Ketika Mangkunegoro VII Menjamu Pujangga Besar Rabindranath Tagore

Solopos.com, · Minggu 15 Agustus 2021 12:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 15 512 2455848 ketika-mangkunegoro-vii-menjamu-pujangga-besar-rabindranath-tagore-Q3SU9PthAi.jpg Rabindranath Tagore berfoto bersama Sri Mangkunegoro VII (Foto: puromangkunegaran.com)

SOLO – Wafatnya pemimpin Pura Mangkunegaran Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegoro (KGPAA) IX memang mengejutkan. Namun berpulangnya Mangkunegoro IX sekaligus membangkitkan lagi kenangan soal kiprahnya dalam bidang kebudayaan.

Di eranya yang sudah memasuki zaman modern di mana peran politik dan kekuasaan administratif sudah tak ada lagi, Pura Mangkunegaran masih mampu bertahan sebagai pusat rujukan kebudayaan Jawa. Mangkunegoro IX menjadi penerus leluhur dan pendahulunya, Mangkunegoro VII, yang juga merupakan seorang tokoh budaya.

Bahkan di era Mangkunegoro VII, pujangga yang juga penerima Anugerah Nobel untuk Kesusasteraan, Rabindranath Tagore, sempat bertandang cukup lama. Pujangga asal India itu menjadi tamu resmi Mangkunegoro VII dan menjadi salah satu undangan penting yang hadir saat upacara peringatan naik takhta atau jumenengan Mangkunegoro VII.

(Baca juga: Pemakaman Mangkunegara IX di Astana Girilayu Karanganyar Dilakukan Tertutup)

Bagaimana ceritanya? Dr. Arun Das Gupta dalam makalahnya, Rabindranath Tagore In Indonesia: An Experiment In Bridge-Building yang terhimpun dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 158 (2002), di mana solopos.com mengunduhnya dari situs www.kitlv-journals.nl memberikan ulasan yang lengkap mengenai kunjungan Tagore ini.

  • Perjalanan Panjang

Tagore (1861-1941) berangkat dari kota tempat kelahirannya, Calcutta (kini Kolkata), India, pada 12 Juli 1927. Membersamainya berangkat pula pakar filologi atau pakar teks klasik Suniti Kumar Chatterji, seniman yang juga fotografer dan arsitek Surendranath Kar, serta pelukis dan pemusik Dhirendra Krishna Deva Varman. Mereka berangkat dengan kapal Prancis Ambois dari Kota Madras ke Singapura. Setelah sebulan tinggal di Singapura dan Malaya (kini Malaysia), rombongan kecil ini tiba di Batavia (Jakarta) pada 21 Agustus. Mereka kemudian berlanjut mengunjungi Bali, lantas Surabaya. Kemudian dengan perjalanan darat mereka berkunjung ke berbagai tempat di Jawa dari tanggal 9 hingga 30 September. Di akhir September itu rombongan Tagore meninggalkan Batavia dan pulang melalui Singapura.

(Baca juga: Hari Ini, Mangkunegara IX Dimakamkan Pukul 10.00 WIB)

Lantas apa yang mendasari rangkaian kunjungan ini? Arun Das Gupta yang mengutip Chatterji menyebut bahwa ini adalah misi budaya dari perguruan tinggi yang dipelopori Tagore yaitu Universitas Visva Bharati di Santiniketan. Misinya adalah mempelajari warisan budaya India di Indonesia (Hindia Belanda waktu itu), serta membangun kerja sama budaya antara India dengan kawasan Asia Tenggara.

Arun Das Gupta menambahkan penjelasan bahwa Tagore sendiri sudah lama penasaran dengan Bali karena agama Hindu dan budayanya masih sangat kuat di pulau itu. Selain itu Tagore sendiri sebelum berangkat menyatakan bahwa perjalanan itu adalah peziarahan ke tempat India berada di luar batas-batas geografis dan politik.

Sementara keterkaitan Tagore dengan Jawa tak lain karena salah satu penerjemah karya-karya Tagore ke dalam bahasa Belanda adalah Raden Mas Noto Soeroto, cucu penguasa Pura Pakualaman Yogyakarta, Sri Paku Alam V. R.M. Noto Soeroto yang aktif di dunia kesusasteraan di Belanda juga menulis sketsa biografi Tagore dan menulis buku tentang ide-ide pendidikan Tagore.

  • Keterkaitan dengan Pura Mangkunegaran

Nah, di sinilah mulai muncul keterkaitan lebih lanjut dengan Pura Mangkunegaran. R.M. Noto Soeroto berkawan akrab dengan Gusti Raden Mas Soerjo Soeparto, yang kemudian naik takhta sebagai Mangkunegoro VII. Bahkan Mangkunegoro VII menjadi penerjemah karya-karya Tagore dalam bahasa Belanda hasil garapan Noto Soeroto ke dalam bahasa Jawa. Tak heran jika karya-karya Tagore juga terkenal luas di sini sehingga banyak orang yang sangat antusias dengan kabar kunjungan Tagore.

Lawatan Tagore ke wilayah Hindia Belanda ini juga berdasar undangan dan sponsor penuh komunitas peminat budaya, Kunstkring atau perkumpulan kebudayaan di Batavia (Jakarta). Sementara untuk agenda kunjungan Tagore ke berbagai situs sejarah dan budaya seperti Candi Borobudur, Dinas Arkeologi Pemerintah Hindia Belanda memberikan fasilitasinya. Pemerintah Hindia Belanda bersikap hati-hati dalam kunjungan ini. Mereka tentu ingin agar sang pujangga besar itu nyaman selama kunjungannya. Namun di sisi lain tak ingin agar kunjungan ini membangkitkan semangat nasionalisme di tingkat lokal. Memang Tagore menjadi salah satu inspirasi nasionalisme termasuk dalam hal pendidikan seperti yang diadopsi Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara dengan Perguruan Taman Siswa-nya.

Singkat cerita, setelah berkunjung ke Bali dan kemudian Surabaya, Tagore tiba di Kota Solo dan tinggal selama lima hari (12-17 September 1927). Situs resmi Pura Mangkunegaran, puromangkunegaran.com menyebut selama itu Tagore menjadi tamu resmi Mangkunegoro VII dan tinggal di lingkup Mangkunegaran.

Salah satu bangsawan Solo, K.R.T. dr. Radjiman Wedyodiningrat, yang juga tokoh organisasi Budi Utomo dan tokoh kebudayaan, menjadi pemandunya ke berbagai pertemuan dan pertunjukan budaya. Dalam salah satu jamuan besar untuk menghormatinya, dalam brosur panduan acara ada tulisan puisi Tagore mengenai Jawa dalam terjemahan bahasa Belanda dan Inggris dengan tanda tangan Tagore dan Mangkunegoro VII. Dalam acara lain, karya Tagore dalam bahasa Jawa hasil terjemahan Mangkunegoro VII tersaji dalam bentuk tembang.

Kesan mendalam

Pertunjukan-pertunjukan kesenian Jawa seperti tarian dan wayang kulit yang hadir ke hadapan Tagore memberi kesan mendalam kepadanya. Tagore takjub dengan adaptasi Jawa terhadap tradisi Hindu-India. Tagore dalam surat-suratnya terkait perjalanannya ke Jawa serta catatan dalam buku harian salah satu pendampingnya, Chatterji, sama-sama mengungkapkan kekaguman tentang hal ini. Mereka sama-sama menyebut bahwa budaya Jawa mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan kisah-kisah sastra klasik India yaitu Mahabharata dan Ramayana dan memberikan tafsir sendiri yang sangat orisinal.

Sementara itu penghormatan dari Mangkunegoro VII terhadap Tagore tak hanya dalam wujud menjadi tuan rumah, tapi Mangkunegoro VII bahkan menyematkan nama Rabindranath Tagore menjadi nama sebuah jalan di kawasan Gilingan. Inilah mungkin satu-satunya jalan di Indonesia yang peresmian penamaannya berlangsung dengan kehadiran langsung si empunya nama. Jl. Rabindranath Tagore masih bisa kita jumpai sekarang yaitu sebuah jalan yang ramai dan panas di sisi timur kompleks Terminal Tirtonadi Solo.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini