Share

Taliban Kembali Rebut Afghanistan, Mengapa Dikaitkan dengan Jatuhnya Saigon ke Viet Cong?

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 18 Agustus 2021 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 18 2457297 taliban-kembali-rebut-afghanistan-mengapa-dikaitkan-dengan-jatuhnya-saigon-ke-viet-cong-FQJcl6lJN7.jpg Orang-orang berdesakan berebut naik pesawat terbang ingin meninggalkan Kabul, Afghanistan (Foto: Tangkapan video/NDTV)

KABUL - Sepanjang penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari ibu kota Afghanistan, Kabul, media sosial (medsos) dibanjiri dengan foto-foto helikopter yang mengevakuasi orang-orang dari kedutaan besar AS di Kabul.

Foto ini mirip dengan peristiwa lainnya di masa silam. Kembali ke tahun 1975, ketika fotografer Hulbert van Es mengambil gambar yang sangat ikonik, orang-orang berebut naik helikopter di atap gedung di Saigon, pada akhir Perang Vietnam.

Analis dan anggota parlemen AS - masing-masing dari Republik dan Demokrat - membandingkan runtuhnya Saigon dengan penguasaan Kabul oleh Taliban.

  • Apa itu peristiwa runtuhnya Saigon?

Perang Vietnam merupakan konflik antara pemerintah komunis di Vietnam Utara, dan Vietnam Selatan yang secara perinsip bersekutu dengan AS.

Konflik berkepanjangan - berlangsung hampir 20 tahun - harus dibayar mahal oleh AS, dan sangat memecah belah warga Amerika.

Kata "runtuhnya Saigon" merujuk pada penguasaan ibu kota Vietnam Selatan itu oleh pasukan komunis Vietnam Utara dengan dukungan milisi Viet Cong.

(Baca juga: Taliban Kembali Berkuasa di Afghanistan, Siapa Saja Para Pemimpinnya dan Bagaimana Sepak Terjang Mereka?)

Saigon dikuasai Viet Cong dan Vietnam Utara pada 30 April 1975.

Dengan latar belakang Perang Dingin, Vietnam Utara mendapat sokongan dari Uni Soviet dan sekutu komunis lainnya, sementara Vietnam Selatan mendapat dukungan dari pasukan Barat - termasuk ratusan ribu tentara AS.

Amerika menarik pasukannya dari Vietnam Selatan pada 1973, dan dua tahun kemudian negara itu mengumumkan menyerah setelah pasukan dari Utara mengambil alih Saigon - kemudian mengubah namanya menjadi Kota Ho Chi Minh (nama dari pemimpin komunis di Vietnam Utara).

(Baca juga: Jasad Manusia Ditemukan di Roda Pesawat, Diduga Warga Afghanistan yang Hendak Kabur)

Sama seperti Kabul, kota tersebut dikuasai pasukan Taliban lebih cepat dari perkiraan AS.

Dalam tanggapannya, AS meninggalkan kedutaannya di Saigon dan mengevakuasi lebih dari 7.000 warga Amerika dan warga asing lainnya di Vietnam Selatan dengan helikopter. Perebutan ini dikenal dengan Operation Frequent Wind.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

  • Apakah ini layak dibandingkan dengan peristiwa Kabul?

Pada akhirnya, Perang Vietnam telah menjadi kebijakan yang semakin tidak populer di AS. Bukan hanya berbiaya hingga miliaran dolar, tapi juta telah merenggung 58.000 nyawa.

Bagi sebagian orang, runtuhnya Saigon merupakan pukulan bagi Amerika di panggung dunia.

Dalam beberapa dekade sejak itu, istilah Sindrom Vietnam muncul - sebagai tanda protes pemilih di Amerika atas kebijakan pengerahan kekuatan militer di luar negeri.

Banyak anggota parlemen AS membandingkan insiden Saigon dan Kabul.

"Ini adalah Saigon-nya Joe Biden," cuit Elise Stefanik, anggota DPR AS dari Partai Republik yang beroposisi.

"Kegagalan di panggung internasional yang tak akan pernah terlupakan,” lanjutnya.

Akhir bulan kemarin, Jenderal Mark Milley, Ketua Gabungan Kepala Staf militer AS, menolak perbandingan tersebut.

"Saya melihatnya tidak seperti itu," kata Jenderal Milley kepada wartawan.

"Saya mungkin keliru, siapa tahu, Anda tak bisa memprediksi masa depan, tapi... Taliban bukanlah pasukan Vietnam Utara. Situasinya tidak seperti itu,” ungkapnya.

Selain berbeda secara simbolik, ada juga perbedaan besar di antara keduanya.

Runtuhnya Saigon terjadi dua tahun setelah pasukan AS ditarik dari Vietnam. Sementara itu, evakuasi AS dari Kabul terjadi di saat AS sudah bersiap untuk meninggalkan Afghanistan.

Akan tetapi kejatuhan politik bagi Presiden Gerald Ford terbatas pada tahun 1975, tapi masih belum jelas apakah dampak yang sama akan terjadi terhadap Presiden Biden. Perang merupakan kebijakan tidak populer di dalam negeri AS.

"Saya punya sedikit keraguan, bahwa ini akan berdampak terhadap Biden," kata Christopher Phelps, seorang professor American Studies di University of Nottingham.

"Ini akan dilihat sebagai kerugian, dan mungkin sebagai rasa aib - ini benar-benar akan menjadi panggilannya, adil atau tidak,” ujarnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini