CT Value Menunjukkan Tingkat Keparahan Covid-19? Ini Kata Dokter Spesialis Patologi Klinis RS UNS

Tim Okezone, Okezone · Kamis 22 Juli 2021 17:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 22 65 2444468 ct-value-menunjukkan-tingkat-keparahan-covid-19-ini-kata-dokter-spesialis-patologi-klinis-rs-uns-wxyvr9nqqA.jpg Spesialis Patologi UNS, dr Tonang Dwi (foto: ist)

JAKARTA – Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan cara yang dinilai paling akurat untuk menentukan seseorang terjangkit SARS-CoV-2 atau tidak. Selain itu, pada lembar tes PCR, juga terlampir Cycle Threshold (CT) Value yang dapat mengukur jumlah virus dalam tubuh seseorang.

Namun, angka CT Value yang tertera seringkali salah dipahami oleh masyarakat awam. Mereka menganggap nilai CT Value berbanding lurus dengan tingkat keparahan Covid-19.

Baca juga:  Update Corona 22 Juli 2021: Positif 3.033.339 Orang, 2.392.923, Sembuh dan 79.032 Meninggal

Padahal anggapan tersebut tidak tepat. Dalam hal ini, dokter Spesialis Patologi Klinis Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dr. Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, untuk menentukan tingkat keparahan Covid-19 perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter yang merawat.

“Nanti dokter yang akan melakukan pemeriksaan fisik, kronologisnya bagaimana, dan hasil lab ditambah dengan CT Value untuk informasi tambahan bagi dokter yang merawat,” ujar dr. Tonang Dwi Ardyanto dalam keterangannya, Kamis (22/7/2021).

 Baca juga: Penularan Covid-19 Terus Melonjak, Gedung Sekolah Jadi Tempat Isoman Baru

dr. Tonang Dwi Ardyanto yang juga Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS ini menerangkan, angka CT Value berbanding terbalik dengan jumlah virus di dalam tubuh. Misalnya, jika pada putaran ke-5 sudah terdeteksi virus, maka angka CT Value seseorang adalah 5. Ini menandakan orang yang bersangkutan terindikasi kuat positif Covid-19.

Sedangkan, jika pada putaran ke-38 dari sampel yang diperiksa baru terdeteksi virus, itu menandakan indikasi seseorang positif Covid-19 lemah.

“Sebenarnya CT Value ini menunjukkan gambaran berapa kali kita harus melakukan proses cycle. Supaya nanti akhirnya jumlah DNA dalam sampel melewati ambang tertentu. Makanya disebut sebagai cycle threeshold,” terangnya.

dr. Tonang Dwi Ardyanto juga mengingatkan jika respons masing-masing orang saat melawan SARS-CoV-2 berbeda-beda. Sehingga, bisa saja seseorang yang CT Value-nya rendah merasakan gejala yang tidak signifikan. Sedangkan, orang lain yang CT Value-nya tinggi dapat merasakan gejala yang signifikan.

“Maka kembali lagi ke tubuh yang berangkutan. Imunnya bagus bisa aja tidak ada gejala. Hanya memang banyaknya virus dalam nasofaring tidak linear dengan gejala yang timbul,” imbuh dr. Tonang Dwi Ardyanto. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini