Curhat Penggali Makam Covid-19 Belum Terima Insentif hingga Difitnah

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 03 September 2021 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 03 519 2465733 curhat-penggali-makam-covid-19-belum-terima-insentif-hingga-difitnah-yHRlHkZwt9.jpg Penggali makam Covid-19, Taufan Putra (Foto: Avirista M)

KOTA MALANG - Dana insentif pemakaman Covid-19 Kota Malang, Jawa Timur masih menjadi persoalan. Bahkan, ada temuan dugaan ketidakwajaran pengelolaan dana pemakaman pasien Covid-19 sejak 2020-2021, yang tercium Malang Corruption Watch (MCW). 

Sebab, ada beberapa penggali makam yang merasa tak pernah menerima insentif dana pemakaman yang telah dialokasikan oleh Pemkot Malang. Seorang penggali makam sekaligus juru kunci Tempat Pemakaman Umum (TPU) RW 8 Plaosan Barat Taufan Putra mengaku, tak pernah sama sekali menerima pembayaran insentif dana pemakaman Covid-19.

Justru yang terjadi ia menerima fitnah dari masyarakat lantaran ada informasi petugas pemakaman menerima insentif Rp1,5 juta untuk pemakaman dan penggali makamnya. 

"Saya emosi sampai bilang mau tak lempar difitnah. Saya kerja penuh keikhlasan, tapi kok difitnah. Warga yang ngomong, katanya juru kunci memperkaya diri, karena corona, dikira dapat Rp1,5 juta sekali pemakaman, nggak dikasih uang kok," ujar Taufan, ditemui MNC Portal Indonesia pada Jumat siang (3/9/2021) di TPU Plaosan Barat.

Baca Juga: Jual Sertifikat Vaksin Ilegal, Polisi Tangkap Pegawai Kelurahan

Dijelaskan Taufan, dari 11 kali pemakaman Covid-19 yang pernah ditangani sejak tahun 2020. Ia baru menerima pembayaran tiga kali. "Ada 11 kali pemakaman corona, hanya dibayar 3 kali yang lainnya belum terbayarkan, itu sudah sejak 2020 lalu," ucapnya.

Ironisnya, dari pencairan tiga kali tersebut, satu kali menerima potongan dengan alasan administrasi sebesar Rp100 ribu, untuk pemakaman Covid-19 pada 28 September 2020. Sedangkan dua kali penerimaan pembayaran yang penuh senilai Rp750 ribu untuk satu pemakaman dengan total Rp1,5 juta, yang dialokasikan untuk pemakaman pada 20 Maret 2020 dan 29 Maret 2021.

"Diantar Rp750 ribu, itu dipotong Rp100 ribu administrasi teken kwitansi ngasihkan fotokopi KTP, uangnya dikeluarkan dari petugasnya Rp650 ribu, Rp100 ribu, administrasi bilangnya, saya mau nggak ada, hanya administrasi langsung dipotong Rp100 ribu," paparnya.

Baca Juga: Tinjau Vaksinasi Massal di Muara Baru, Gubernur Anies: Pencapaian Jakarta di Atas Target 117%

Pria berusia 56 tahun baru menerima secara utuh saat dua kali yang baru cair beberapa bulan yang lalu. Di mana, anggaran tersebut diberikan oleh Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

"Resmi (dapat) Rp750 ribu (total) Rp1,5 juta, sampai sekarang belum turun baru 2 kurang 8, itu mulai jenazah pertama sampai ketiga, yang belum cair 2020, ada yang kepotong," tuturnya.

Selama hampir 1,5 tahun itu ia hanya menangani pemakaman jenazah Covid-19 sendiri dan tak ada yang membantunya. Bahkan Taufan mengisahkan juga turut membantu penurunan peti jenazah Covid-19 ke dalam lubang. Petugas dari UPT Pemakaman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang seharusnya membantu prosesnya dikatakan Taufan tak banyak membantu.

"Nggak ada yang bantu, saya sendirian. Akhirnya banyak orang-orang yang kasihan dengan saya, akhirnya dibantu ngambil air di sungai, yang menggali tetap saya di dalam lubang. Yang nurunkan petinya juga saya, petugas pemakaman telepon foto - foto, pulang, nggak apa-apa memang tugas saya. Saya galikan makam, kalau malam juga," terangnya.

"Saya nggak dapat uang, malah dapatnya fitnah. Ngurusi semua sendiri, hanya dibantu orang ngambil air, yang gali saya, kalau saya menggali yang menggali sendiri dua jam selesai, kalau banyak orang 3 jam nggali makam itu," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini