Bersaing dengan 35 Tim Dunia, Mahasiswa UI Raih Juara Lomba Konstruksi Internasional

Neneng Zubaidah, Koran SI · Rabu 21 Juli 2021 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 65 2443786 bersaing-dengan-35-tim-dunia-mahasiswa-ui-raih-juara-lomba-konstruksi-internasional-vmmAu9paIZ.jpeg foto: istimewa

JAKARTA - Empat mahasiswa Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2017 berhasil meraih runner-up pada ajang The Chartered Institute of Building (CIOB) Global Student Challenge 2021.

Acara ini diselenggarakan secara daring oleh The Chartered Institute of Building (UK) dan diikuti oleh 35 tim dari seluruh dunia. CIOB Global Student Challenge 2021 merupakan lomba inovasi bidang konstruksi tingkat internasional yang mengusung tema Online Construction Business Game

Baca juga:  Vokasi UI Juara Umum Kompetisi Artificial Intelligence GCC

Empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Harsa Bayanaka tersebut adalah Alfi Rizka Thoriq, Satria Adipradana, Annisa Luthfia, dan Al-Zahra Aisha Namira, di bawah bimbingan dosen Departemen Teknik Sipil FTUI, Dr. Rossy Armyn, S.T., M.T.

Pada tahap pre-competition yang dimulai pada 15 Maret 2021, setiap tim mengikuti trial sessions. Selanjutnya, pada babak penyisihan yang diselenggarakan pada 14 April – 25 Mei 2021, seluruh tim bertanding sebanyak 6 ronde untuk mendapatkan posisi Top 6.

Baca juga:  Bantu Tangani Covid-19, UI Alihfungsikan Asrama Mahasiswa Jadi Lokasi Isoman

Pada tahap final, hanya 6 tim terpilih yang kemudian dapat mengikuti The Global Student Challenge Final. Pembacaan pemenang yang seharusnya dilaksanakan di Sydney, Australia, akhirnya dilaksanakan secara daring di mana Tim Harsa Bayanaka terpilih sebagai runner-up.

Satria menjelaskan, ada enam tahapan awal di babak pre-competition. Setiap tim akan dinilai setiap minggunya berdasarkan Key Performance Indicators, termasuk rasio laba kotor terhadap perputaran, rasio laba operasi terhadap perputaran, nilai perusahaan, harga saham, dan kepuasan klien.

Nilai akhir kemudian menentukan posisi tim dengan peringkat kompetisi secara keseluruhan sebelum akhirnya dipilih enam tim teratas yang menjadi finalis. Dengan berkompetisi di CIOB Global Student Challenge sangat menambah pengalaman kami dalam bidang manajemen konstruksi.

“Kemenangan ini juga melanjutkan tradisi FTUI yang sejak keikutsertaannya di tahun 2019, selalu membawa pulang gelar juara dari tiga besar,” ujar Satria melalui siaran pers, Rabu (21/7/2021).

Kompetisi ini menggunakan MERIT, sebuah game online yang menyimulasikan manajemen sebuah perusahaan konstruksi. Setiap tim, yang terdiri dari empat orang, ditugaskan untuk mengelola perusahaan konstruksi virtual sendiri.

Selama kompetisi, setiap tim diberikan data dan grafik untuk membantu tim menganalisis kinerja perusahaan, termasuk informasi klien, nilai kontrak, keuangan perusahaan, harga saham, investasi, omset, laba, nilai, overhead, staf dan agensi, kapasitas dan pelatihan biaya.

Sedangkan Al-Zahra menjelaskan, pada babak final, setiap anggota tim memegang peranan penting dalam perusahaan konstruksi simulasi. Masing-masing peranan tersebut adalah financial manager, overhead manager, estimating manager, dan construction manager.

Financial manager bertugas mengatur keuangan perusahaan konstruksi termasuk kegiatan investasi perusahaan. Lalu overhead manager bertugas meloloskan pekerjaan yang tersedia di pasar dalam tahap prekualifikasi dan menentukan jumlah staf yang dibutuhkan perusahaan.

Alfi melanjutkan, estimating manager bertugas untuk menghitung perkiraan biaya pekerjaan untuk dilanjutkan pada proses bidding pekerjaan dan juga bertugas untuk melakukan proses bidding pekerjaan. Lalu, construction manager bertugas mengatur Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam pelaksanaan proyek seperti project manager dan pekerja serta menghitung pengeluaran yang dibutuhkan serta keuntungan yang didapatkan dari proyek yang sedang dijalankan.

Annisa mengaku, banyak hal yang dipelajari selama bertanding di Global Student Challenge 2021, salah satunya team work. Menurutnya, bekerja dalam tim bukanlah hal yang mudah, karena banyak perbedaan pendapat untuk mencapai suatu keputusan selama lomba ini.

“Namun kami belajar bahwa semua pendapat perlu didengar, dan tidak semua pendapat harus dilaksanakan. Kami belajar untuk berdiskusi dengan efektif dan profesional untuk mendapatkan keputusan yang paling tepat untuk perusahaan konstruksi kami,” katanya.

“Kami juga banyak belajar tentang manajemen waktu, karena kami berempat memiliki kesibukan masing-masing seperti magang, kuliah, dan skripsi. Kami belajar untuk lebih memiliki toleransi dan disipilin terhadap waktu karena tidak banyak waktu di mana kami berempat benar-benar bisa berdiskusi bersama,” pungkasnya. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini