Polisi Tangkap Sindikat Peretas Internasional

Puteranegara Batubara, Okezone · Sabtu 04 September 2021 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 04 510 2466117 polisi-tangkap-sindikat-peretas-internasional-wbQFdHmTh9.jpg Polda DIY tangkap sindikat peretas internasional (Foto: istimewa)

JAKARTA - Ditreskrimsus Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap kasus penipuan peretesan atau hacked terhadap email perusahan oleh sindikat peretas internasional.

Para sindikat internasional ini menggunakan modus operandi Business Email Compromised (BEC) antar-negara.

Direskrimsus Polda DIY, AKBP Roberto Pasaribu mengungkapkan, kejahatan siber ini dikenal dengan modus BEC adalah peretasan (hacked) terhadap surel (email) milik perusahaan yang dipergunakan untuk korespondensi kegiatan usaha perusahaan korban dengan pihak lain di luar negeri.

Dia mengatakan bahwa para sindikat ini kemudian mengubah isi surat elektronik seolah-olah asli, dengan tujuan korban mengalihkan pembayaran uang ke rekening yang sudah dipersiapkan pelaku.

”Sindikat kejahatan ini melibatkan beberapa pihak dan bersifat jaringan internasional," kata Roberto dalam konferensi pers di Polda DIY, Sabtu (4/9/2021).

Baca juga: Masih di Bawah Umur, Tersangka Peretasan Situs Setkab Dipulangkan

Mantan Wadir Reskrimsus Polda Metro Jaya ini mengatakan bahwa dalam pengungkapan kasus ini, pihaknya menangkap perempuan MT (46), dengan sejumlah barang bukti berupa mobil dan buku tabungan serta sejumlah ATM.

Korban dalam praktek BEC ini adalah PT Pagilaran yang beralamat di Yogyakarta, PT Pagilaran yang bergerak di bidang ekspor bahan komoditi pangan teh curah beralamat di Yogyakarta, melakukan hubungan usaha dengan pihak asing yakni Good Crown Food/Global Tea, Ltd yang beralamat di Kenya, Afrika sejak Maret 2020.

Baca juga: Tips Aman dari Peretasan saat Gunakan Internet

MT membajak email perusahaan tersebut dan mengalihkan transfer uang perusahaan yang seharusnya ke rekening perusahaan yang dituju senilai Rp1,4 miliar lebih. Dari yang biasanya transaksi ke satu nomor rekening, diubah menjadi ke dua nomor rekening berbeda.

Transfer ke salah satu nomor rekening bank di New York, AS, ini sekitar Rp700 jutaan atau 48 ribu USD. Sementara, satu rekening lain memakai bank di Indonesia dengan nilai Rp600 jutaan.

"Kami sedang kerja sama menganalisa transaksi keuangan dengan Bareskrim Polri, Interpol, dan FBI. Dari hasil analisa itu kemudian kami menangkap MT sebagai tersangka," ujar Roberto.

Baca juga: Perusahaan Telekomunikasi T-Mobile Diretas, Data Pribadi 40 Juta Orang Bocor

Pihaknya menduga, MT bersekongkol dengan terduga otak kejahatan berinisial IG, WN Nigeria. Keduanya diduga sudah kenal sejak 2003. Menurut dia, IG memerintah MT mencari target sasaran perusahaan di Indonesia dan mengatur skema transaksi yang telah direncanakan.

"MT akan memberitahu ke IG apabila sudah melakukan transaksi. Mereka mengaburkan transaksi atau membuat transaksi keuangan perusahaan seperti terlihat wajar (lewat membajak surel)," ucap Roberto.

Baca juga: Retas Website KPU Jaktim, Pelaku Protes Pandemi dan Nilai Kepahlawanan

Roberto menyebut jaringan itu sebagai jaringan kejahatan internasional African Group. MT kini ditahan di Mapolda DIY. Sementara, IG juga ditetapkan jadi tersangka dan masih buron.

"Selain menjerat dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. juga menggunakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Ancamannya semua di atas 5 tahun," tutup Roberto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini