Presiden AS dan China Lakukan Pembicaraan Telepon Pertama dalam 7 Bulan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 10 September 2021 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 10 18 2469442 presiden-as-dan-china-lakukan-pembicaraan-telepon-pertama-dalam-7-bulan-YfCtSVNt7c.jpg Joe Biden yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat, berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing, 4 Desember 2013. (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Presiden China Xi Jinping telah berbicara dengan timpalannya dari Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan. 

Pernyataan Gedung Putih mengatakan kedua pemimpin telah "membahas tanggung jawab kedua negara untuk memastikan persaingan tidak mengarah ke konflik". Ini merupakan percakapan telepon kedua di antara mereka sejak Presiden Biden menjabat pada Januari 2021.

BACA JUGA: Beri Selamat kepada Joe Biden, Xi Jinping Harapkan AS dan China Win-Win 

Hubungan AS-China telah tegang, dengan bentrokan atas isu-isu seperti perdagangan, spionase dan pandemi.

"Kedua pemimpin melakukan diskusi luas dan strategis di mana mereka membahas bidang-bidang di mana kepentingan kita bertemu, dan bidang-bidang di mana kepentingan, nilai, dan perspektif kita berbeda," tambah Pernyataan Gedung Putih sebagaimana dilansir BBC.

"Diskusi ini, seperti yang dijelaskan oleh Presiden Biden, adalah bagian dari upaya berkelanjutan Amerika Serikat untuk secara bertanggung jawab mengelola persaingan antara Amerika Serikat dan RRC."

Penyiar negara China CCTV mengatakan panggilan telepon itu "terus terang (dan) mendalam", menambahkan bahwa percakapan itu telah mencakup "komunikasi strategis yang luas dan... masalah yang menjadi perhatian bersama".

BACA JUGA: Lakukan Pembicaraan Telepon Perdana, Biden dan Xi Jinping Bahas Covid-19 dan HAM 

"Apakah China dan AS dapat menangani hubungan mereka dengan baik ... sangat penting untuk masa depan dan nasib dunia," kata Xi, menurut laporan CCTV.

Pendahulu Biden, Donald Trump, lebih sering berinteraksi dengan Xi ketika dia pertama kali menjabat.

Dalam enam bulan pertama pemerintahannya, Trump berbicara dengan Xi dua kali melalui telepon, dan juga mengundang Presiden China ke Mar-a-Lago, klub pribadi Trump, di mana keduanya mengadakan pembicaraan secara langsung.

Seorang pejabat senior Gedung Putih pada Jumat (10/9/2021) mengatakan panggilan itu datang atas permintaan Presiden Biden, yang menjadi "jengkel" oleh keengganan pejabat tingkat bawah China untuk mengadakan pembicaraan substantif dengan pemerintahannya.

Awal tahun ini, pembicaraan tingkat tinggi antara pemerintahan Biden dan China penuh dengan ketegangan - dengan para pejabat di kedua belah pihak saling menegur dengan tajam.

Para pejabat China menuduh AS menghasut negara-negara "untuk menyerang China", sementara AS mengatakan China telah "datang dengan niat untuk bertindak pongah".

'Hak asasi manusia dan campur tangan'

Ada beberapa masalah utama yang dipermasalahkan oleh dua raksasa ekonomi tersebut - dengan hak asasi manusia dan demokrasi sebagai poin utama. 

AS menuduh China melakukan genosida terhadap penduduk Uighur di Provinsi Xinjiang. Ia juga mengatakan Beijing menginjak-injak hak-hak demokrasi di Hong Kong dengan undang-undang keamanan yang baru-baru ini diperkenalkan yang menurut para kritikus digunakan untuk menindak perbedaan pendapat.

Sementara itu, China telah berulang kali mengatakan kepada AS untuk berhenti mencampuri apa yang dianggap Beijing sebagai urusan dalam negerinya dan menuduh Washington "menodai" Partai Komunis yang berkuasa.

Ada juga masalah perdagangan. Kedua negara telah terkunci dalam pertempuran perdagangan yang dimulai pada 2018 di bawah Presiden Donald Trump.

AS telah mengenakan tarif lebih dari USD360 miliar barang-barang China, dan China telah membalas dengan tarif lebih dari USD110 miliar produk AS.

Biden belum menarik kembali pesan perdagangan yang keras ke Beijing dari pendahulunya - sesuatu yang membuat marah China.

Selain itu ada juga isu terkait Laut Cina Selatan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi titik nyala antara China dan negara-negara lain di kawasan yang mengklaim kedaulatan atas dua rantai pulau yang sebagian besar tidak berpenghuni, Paracel dan Spratly.

China mengklaim sebagian besar laut, tetapi negara-negara tetangga yang memiliki klaim bersaing dan AS tidak setuju. Terlepas dari oposisi, Beijing terus memperluas kehadiran militernya di daerah itu sambil mempertahankan bahwa niatnya damai.

Ketegangan antara kedua negara juga bisa terlihat terkait isu Afghanistan. China telah berulang kali mengkritik AS karena penarikannya dari Afghanistan.

Awal pekan ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin sekali lagi mengecam AS, dengan mengatakan pasukan mereka telah "menimbulkan malapetaka".

Dia juga menuduh AS menimbulkan "kerusakan serius pada rakyat Afghanistan".

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini