Epidemolog: Kematian Covid-19 di Sulsel Cendrung Dialami Remaja hingga Dewasa Produktif

Antara, · Rabu 18 Agustus 2021 05:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 609 2457017 epidemolog-kematian-covid-19-di-sulsel-cendrung-dialami-remaja-hingga-dewasa-produktif-dJqqioKcNy.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

MAKASSAR - Epidemiolog asal Universitas Hasanuddin (Unhas) Ridwan Amiruddin mengungkapkan bahwa angka kematian Covid-19 di Sulawesi Selatan tampak mengalami peningkatan, yang kecenderungannya mulai ke kelompok remaja dewasa produktif.

Sebelum masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Makassar tingkat kematian masyarakat akibat Covid-19 berada di angka 1,5 persen dan selama PPKM meningkat hingga 1,9 persen.

"Artinya kematian yang tinggi ini sudah menyasar juga kelompok produktif, karena tidak terlepas dari isolasi mandiri yang didorong oleh pemerintah sebelumnya," ujarnya.

Baca juga: Anies Sebut Data Kematian Covid-19 di DKI Dilaporkan Apa Adanya

Kematian yang tinggi di rumah sakit itu dinilai adalah mata rantai dari isolasi mandiri yang tidak terkelola dengan baik, khususnya untuk usia produktif rata-rata usia 25-50 tahun.

"Sekarang ada tiga lokasi isolasi yang disediakan pemerintah yaitu isolasi apung di kapal Pelni, Asrama Haji, dan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar Jalan Moha Lasuloro, Antang, Kecamatan Manggala," jelasnya.

Baca juga: Angka Kematian Covid-19 Tak Digunakan untuk Sementara Hindari Distorsi Penilaian

Jika langkah isolasi mandiri ini tidak dilaksanakan seperti itu, menurut Ridwan, maka orang yang terkonfirmasi positif dan isolasi di rumahnya, bisa jadi klaster baru dalam keluarga. Sehingga tingkat penularan akan terus tinggi karena sumbernya di tingkat rumah tangga.

Ia menjelaskan, dengan adanya varian Delta baru, maka 4-5 hari setelah terinfeksi pemburukan akan terjadi.

"Pasien Covid-19 terindikasi varian Delta tidak sempat diberikan pelayanan, mau ke rumah sakit terlambat karena transportasi, sampai di rumah sakit masih antre di UGD hingga tidak dapat pelayanan dan akhirnya meninggal di situ. Secara global, varian Delta berpengaruh sekitar 92 persen termasuk di Indonesia," katanya.

Ia menambahkan, Covid-19 ini masih menjadi pandemi dan itu akan turun jadi endemik yang artinya virus corona sepanjang masa dan sudah menjadi hal yang biasa. "Ada skenarionya, dia bisa hilang dengan sendirinya dan dia muncul 50 atau 100 tahun lagi," kata dia.

Baca juga: Kapolda Metro Ajak Seluruh Pihak Bersinergi Tanggulangi Pandemi Covid-19

Menurut dia, isolasi mandiri yang bagus dan sesuai tentu akan memperbaiki kondisi kasus Covid-19 atau semakin menurun angka penularannya. Selain itu, vaksin yang ada betul-betul berfungsi memberi perlindungan di angka cakupan 70 persen untuk bisa lepas dari krisis ini.

"Pemerintah harus siapkan logistik secara maksimum. Sekarang di angka 25 persen cakupannya," ujarnya.

Baca juga: Kemenkes: Lonjakan Kematian Covid-19 karena Akumulasi Kasus Belum Terlaporkan

Ridwan menambahkan, pemerintah harus terus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. "Jika mau keluar dari krisis Covid-19 harus melalui pendekatan kesehatan masyarakat yakni kepatuhan prokes di atas 95 persen sementara saat ini masih sekitar 70 persen," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini