Indra Rudiansyah, Mahasiswa Indonesia yang Ikut Andil Dalam Pembuatan Vaksin AstraZeneca

Tim Okezone, Okezone · Senin 19 Juli 2021 11:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 65 2442761 indra-rudiansyah-mahasiswa-indonesia-yang-ikut-andil-dalam-pembuatan-vaksin-astrazeneca-u8fzMZIWBO.jpg Mahasiswa Indonesia salah satu penemu vaksin Astrazenaca, Indra Rudiansyah (foto: Antara)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh negara di dunia. Di tengah-tengah kesulitan dan kecemasan yang mencengkam, nama Profesor Sarah Gilbert muncul sebagai pemberi ‘angin segar’.

Ilmuwan dari Universitas Oxford ini menemukan vaksin Covid-19 yang bisa digunakan untuk melawan virus tersebut. Sarah mengatakan dirinya harus berkejaran dengan waktu untuk membuat vaksin tersebut.

Dikutip dari Antara, di balik kesuksesan Sarah, ada nama mahasiswa asal Indonesia Indra Rudiansyah yang masuk dalam bagian tim pengembang vaksin tersebut. Mahasiswa berumur 28 tahun itu ikut terlibat dalam penelitian dan bergabung dengan tim Jenner Institute Uni of Oxford yang membantu uji klinis Vaksin Covid-19 yang tengah berlangsung di Universitas tertua di dunia.

Baca juga:  6,4 Juta Warga DKI Jakarta Telah Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

“Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk thesis saya,” ujar Indra Rudiansyah yang menempuh pendidikan D.Phil in Clinical Medicine, Jenner Institute, University of Oxford dikutip dari Antara.

Uji coba vaksin Covid-19 di Pusat Vaksin Oxford dilaksanakan Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group. Tim bekerja mengembangkan vaksin untuk mencegah Covid-19 sejak 20 Januari lalu dipimpin Prof. Sarah Gilbert, Prof. Andrew Pollard, Prof. Teresa Lambe, Dr Sandy Douglas, Prof. Catherine Green dan Prof. Adrian Hill.

Baca juga:  Vaksin Terbaik untuk Hadapi Covid-19? Ini Jawaban Jokowi

Menurut anak ke dua dari tiga bersaudara itu, penelitian utama untuk thesisnya adalah vaksin malaria, namun keikutsertaannya dalam tim ini merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatnya banyak nyawa orang.

Indra yang mendapat beasiswa dari LPDP mengaku keterlibatannya dalam uji klinis ini adalah menguji antibody response dari para volunteer yang sudah divaksinasi.

“Tentunya saya sangat bangga akan hal ini karena dapat berkontribusi secara nyata untuk menghadapi pandemi ini,” ujar Indra mahasiswa S3, di Program Clinical Medicine, Jenner Institute Uni of Oxford yang berasal dari Bandung.

Indra pun membeberkan ketika dirinya terlibat dalam pembuatan vaksin tersebut, ketika outbreak Covid-19 terjadi awal tahun ini, beberapa kolega yang bekerja untuk mengembangkan vaksin untuk emerging pathogen itu mulai mendesain vaksin ini.

"Kemudian kita outbreak mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus di tutup kecuali untuk bidang yang terkait dengan covid 19/sars cov 2. Pada saat yang sama project leader menawarkan bagi siapa saja yang bekerja dengan non-covid jika ingin bergabung akan diperbolehkan," tuturnya.

Dari situ Indra bergabung dengan tim untuk membantu uji klinis. Menurut Indra yang meraih S1 di bidang Mikrobiologi ITB, sebenarnya tidak ada duka dalam keterlibatannya di tim. Namun, tentunya ada tantangan tersendiri dalam bekerja dengan tim ini.

Indra yang meraih S2 Bioteknologi ITB dengan Fast Track Program, mengatakan proses pengembangan vaksin ini sangat cepat hanya dengan enam bulan sudah menghasilkan data uji preklinis dan inisial data untuk safety dan immunogenisitas di manusia.

“Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini,” ujarnya.

Sehingga dia dan tim dituntut untuk selalu bekerja dengan baik dan cepat dan siap dengan perubahan rencana yang ada karena kondisi saat ini yang serba dinamis. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini