Share

Berapa Biaya yang Sudah Dihabiskan AS dan Sekutu-sekutunya dalam Perang Lawan Taliban?

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 18 Agustus 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 18 2457023 berapa-biaya-yang-sudah-dihabiskan-as-dan-sekutu-sekutunya-dalam-perang-lawan-taliban-C3C0eqEBBD.jpg Pasukan AS di Afghanistan (Foto: Reuters)

AFGHANISTAN - Seiring dengan berkuasanya kembali Taliban di Afghanistan dan penarikan mundur pasukan asing dari negara itu, BBC menelisik berapa banyak biaya yang telah dihabiskan Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya selama 20 tahun menggelar operasi militer di sana.

AS menginvasi Afghanistan dan melengserkan Taliban pada Oktober 2001 dengan alasan kelompok tersebut menyembunyikan Osama Bin Laden dan sejumlah petinggi Al-Qaeda lainnya yang terkait serangan 11 September 2001.

Jumlah personel militer yang dikirim Washington pun bertambah seiring dikucurkannya miliaran dollar untuk memerangi perlawanan Taliban dan mendanai rekonstruksi di Afghanistan. Pada 2011, serdadu AS mencapai 110.000 orang.

Tahun lalu, jumlah serdadu AS hanya tersisa 4.000 jiwa.

Akan tetapi data resmi tidak selalu mencakup pasukan operasi khusus dan unit-unit sementara.

Negara-negara lain juga mengirimkan serdadu mereka ke Afghanistan, termasuk sejumlah anggota NATO.

(Baca juga: Taliban Kuasai Afghanistan, Gubes UNS Nilai Ada Kaitan dengan Lemahnya Joe Biden)

Namun, AS adalah negara pengirim serdadu terbanyak.

Pada Desember 2014, NATO secara resmi mengakhiri operasi tempurnya, namun menyisakan 13.000 personel untuk melatih militer Afghanistan serta operasi kontra-terorisme.

Selain personel militer, ada pula kontraktor keamanan swasta di Afghanistan. Hingga akhir kuartal terakhir 2020, tercatat lebih dari 7.800 warga AS terlibat sebagai di bidang itu, menurut riset Kongres AS.

 (Baca juga: Presiden Prancis: Afghanistan Tidak Boleh Menjadi 'Surga Teroris' Lagi)

  • Berapa banyak uang yang dihabiskan?

Sebagian besar pengeluaran di Afghanistan berasal dari AS.

Menurut data pemerintah AS, antara 2010 hingga 2012, ketika AS menempatkan lebih dari 100.000 serdadu di Afghanistan, biaya operasi perang berkembang hingga hampir mencapai USD100 miliar (Rp1.437 triliun) per tahun.

Namun, ketika militer AS mengalihkan fokusnya dari operasi serang ke pelatihan militer Afghanistan, biaya yang dikeluarkan merosot drastis.

Pada 2018, pengeluaran tahunan sekitar USD45 miliar (Rp647 triliun), sebagaimana disampaikan pejabat Departemen Pertahanan kepada Kongres AS tahun itu.

Menurut Dephan AS, total pengeluaran militer di Afghanistan dari Oktober 2001 hingga September 2019 mencapai USD778 (Rp11.183 triliun) miliar.

Tak berhenti di situ. Departemen Luar Negeri AS—serta Badan Pembangunan Internasional yang bernaung di bawah pemerintah AS (USAID) dan lembaga pemerintah lainnya—menghabiskan USD44 miliar (Rp632 triliun) untuk proyek-proyek rekonstruksi.

Dengan demikian, biaya total yang dikeluarkan antara 2001 hingga 2019 berdasarkan data resmi mencapai USD822 miliar (Rp11.815 triliun) . Jumlah itu belum termasuk pengeluaran di Pakistan, tempat AS mendirikan pangkalan militer untuk operasi tempur terkait Afghanistan.

Berdasarkan kajian Universitas Brown pada 2019 terhadap pengeluaran di Afghanistan dan Pakistan, AS telah membelanjakan sekitar USD978 miliar (Rp14.056 triliun). Perkiraan ini mencakup uang yang dialokasikan untuk tahun fiskal 2020.

Kajian itu mencatat sulit meninjau biaya keseluruhan karena metode penghitungan bervariasi antardepartemen pemerintah AS. Metode penghitungan juga berubah seiring waktu sehingga perkiraan biaya total berbeda.

Inggris dan Jerman—yang mengirim serdadu dalam jumlah terbanyak ke Afghanistan setelah AS—masing-masing menghabiskan USD30 miliar (Rp431 triliun) dan USD19 miliar (Rp273 triliun) sepanjang operasi di sana.

Meski telah menarik mundur hampir seluruh pasukannya, AS dan NATO menjanjikan USD4 miliar (Rp57 triliun) per tahun sampai 2024 untuk mendanai militer Afghanistan.

Sejauh ini, NATO telah mengirim perbekalan dan perlengkapan bernilai USD72 juta (Rp1 triliun)ke Afghanistan.

  • Ke mana perginya uang itu?

Sebagian besar uang dalam perang di Afghanistan dipakai untuk operasi melawan pemberontakan serta berbagai keperluan pasukan, seperti makanan, pakaian, obat-obatan, gaji, dan tunjangan.

Data resmi menunjukkan bahwa sejak 2002, AS juga menghabiskan sekitar USD143,27 miliar (Rp1.060 triliun) untuk beragam kegiatan rekonstruksi di Afghanistan.

Lebih dari setengah pengeluaran dari USD88,32 miliar (Rp1.269 triliun) dipakai untuk membina pasukan keamanan Afghanistan, termasuk Angkatan Darat dan Kepolisian.

Hampir USD36 miliar (Rp517 triliun) disalurkan untuk tata kelola pemerintahan dan pembangunan. Ada pula sebagian dana dialokasikan untuk upaya anti-narkoba dan bantuan kemanusiaan.

Sejumlah dana ini hilang sia-sia akibat penyelewengan dan korupsi.

Dalam laporan ke Kongres AS pada Oktober 2020, lembaga pemantau upaya rekonstuksi di Afghanistan memperkirakan sekitar USD19 miliar (Rp273 triliun) telah lenyap antara Mei 2009 hingga 31 Desember 2019.

  • Bagaimana dengan korban manusia?

Sejak perang melawan Taliban dimulai pada 2001, lebih dari 3.500 orang meninggal dunia di pihak pasukan koalisi. Lebih dari 2.300 orang di antaranya adalah tentara AS. Tentara Inggris yang tewas melampaui 450 orang.

Adapun tentara AS yang cedera mencapai 20.660 orang.

Namun, jumlah ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah tentara dan warga sipil Afghanistan yang tewas.

Pada 2019, Presiden Ghani mengatakan bahwa lebih dari 45.000 personel pasukan keamanan Afghan telah tewas sejak dia menjadi presiden lima tahun sebelumnya.

Kajian Universitas Brown pada 2019 memperkirakan jumlah nyawa yang hilang di tubuh militer dan kepolisian Afghanistan melampaui 64.100 orang sejak Oktober 2001, ketika perang dimulai.

Kemudian, menurut Misi Pendampingan PBB di Afghanistan (Unama), hampir 111.000 warga sipil telah tewas atau cedera sejak lembaga itu mulai mencatat korban sipil pada 2009.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini