Menhan AS Dukung Pencegahan Terintegrasi untuk Redam Agresi China di Asia Tenggara

Agregasi VOA, · Kamis 29 Juli 2021 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 18 2447615 menhan-as-dukung-pencegahan-terintegrasi-untuk-redam-agresi-china-di-asia-tenggara-8CN7QYZ7Ee.jpg Menhan AS Lloyd Austin saat berbicara di Singapura (Foto: Reuters)

SINGAPURA - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS )Lloyd Austin bertemu dengan sekutu-sekutu AS di Singapura sebagai pejabat tinggi pemerintahan Presiden AS Joe Biden pertama yang mengunjungi Asia Tenggara.

Austin menyampaikan visi AS tentang “pencegahan terintegrasi” bagi kawasan itu, sebuah rencana untuk meningkatkan kemampuan militer negara-negara sekutu dan AS termasuk bekerja sama untuk mencegah langkah yang dipandang banyak kalangan sebagai perilaku intimidasi China.

“Pencegahan terpadu juga berarti bekerja dengan sejumlah mitra untuk mencegah pemaksaan dan agresi dalam spektrum konflik secara keseluruhan, yang juga disebut 'zona abu-abu' ketika hak dan mata pencaharian masyarakat di Asia Tenggara berada di bawah tekanan,” ujarnya.

Austin menyatakan klaim Beijing atas sebagian besar Laut China Selatan melanggar kedaulatan dan hak-hak dasar negara-negara Asia Tenggara yang diakui dalam hukum internasional.

(Baca juga: Gedung Putih Pertimbangkan Wajib Vaksin Covid-19 untuk Pegawai Federal)

Kapal-kapal China dituduh mengganggu nelayan dalam zona ekonomi eksklusif Filipina dan para pengembang minyak dan gas di lepas pantai Malaysia dan Vietnam. China menghambat pengembangan energi mereka.

Meskipun ada klaim teritorial dari negara-negara lain, China telah membangun pulau-pulau buatan ratusan hektare di laut yang kaya sumber daya itu untuk memperkuat klaim atas wilayah tersebut.

(Baca juga: Biden: Serangan Siber dapat Sebabkan Perang di Dunia Nyata)

Walaupun sekutu-sekutu di Asia Tenggara merasa gembira dengan kehadiran Amerika Serikat untuk membantu, tetapi mereka khawatir dua kekuatan besar itu dapat menimbulkan masalah lebih banyak ketika Washington dan Beijing saling berhadapan.

“Banyak kecemasan yang sekarang terjadi akibat ketegangan tingkat tinggi antara AS dan China. Begitu banyak masalah mulai dari Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, Laut China Selatan, sehingga mereka akan terperangkap di dalamnya. Yang tidak mereka inginkan adalah dipaksa untuk harus memilih,” terang Murray Hiebert dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga penelitian kebijakan di Washington, D.C.

Austin menjelaskan pemerintahan Biden tidak meminta sekutu-sekutu regional AS untuk memilih antara Washington dan Beijing. Ia juga mencatat banyak kemitraan regional yang terjalin lama dengan AS dibandingkan Partai Komunis China.

Menteri Pertahanan AS itu bahkan mengulurkan upaya yang dinilai sebagai langkah damai ke China, termasuk bekerja sama di bidang-bidang seperti perubahan iklim. “Kami tidak akan gentar ketika kepentingan kita terancam, namun kami tidak mencari konfrontasi. Saya tegaskan sebagai Menhan, saya berkomitmen untuk menjalin hubungan yang konstruktif dan stabil dengan China,” imbuhnya.

Sejumlah pakar memperingatkan bahwa mengupayakan sebuah hubungan yang stabil merupakan cara terbaik untuk mengurangi ketegangan, yang mendekati titik tertinggi sepanjang masa pada berbagai masalah mulai dari Taiwan hingga Laut China Selatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini