Mencolok Pelaksanaan Haji Sebelum dan Sesudah Pandemi Covid-19)

Dengan 22 vaksin potensial lainnya dalam tahapan uji klinis dan sekitar 100 vaksin lainnya pada tahap awal penelitian, tim Oxford juga menghadapi persaingan ketat.

Profesor Gilbert adalah ahli vaksin Institute Jenner Universitas Oxford. Dia memimpin perlombaan untuk mengembangkan vaksin virus corona.

Timnya di Universitas Oxford - yang bermitra dengan perusahaan farmasi multinasional Inggris-Swedia, AstraZeneca - telah melakukan uji coba terhadap 1.077 orang.

(Baca juga: Konsul Haji KJRI Jeddah ke Calon Jamaah Haji Indonesia : Tetap Bersabar)

Ketika berita tentang kesuksesan pertama mereka menyebar- yakni saat sukarelawan uji coba menunjukkan respons kekebalan yang kuat dengan memproduksi antibodi dan sel-T yang dapat melawan virus corona -, ia menjadi selebritas sains dalam waktu semalam.

Meskipun terlalu dini untuk mengetahui apakah hal itu cukup untuk menawarkan perlindungan, temuan ini sangat menjanjikan dan uji coba yang lebih besar sedang berlangsung.

Nama Prof Gilbert tercantum di seluruh media, dan dia dibanjiri permintaan wawancara.

Tetapi, seperti banyak rekan-rekannya, dia terbiasa melakukan pekerjaannya secara anonim- dan kebanyakan jauh dari kamera.

Dia terkenal di antara koleganya, sebagai salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

Dia telah menghabiskan lebih dari dua dekade di laboratorium untuk melakukan penelitian, memproduksi vaksin, dan mendapatkan dana untuk proyek-proyek masa depan.

Pada 30 Desember tahun lalum vaksin corona AstraZeneca yang dia kembangkan bersama dengan Oxford Vaccine Group telah disetujui untuk digunakan di Inggris.

Pada Februari lalu, penggunaan vaksin itu pun disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tahun ini, Gilbert dianugerahi gelar kebangsawanan Dame Commander of the Most Excellent Order of the British Empire (DBE) dari Kerajaan Inggris, atas jasanya pada ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat.

Tahun ini, dia juga dianugerahi penghargaan bergengsi Penghargaan Putri Asturias untuk kategori penelitian ilmiah. Meski memiliki banyak hal yang membanggakan, Gilber tak dikuasai rasa sombong. Bahkan dia rela melepaskan hak paten atas vaksin Covid yang dia kembangkan bersama Oxford-AstraZeneca.

Padahal, jika dia menguasai hak paten itu, dirinya bisa kaya raya. Namun, Gilbert mengesampingkan ambisi semacam itu. Dia lebih memilih untuk tidak mengklaim semua hak kekayaan intelektual atas vaksin temuannya. Dia berharap dengan keputusannya ini, harga vaksin bisa murah sehingga dapat diperoleh seluruh lapisan masyarakat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini