Jubir Satgas Covid-19 RS UNS Sebut Indonesia Ada di Gelombang Ketiga Covid-19

Tim Okezone, Okezone · Kamis 22 Juli 2021 17:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 22 65 2444489 jubir-satgas-covid-19-rs-uns-sebut-indonesia-ada-di-gelombang-ketiga-covid-19-pV7nW3YAFC.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, sebenarnya Indonesia tengah dilanda gelombang ketiga Covid-19.

Hal itu dapat dilihat dari pertambahan kasus Covid-19 yang melonjak drastis, RS yang kewalahan menerima pasien positif Covid-19, dan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar SARS-CoV-2, hingga ada yang meninggal.

“Kita pernah menjadi yang tertinggi dan terbanyak di Asia, tapi saat ini kita sedang turun. Ini posisi menggambarkan kita sebenarnya ada di gelombang ketiga, hanya gelombang pertama seolah-olah tidak merasakan,” ujar dr. Tonang Dwi Ardyanto dalam Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS.

Baca juga:  Kasus Covid Bertambah 49.509, Ini Sebarannya di 34 Provinsi

Berdasar realita di lapangan, dr. Tonang juga menyampaikan, saat ini Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah RS mengalami pertambahan antrean yang banyak. Contohnya saja di RS UNS, antrean di IGD bisa mencapai 20-25 orang.

“Di RSUD Moewardi bisa sampai 60. Ada yang sampai di tenda, ada yang di selasar. Pasien menunggu untuk kamar. Itu kondisi hari ini yang tidak kita sangka,” ungkap dr. Tonang.

Baca juga:  CT Value Menunjukkan Tingkat Keparahan Covid-19? Ini Kata Dokter Spesialis Patologi Klinis RS UNS

Lebih lanjut, ia mengatakan apabila pemerintah jadi untuk melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang perlu diperhatikan adalah potensi terjadinya lonjakan kasus Covid-19, seperti yang dialami oleh Inggris, Malaysia, India, termasuk Singapura yang dinilai sebagai negara paling berhasil menanggulangi pandemi Covid-19.

dr. Tonang dalam paparannya mencontohkan, dengan merebaknya Covid-19 varian Delta yang berasal dari India, membuat pertambahan kasus Covid-19 di Inggris dan Malaysia melonjak drastis, bahkan lebih tinggi daripada Indonesia.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah angka kematian pasien akibat Covid-19 di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia dan Inggris.

“Sebenarnya kita belum setinggi Malaysia dan UK tapi dalam hal kematian harus kita akui hampir mengalahkan Malaysia, walaupun kasusnya Malaysia lebih berlipat dari kita,” jelasnya.

Belajar dari negara lain

dr. Tonang meminta agar pemerintah Indonesia banyak belajar dari negara-negara di dunia dalam pengambilan keputusan untuk pembatasan aktivitas masyarakat dan vaksinasi Covid-19.

Ia mendorong Kementerian Kesehatan untuk menggencarkan tes Covid-19 hingga 15 kali lipat dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini pernah dilakukan India saat Covid-19 varian Delta pertama kali merebak di negara tersebut.

“Saat ini kita masih tinggi. Kalau antigen saja kita 29,1 persen. Kalau PCR 38,6 persen. Kemarin sempat 47,6 persen jadi belum stabil posisi kita,” tutur dr. Tonang.

Ia menambahkan, pemerintah sebaiknya perlu mengkaji ulang pelonggaran PPKM, sebab persentase masyarakat yang baru mendapat suntikan pertama dengan suntikan kedua vaksin Covid-19 belum mencapai persentase yang diinginkan.

Sebagai contoh, di Inggris, pemerintahan Boris Johnson berani untuk melonggarkan penguncian wilayah sebab 88 persen masyarakatnya sudah mendapat suntikan pertama vaksin Covid-19. Dan, persentase yang mendapat suntikan kedua vaksin Covid-19 sudah mencapai 60%.

“Dan, ini menjadi pelajaran berharga untuk kita agar memang reopening yang situasi dianggap sudah siap pun ternyata juga terjadi (red: pertambahan kasus Covid-19) dan cakupan vaksinasi kita belum ke sana (red: mencapai target),” ucapnya.

Oleh karenanya, dr. Tonang juga mendorong agar pemerintah secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya melakukan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat. Sebab, efek dari vaksinasi Covid-9 baru dapat dirasakan manfaatnya jika sudah mencapai persentase 40%.

“Sehingga, kita berharap efek vaksinnya bisa terasa. Ini bukan berarti pandemi selesai, tapi jumlah kasus bisa di bawah jumlah yang sembuh. Misalnya, di Chili, yang divaksinasi Covid-19 adalah lansia. Dampaknya kasus positif bergeser ke remaja, kemudian ke anak-anak. Makanya remaja dan anak-anak juga perlu divaksinasi,” pungkasnya. (din)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini